Perempuan yang menikahi pejihad ISIS, lalu kabur dan mengubah diri

Tania Georgialas with and without the Islamic veil
Image caption Tania tak lagi mengenakan nikab.

Tania Georgelas, ibu dari empat anak, tampak seperti perempuan normal lainnya di Texas, AS, tempat dia tinggal. Namun sampai tiga tahun lalu, dia berada di medan perang Suriah, menikah dengan petinggi ISIS.

Tania Georgelas, yang berusia 33 tahun, besar di Harrow, sebuah kawasan kelas menengah di pinggiran London.

Para sahabatnya mengingatnya sebagai seorang 'remaja pada umumnya.' Dia terkadang tampak punya pacar, dan membolos dari sekolah.

Dia juga tidak dikenal relijius, tak juga terlibat dalam politik. Namun itu semua mulai berubah ketika dia berusia 17 tahun.

Dia beralih ke agama.

Tak pernah dia menyangka bahwa pertemuannya dengan ekstremisme Muslim akan membawanya ke Suriah yang dicabik perang sebagai istri tokoh terkemuka kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Dia sekarang kembali tinggal di AS, bukan lagi perempuan ekstrimis seperti beberapa tahun lalu.

"Saya ingin menjadi seseorang yang saleh"

Dia berbicara dengan wartawan BBC, Rickin Majithia tentang perjalanan hidupnya yang penuh gejolak.

Hak atas foto Tania Georgelas
Image caption Tania berkata di masa remajanya, temannya yang seorang ekstrimis memberinya semacam rasa memiliki.

"Saya hanya ingin mengubah jati diri saya waktu itu," ujarnya.

"Saya tidak mau menjadi Tania dari Harrow lagi saat itu. Saya mau menjadi seorang yang saleh, seseorang yang orang tidak menjulukinya sebagai perempuan jalang."

Pada usia remaja dan awal 2000an, Tania bergaul dengan bermacam kelompok muslim radikal di London.

Dia mengatakan bahwa agama memberinya struktur yang dia butuhkan dalam kehidupan, dan rasa memiliki.

"'Seperti sebuah keluarga atau komunitas yang merangkul saya, sepanjang saya mematuhi rasa nyaman mereka dalam keislaman."

Tania berasal dari latar belakang Inggris-Banglades.

Jendela-jendela yang dipecahkan

Dalam sebuah wawancara kepada majalah AS The Atlantic, dia berbicara tentang kesulitan tumbuh dewasa di London. Ia menggambarkan keluarganya sebagai ''imigran generasi kedua yang menderita berbagai bentuk rasisme''.

Mereka memiliki tetangga yang buruk, dan jendela mereka sering dipecahkan. ''Saya lalu mencari cara untuk membalas, dan saya ingin memperoleh lagi martabat saya, '' kata Tania.

Hak atas foto Sean Gallup/Getty
Image caption Para khotib sering berkisah pada Tania tentang pembantaian Srebrenica, saat lebih dari 8.000 Muslim Bosnia terbunuh pada tahun 1995

Teman-teman barunya mengubah cara dia memandang dunia.

"'Pikiran kami hanya dipenuhi dengan gambar-gambar yang menyeramkan itu. Mereka memberi contoh tentang apa yang terjadi di Srebrenica dan Bosnia. Mereka membuat kami menderita rasa bersalah bersama ini. Karena kami adalah umat, dan adalah tugas kami untuk melakukan sesuatu. ''

Sesuatu yang dimaksud, Tania tahu, adalah jihad.

''Saya memandang takjub kepada al Qaeda, Taliban, siapa pun yang tampak melindungi umat Islam, melindungi kehormatan kaum Muslimin. ''

Kehilangan seorang teman

Ketika pelaku bom bunuh diri menyerang sistem transportasi London pada tanggal 7 Juli 2005, satu dari 52 orang yang terbunuh adalah Shahara Islam, teman sekelas Tania di sebuah kursus tentang hukum.

Dia mengatakan bahwa hal itu membuat dia depresi. Tapi meski kehilangan sahabat, Tania memberi pembenaran pada serangan tersebut pada saat itu.

''Jika seorang Muslim yang tidak terkait meninggal dunia, maka seorang non-Muslim yang tidak tidak terkait meninggal dunia juga. Begitulah cara kami membenarkan serangan itu. Ini salah, tapi begitulah cara berpikir saya pada saat itu. ''

Hak atas foto AFP
Image caption Tania kehilangan teman sekelasnya dalam serangan bunuh diri di London pada 2005

Pada saat serangan London terjadi, Tania sudah menikah dengan John Georgelas, warga Amerika yang pindah ke agama Islam. Mereka saling kenal secara online.

"Dia sangat cerdas. Dia menawan," ujarnya. "Dia adalah cinta pertama saya. Kami adalah sahabat baik."

Kehidupan pernikahan mereka mewujud lantaran mereka sama-sama menganut nilai-nilai ekstremis.

Memiliki keraguan

Dia berpikir bahwa sumbangannya nanti terhadap perjuangan suci adalah ''melahirkan anak laki-laki yang akan tumbuh sebagai tentara mujahidin, atau ilmuwan dan akademisi ''.

Mereka pindah ke Amerika Serikat dan punya anak. Setelah gejolak Musim Semi Arab di tahun 2011, keluarga itu pindah ke Mesir.

John menganggap Mesir adalah tempat yang ideal untuk membesarkan anak laki-laki mereka sebagai pejihad, tapi Tania mulai ragu.

Hak atas foto Tania Georgelas
Image caption John Georgelas, mantan suami Tani, lahir di Texas dan anak dari pensiunan dokter militer AS

"Suatu hari, entah mengapa, salah satu anak laki-laki saya pulang membawa sebuah granat yang ditunjukkan kepada saya. Saya rasa bukan granat aktif, tapi saya naik pitam dan mengambil pisau dapur, menghunusnya ke arah ke arah John. Saya mengatakan kira-kira, 'Jangan pernah lakukan ini lagi. Saya tidak ingin anak-anak saya dekat dengan hal-hal ini, saya tidak mau mereka dekat dengan senjata.'

Pada tahun 2013, John memutuskan untuk memindahkan keluarga tersebut ke Suriah.

Saat itu, Tania sedang mengandung anak keempatnya.

"Bangunan tempat saya tinggal adalah rumah yang ditinggalkan mantan militer. Jendela-jendela telah hancur, dan setiap malam saya terbiasa mendengar tembakan. ''

Setelah tiga minggu di Suriah, Tania memohon agar John membiarkannya pergi.

Melarikan diri dari Suriah

"Berat sekali. Perkawinan saya hancur. Saya tidak tahu harus berbuat apa. ''

Hak atas foto Tania Georgelas
Image caption Tania dan mantan suaminya membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi mujahidin.

John setuju dan membantu dia dan anak-anaknya kabur.

"Banyak peluru. Sepertinya para penembak jitu di menara itu menembaki, dan kita bisa melihat peluru melayang kemana-mana, dan saya ingat pernah menyelusupkan anak-anak saya melalui kawat berduri ke kamp pengungsi. Sangat menakutkan."

John tinggal di Suriah dan kemudian bergabung dengan apa yang disebut ISIS. Kelompok ini menguasai sebagian wilayah Suriah dan Irak, dan membunuh ribuan orang. Pada 2017, ISIS kehilangan sebagian besar wilayahnya, namun masih terlibat dalam berbagai serangan teror.

Setahun setelah terakhir kali mendengar kabar dari John, Tania tidak tahu apakah dia masih hidup.

Keluar dari Islam

"Hal terakhir yang dia katakan kepada saya - pesan terakhir - adalah dia meminta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan terhadap saya dan anak-anak. Bahwa dia berdoa agar kami menjadi Muslim, dan jika saya tidak mendengar kabar darinya dalam enam bulan, kemungkinan besar karena dia sudah mati, karena dia harus bertempur, dan pertempuran semakin dekat ke tempat dia tinggal. ''

Sekarang Tania tinggal di Texas dan telah meninggalkan Islam.

Hak atas foto Tania Georgelas
Image caption Dia bercerai dengan John Gergelas setelah kembali ke AS

Dia berkata bahwa dia merasa lega ketika dia kembali ke AS.

"Perubahan yang menyenangkan dan ini memberi saya kesempatan untuk membaca saja hal-hal lain, dan bukan hanya fokus pada satu topik di satu bidang, Islam belaka. Saya harus mengenali semua agama yang berbeda. Saya memiliki kebebasan untuk berpikir - itulah yang diberikan Amerika kepada saya - tanpa rasa takut."

Tania telah menceraikan John. Dia bertemu tunangan barunya, Craig, di tahun 2015.

Kesempatan kedua di AS

"Saya menyesali pilihan yang telah saya buat, terutama menyangkut anak-anak saya. Andai saja waktu itu saya memiliki rencana yang lebih baik untuk mereka. Saya harap saya sudah memberi mereka gaya hidup yang stabil."

Sekarang, anak-anak Tania tampak sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan Amerika, namun Tania kehilangan hak asuhnya saat kembali ke AS. Mereka kini dirawat oleh orang tua John.

Tania mengatakan bahwa dia bertekad memperbaiki kesalahannya.

Image caption Tania berkata bahwa dia sudah belajar dari kesalahannya

"Saya ingin mendapat karir yang membuat saya bisa membantu merehabilitasi kaum ekstrimis, kaum radikal - memberi mereka perasaan sebagai bagian dari masyarakat dan memberi mereka keterampilan dan pendidikan, sehingga bisa diintegrasikan ke dalam masyarakat dan menjadi warga negara yang baik."

Yang sekarang dilakukannya adalah mendidik dirinya sendiri melawan ekstremisme.

"Para pejihad perlu didengar. Karena jika kita tidak tahu argumen mereka dan seberapa buruk argumen mereka, kita tidak akan bisa mendiskusikan dan menolaknya. Menurut saya, pengetahuan akan membebaskan orang dari anggapan bahwa perang dan jihad dan kekerasan akan membawa pada kemajuan. Itu salah."

"Perang, jihad, tidak akan mencapai tujuan apa pun.''

Topik terkait

Berita terkait