Festival Sail Sabang ‘bukti Aceh damai dan tenteram’

sail sabang Hak atas foto Hidayatullah/BBC Indonesia
Image caption Belasan kapal tradisional milik warga telah disiapkan untuk mengikuti parade Sail Sabang 2017.

Untuk kesembilan kalinya, Festival Sail Sabang berlangsung di Pulau Weh, Provinsi Aceh.

Dalam acara puncak pada Sabtu (2/12), Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, mengatakan Sail Sabang merupakan ajang promosi Aceh kepada dunia guna menarik para investor.

"Ini sebagai bukti bahwa masyarakat Aceh damai dan tenteram, di sini para investor bisa datang untuk berinvestasi," kata Jusuf Kalla, sebagaimana dilaporkan wartawan di Sabang, Hidayatullah, untuk BBC Indonesia.

Hak atas foto Hidayatullah/BBC Indonesia
Image caption Acara puncak Festival Sail Sabang berlangsung pada 2 Desember di Pulau Weh, Provinsi Aceh.

Secara terpisah, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Sail Sabang 2017 merupakan acara terbesar dari sembilan kegiatan serupa sebelumnya. Dia mengharapkan acara tersebut dapat menarik 20.000 wisatawan yang 3.000 di antaranya merupakan turis asing.

Sementara itu Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, mengungkap bahwa di kawasan pelabuhan Sabang sudah banyak acara internasional yang berlangsung dan diupayakan menjadi wisata bahari dunia.

"Sail Sabang merupakan harapan terbesar masyarakat Aceh untuk promosi dan investasi di wilayah ini," jelas Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Hak atas foto Hidayatullah/BBC Indonesia
Image caption KRI Bima Suci, yang merupakan kapal latih Akademi Angkatan Laut ini besandar selama lima hari di Pelabuhan Sabang, Provinsi Aceh, untuk mengikuti festival Sail Sabang 2017.

Dua kapal bertiang besar

Selain diramaikan dengan beragam kesenian Aceh, Festival Sail Sabang kian meriah oleh kehadiran KRI Bima Suci dan KRI Dewa Ruci.

KRI Bima Suci merupakan kapal layar latih pengganti kapal legendaris KRI Dewa Ruci yang sudah beroperasi sejak 1953. Sekilas keduanya mirip, tapi kenyataannya jauh berbeda.

KRI Dewaruci dengan panjang 53,5 meter, 16 layar, dan tonase 847 ton memakai teknologi manual sehingga sepenuhnya menuntut kemahiran navigasi para kru.

Sedangkan KRI Bima Suci bertonase 2.346 ton, panjang 111,2 meter, dan 26 layar memakai teknologi masa kini. Dalam berlayar, komandan kapal tersebut bisa memilih fungsi manual atau dibantu instrumen digital.

Hak atas foto Hidayatullah/BBC Indonesia
Image caption KRI Dewa Ruci yang sudah beroperasi sejak 1953 telah digantikan oleh KRI Bima Suci. Sekilas keduanya mirip, tapi kenyataannya jauh berbeda.

KRI Dewaruci merupakan kapal baru pertama TNI AL yang dibeli memakai uang negara. Setelah penandatangan kontrak pembelian pada 1952, pembangunan badan kapal dilaksanakan pada tahun itu juga di galangan kapal Stulcken und Sohns, Hamburg, Jerman Barat, dan seluruh konstruksi kapal dan tiang-tiang selesai pada 1953.

Teluk Sabang di Pulau Weh, Aceh, menjadi kota pertama di Tanah Air yang disambangi KRI Dewaruci pada masa itu.

Adapun KRI Bima Suci merupakan kapal layar buatan perusahaan kapal ternama Spanyol yang berlokasi di Kota Vigo, Freire Shipyard. Setelah rampung dibuat, kapal itu bertolak ke Indonesia pada 18 September dan sampai di Jakarta pada 16 November lalu.

Berita terkait