Wawancara Mouly Surya: Ironi kultur dalam Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Marlina si Pembunuh dalam empat babak Hak atas foto Cinesurya

Seorang janda muda dengan brutal membalas dendam kepada para 'penindas'-nya dalam cerita empat fragmen yang provokatif dan menakjubkan secara visual.

Namun, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak bukan hanya sekedar drama soal balas dendam atau kekerasan terhadap perempuan di wilayah pedalaman dengan sosio-kultur yang patriarkis.

Sederhananya, film karya sutradara wanita Mouly Surya ini menyerupai dari film-film Spaghetti Western besutan sutradara Sergio Leone atau film-film terbaru sutradara Quentin Tarantino.

Film-film sub genre ini biasanya menampilkan moralitas sederhana dan menekankan kerasnya kehidupan di gurun kering dan tandus di Amerika Serikat -lengkap dengan scoring film yang kental akan nuansa koboi, namun kali ini jagoannya adalah wanita dengan latar belakang perbukitan yang sepi dan indah di Indonesia.

Mouly Surya -sutradara wanita berusia 36 tahun- dianggap sebagai pionir genre film baru, Satay Western, seperti yang disebut Variety dalam reviewnya.

Di film ketiganya ini, Mouly memotret kehidupan wanita Sumba yang ditindas oleh sekelompok pria dengan parang dan pedang, yang secara angkuh menenun budaya patriarki, dan secara klimaks, berhasil memutarbalikkan keadaan.

Hak atas foto Cinesurya

Tak heran, film ini berhasil menyita perhatian di kancah festival film internasional, seperti Vancouver International Film Festival, Sitges International Fantastic Film Festival, Busan International Film Festival, dan mendapat sambutan hangat dari penonton di Quinzaine des réalisateurs (Directors' Fortnight) yang berlangsung paralel dengan Cannes Film Festival 2017.

Film ini dibuka dengan pemandangan padang sabana di Sumba.

Seorang pengendara motor, Markus (Edi Fedly) berhenti di sebuah rumah yang dihuni janda muda bernama Marlina (Marsha Timothy) yang tinggal sendirian. Markus memberitahu Marlina bahwa kawanan banditnya akan merampok uang dan ternaknya dan, "kalau masih punya waktu, tidur dengan kau, kita bertujuh."

Semua ini dilakukan di depan mayat suaminya yang sudah berbentuk mumi -sesuai prosesi kematian Marapu, kepercayaan lokal yang dianut di Pulau Sumba, jenazah diawetkan dalam posisi jongkok (seperti posisi janin dalam rahim ibu, yang memiliki makna lahir baru).

Kehadiran kematian yang duduk di sudut ruang tamu menciptakan kengerian mengungkapkan status Marlina yang sendirian dan tidak ada yang 'memberinya perlindungan'.

Terpojok, Marlina dengan gagah berani membalikkan keadaan. Senyum bengisnya mengembang ketika empat perampok tumbang satu per satu karena racun dalam sop ayam yang ia hidangkan kepada para 'tamu'-nya.

Hak atas foto Cinesurya

Tak hanya itu, Marlina tanpa tedeng aling-aling menebas leher Markus dengan parang ketika bos bandit ini menyetubuhinya.

Marlina -sang korban pemerkosaaan- kemudian harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mengadukan penderitaannya kepada polisi.

Dalam perjalanannya hadir Novi (Dea Panendra) yang sepanjang film berkeluh kesah tentang beratnya stigma terhadap perempuan yang sudah hamil hampir 10 bulan, tapi tak kunjung melahirkan juga, serta mama penumpang (Rita Matu Mona) yang menceritakan betapa krusial kehadirannya dalam mahligai rumah tangga ponakannya.

Tak sedikit pun terbesit ketakutan dari wanita-wanita ini ketika melihat Marlina menjinjing kepala Markus. Sebaliknya, segerombolan pria ketakutan dan terbirit-birit kabur dari bak truk yang membawa mereka dalam perjalanan ketika melihat Marlina dan kepala Markus.

Hak atas foto Cinesurya

Kontradiksi diumbar Mouly sepanjang film. Termasuk ketika sampai di kantor polisi, ia mendapati si polisi (Ozzol Ramdan) justru menganggap enteng penderitaan yang baru saja dilaluinya, atau ketika Novi harus mati-matian meyakinkan suaminya untuk tidak mempercayai mitos soal hamil tua, namun justru mendapat 'bogem mentah'.

Secara gamblang, Mouly memotret ironi kultur patriarki dalam kondisi sosial pedalaman Indonesia dalam besutan genre western, yang secara mengejutkan, mudah dinikmati.

Berikut wawancara BBC Indonesia dengan Mouly Surya soal film terbarunya, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.


Film ini dilihat dari sisi ceritanya mengupas tentang kekerasan terhadap perempuan di kawasan terpencil Indonesia, tapi Anda mengemasnya dengan genre koboy. Bagaimana proses kreatifnya?

Jadi waktu pertama kali mendapatkan cerita ini dari Mas Garin [Nugroho], waktu itu kami sama-sama menjadi juri di sebuah festival film dan waktu dia langsung ngedatengin saya bilang, "Mouly, Mouly, kita bikin film baru yuk!" dan dia memberikan saya cerita ini, soal seorang perempuan yang mengalami sebuah musibah dan dia memenggal kepala ketua dari perampok ini dan membawa kepala tersebut ke kantor polisi.

Dia menceritakan di tengah-tengah bioskop dan saya sangat terkesima pada saat itu, dan keesokan harinya dia mengirimkan saya sinopsis ini.

Di titik ini saya belum pernah ke Sumba sama sekali dan belum kebayang seperti apa filmnya dan seperti apa Sumba itu. Paling cuma lihat foto-fotonya doang.

Terus ketika saya ke sana, melihat alamnya seperti itu, lalu melihat kembalinya ceritanya: seorang wanita sendirian, seorang lone hero yang sangat western dan saya mulai tuh kepikiran, apa dibikin sebagai genre Western, karena film-film kawasan terpencil kan cukup banyak, ya di Indonesia. Tapi saya ingin mencari cara bagaimana membuat film-film seperti ini lebih mudah dicerna oleh publik internasional.

Juga untuk kita yang di Jakarta, meskipun kita adalah publik nasional, tapi tinggal di kota-kota besar. Bagaimana caranya membuat mereka lebih relate -bisa terhubung- dengan sama karakter-karakter yang ada di film ini dengan sistem kemasyarakatan di sana yang mungkin berbeda dengan sistem di kota-kota besar.

Dan saya rasa genre western ini adalah jembatan yang paling cocok untuk menjembatani hal tersebut sehingga membuat filmnya lebih accessible, lebih mudah dinikmati dan secara perlahan kalau seandainya dikupas lagi bisa, karena sebenarnya film ini sangat simple jalan ceritanya, cara bertuturnya sangat mudah dimengerti. Tapi kalau seandainya penonton mau mengupas lebih, sangat bisa.

Hak atas foto Cinesurya

Film ini dianggap sangat kental dengan atmosfer yang dibawa film-film Quentin Tarantino. Apa ini juga menjadi salah satu inspirasi Anda?

Justru enggak sih menurut saya. Karena film-film Quentin Tarantino itu kan sebenarnya modelnya sangat post-modern, maksudnya kalau kita bicara soal film Spaghetti Western, [karya-karya] Sergio Leone, Quentin Tarantino berangkat dari situ. Dia memang tipe film maker yang mereproduksi, menginterpretasi ulang. Dan memang film seperti Marlina, mungkin kalau Quentin Tarantino ke Indonesia, dia akan membuat film yang seperti Marlina.

Tapi menurut saya, kalau seandainya mungkin melihat dari gayanya bercerita sangat berbeda ya.

Bagaimana pun, film Marlina ini mungkin lebih cocok disamakan dengan film-film samurai dari Jepang dibanding film-film Quentin Tarantino. Tapi memang ada tampilan orang-orang langsung bilang "Oh iya, Quentin Tarantino." Karena bagaimana pun genre western ini memang di abad sekarang ini memang dipopulerkan oleh Quentin Tarantino. Hampir sudah tidak ada lagi yang membuat dan mempopulerkan [genre western] sepopuler Quentin Tarantino.

Anda belum pernah ke Sumba sebelumnya. Lalu bagaimana kerumitan proses produksi di sana dibanding dua film Anda sebelumnya?

Waktu itu kita riset dulu. Mas Garin kasih saya cerita di akhir 2014, dan selama tahun 2015 kita riset serius dalam menggarap skenario dan sekaligus ikut project market di beberapa festival film internasional untuk mendapatkan co-production partner dan juga mencari pendanaan untuk film ini.

Dan ketika Kaninga Pictures bersedia untuk menjadi salah satu investor kita yang pertama, mereka sangat mendukung film ini, kita mulai berproduksi di akhir tahun 2016.

Hak atas foto Cinesurya

Dengan setting Sumba, film ini juga menampilkan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Marapu. Anda sengaja menampilkan sisi lain Indonesia?

Pastinya.

Apalagi sangat menarik ketika ini dilihat dari kacamata orang di luar Indonesia karena dengan image orang Indonesia yang 80 persen Muslim dan kalau ngebayangin Indonesia itu kayahutan tropis terus ada orangutan di atas pohon, sedangkan film ini memberikan image yang lain.

Menurut saya ini justru menarik karena menunjukkan keberagaman bangsa kita dan bangsa kita adalah bangsa kepulauanyang memang setiap pulau itu nggak sama.

Film ini memunculkan berbagai kontradiksi, seperti ketika Marlina dengan mudahnya menghubungi Novi via telepon gengam, tapi butuh waktu berjam-jam untuk mencapai kantor polisi. Atau Marlina dtampilkan sebagai sosok lone wolfyang pendiam, tapi sekelilingnya penuh dengan 'kebisingan'.

Kurang lebih begitu.

Menurut saya itu memang potret masyarakat kita sekarang, terutama di Indonesia. Semua orang punya smartphone, tapi akses masih sangat sulit. Di Sumba sendiri itu, ketika saya kesana, ada sinyal 4G, tapi cari air itu susah.

Ada banyak kontradiksi di masyarakat-masyarakat kita dan memang kebetulan saya memang dalam pembuatan film saya suka menunjukkan kontradiksi-kontradiksi itu, seperti ada kematian dan kelahiran di satu ruangan yang sama.

Berita terkait