'Jihad cinta' di India, Mahkamah Agung turun tangan

Shafin dan Hadiya Jahan Hak atas foto HINDUSTAN TIMES
Image caption Hadiya mengaku masuk Islam berdasarkan kesadaran sendiri, untuk menikahi Shafin, yang dikenalnya melalui sebuah situs pernikahan.

Seorang perempuan India yang sedang jadi pusat sengketa akibat pindah agama untuk menikah, dapat membebaskan diri dari hak asuh ayahnya dan melanjutkan studinya, demikian keputusan Mahkamah Agung.

Hadiya Jahan, yang berusia 20-an, lahir di sebuah keluarga Hindu, namun kemudian masuk Islam dan menikahi seorang pria Muslim.

Keluarganya menuduh bahwa Hadiya dicuci otaknya sebagai bagian dari konspirasi komplotan anti-Hindu.

Pada bulan Mei lalu, pernikahannya dibatalkan.

Namun kini, Mahkamah Agung menolak dalil yang diungkapkan sebelumnya, bahwa Hadiya dia tidak sadar pada pikirannya sendiri. Betapa pun MA masih belum menjatuhkan putusan tentang apakah pernikahan itu legal.

Perkawinan antara orang-orang Hindu dan Muslim sejak lama ditentang di kalangan keluarga India konservatif. Namun belakangan hal itu dipertajam pula pandangan-pandangan keagamaan yang makin mengeras.

Hadiya Jahan, yang sebelumnya dikenal dengan nama Hindu Akhila Asokan, berulang kali menegaskan bahwa semua tindakannya, untuk masuk Islam dan menikah dengan pria Muslim, adalah merupakan kehendak bebasnya sendiri.

Dia meminta Mahkamah Agung untuk menetapkan suaminya, Shafin Jahan, sebagai wali. Tapi pengadilan menunjuk dekan di univerdsitasnya sebagai wali, sementara kasus terus berlanjut.

Kelompok-kelompok radikal Hindu menjuluki kasus ini sebagai contoh khas 'jihad cinta' - sebuah istilah yang mereka gunakan untuk menuduh pria Muslim melakukan suatu "persekongkolan untuk memurtadkan perempuan Hindu agar meninggalkan agama mereka, dengan cara melancarkan rayuan asmara."

Jahan dan suaminya mengajukan banding atas pengadilan tinggi di negara bagian Kerala beberpa waktu lalu, yang membatalkan pernikahan mereka. Mahkamah Agung memerintahkan dilakukannya suatu penyelidikan independen.

Hadiya dipanggil untuk memberi kesaksian oleh pengadilan tinggi mengenai apakah dia telah dipaksa untuk pindah agama.

Jahan mengatakan kepada majelis yang beranggotakan tiga yang dipimpin oleh Ketua Dipak Misra, bahwa dia menginginkan kebebasan dan ingin hidup bersama suaminya, yang akan memberinya nafkah.

"Saya ingin menyelesaikan studi saya dan ingin menjalani hidup sesuai dengan iman saya dan sebagai warga negara yang baik," katanya, seperti dilaporkan Hindustan Times.

Dia juga mengatakan bahwa dia telah ditahan selama 11 bulan oleh orang tuanya dalam "hak asuh yang tidak sah."

Pengadilan menggugurkan hak asuh ayahnya terhadapnya dan mengatakan bahwa Hadiya bisa tinggal di asrama universitas untuk menyelesaikan pendidikannya. Para hakim juga memerintahkan perlindungan polisi untuknya.

Sidang berikutnya dijadwalkan berlangsung pada akhir Januari tahun depan.

Bagaimana kasus ini bermula?

Pada Januari 2016, Hadiya Jahan, 23 tahun, sebelumnya dikenal dengan nama Hindu-nya, Akhila Asokan, pindah agama ke Islam. Pada saat itu dia tinggal bersama dua perempuan Muslim yang merupakan teman sekelasnya.

Dia belajar di Negara Bagian Tamil Nadu pada saat itu. Orang tuanya tinggal di negara bagian tetangga Kerala.

Ayahnya, KM Asokan, mendatangi pengadilan dalam upaya menemukannya karena menurutnya, dia berhenti berkomunikasi dengan orang tuanya saat kuliah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kelompok radikal Hindu telah mengadakan beberapa protes terhadap apa yang diduga sebagai gerakan 'jihad cinta'.

Saat orang tuanya mengetahui bahwa dia telah masuk Islam, Asokan mengajukan petisi ke Pengadilan Tinggi Kerala, menuduh bahwa anak mereka telah dipaksa berpindah agama dan ditahan melawan kehendaknya.

Namun Hadiya mengatakan ke pengadilan bahwa dia memutuskan untuk pindah agama karena dia terkesan dengan dua teman Muslimnya berdoa dan mempraktikkan Islam. Jadi pengadilan memutuskan bahwa dia bebas melakukan apa yang dipilihnya, karena tidak ada bukti "penahanan ilegal" seperti yang dituduhkan Asokan.

Namun Asokan mengatakan kepada BBC bahwa anaknya telah "dicuci otaknya" oleh teman-teman serumahnya dan orang-orang yang mereka kenal.

"Mereka ingin mengirimnya ke Suriah," katanya. "Saya mengetahui hal itu saat dia mengatakan ke saya lewat telepon. Saya merekam pembicaraan itu dan melaporkan kasus itu."

Asokan kembali banding ke pengadilan tinggi pada Agustus 2016 mengklaim bahwa dia yakin Hadiya akan pergi ke luar India.

Selama persidangan kasus kedua, Hadiya telah menikah dengan seorang pria Muslim, Shafin, yang dia temui dalam sebuah situs pernikahan.

Kali ini, majelis hakim yang berbeda memutuskan untuk mendukung Asokan, dengan membatalkan pernikahan Hadiya dan mempertanyakan apakah perpindahan agama Hadiya dilakukan secara sukarela.

"Ini bukan kasus jihad cinta. Ini adalah kasus paksaan,'' kata pengacara Asokan, C Ravindran. Dia dipaksa pindah agama pada Januari, kata Ravindran, namun dia menikah pada Desember.

Topik terkait

Berita terkait