Seks-somnia: Pacar saya memperkosa ketika dia sedang tidur

Sexsomania Hak atas foto Science Photo Library
Image caption Pasien penderita seks-somnia dengan peralatan elektroda untuk memantau gelombang yang ada dalam otak.

Berjalan atau berbicara sambil tidur, 'melindur' dan sejenisnya sudah biasa, namun hanya sedikit dari kita yang tahu tentang kasus-kasus langka seperti pria yang ketika tidur mencoba melakukan hubungan seks dengan paksa.

Saat Sarah dan Tom (bukan nama sebenarnya) pertama kali bertemu di rumah seorang teman, mereka langsung merasa cocok. Tom adalah orang yang hangat, senang mengobrol, dengan selera humor lembut yang mengingatkan Sarah pada kakaknya.

Beberapa minggu berikutnya, mereka pergi berkencan dan sering jalan bersama. Kadang Sarah menginap di flat Tom, ataupun sebaliknya, Tom datang ke tempat Sarah.

Mereka makin dekat. Suatu waktu, terjadi peristiwa ketika mereka tidur, yang membuat Sarah merasa tidak nyaman.

Tom mulai meraba payudaranya, lalu dengan cepat mulai mendorong pangkal pahanya dengan cara kasar dan tidak biasa. Kejadian itu berlangsung di hari-hari awal hubungan mereka.

Namun Sarah memutuskan untuk tidak mengungkapkannya.

"Saya pikir ia hanya sedikit agresif, jadi saya melupakannya saja. Mungkin dulu selalu terjadi padanya."

Perlahan-lahan, mereka menjadi semakin dekat, dan menjalani rutinitas seperti makan di luar, menonton di bioskop dan berjalan-jalan. Mereka menikmati kebersamaan dan Sarah pun sudah menyingkirkan kekhawatirannya akan episode nokturnal yang aneh itu.

Tapi suatu malam, pulang dari sebuah pesta, mereka mabuk, mendadak Sarah terbangun dari tidur nyenyaknya karena Tom mencoba memasukkan alat vitalnya lewat pakaian dalam Sarah.

Hal itu menyakitkan dan mengganggu. Keesokan harinya, Sarah mengatakan bahwa ia tak bisa membiarkannya lagi dan ingin mengakhiri hubungannya. Namun reaksi Tom mengejutkannya.

"Ia tidak tahu apa yang saya bicarakan, dan cukup defensif. Saya benar-benar marah karena ia membangunkan paksa saya dengan cara itu namun sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukannya," kata Sarah.

Tom bersikeras bahwa ia sama sekali tidak ingat apakah ia mencoba untuk berhubungan seks dengan Sarah malam itu. Tom merasa terpukul dengan apa yang didengarnya dari Sarah, dan bahwa ia menyakiti Sarah.

Sarah tidak tahu harus bagaimana lagi. Tom yang biasanya lembut, intim, sensual saat melakukan hubungan seks, malam itu berubah menjadi kasar.

Tapi ia ingat Tom pernah mengatakan sesuatu saat mereka pertama kali bertemu, sebelum mereka mulai menjalin hubungan. Ia menceritakan beberapa tahun yang lalu, ia ditahan karena memperkosa mantan istrinya, Karen, dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.

Pemerkosaan itu terjadi saat ia tengah berkunjung ke rumah mantan istrinya untuk mengunjungi anak mereka. Tom dan Karen minum, lalu menonton. Tom langsung tertidur, tapi terbangun sekitar 45 menit kemudian karena Karen berteriak, "Apa yang kamu lakukan? Ini apa-apaan?"

Di tengah kebingungan dan terkejut dengan teriakan Karen, Tom mengambil semua barangnya dan meninggalkan apartemennya.

Tom mengatakan ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi saat ia tidur terlelap dan diteriaki Karen.

Sarah bertanya-tanya apakah tingkah laku Tom saat itu -yang tampaknya sangat tidak masuk akal- mungkin terkait dengan upayanya memaksa dirinya berhubungan seks baru-baru ini.

Ia mengingat kembali apa saja hal-hal aneh yang dilakukan Tom dalam tidurnya, seperti saat pertama kali ia tidur di rumahnya.

"Ia bangun di malam hari, hanya mengenakan celana panjang dan mengatakan ia akan pergi. Namun, kemudian di pagi hari ia tidak ingat apa yang dilakukannya semalam," katanya.

Berkonsultasi ke dokter

Sarah lantas menganjurkan Tom untuk berkonsultasi dengan dokter. Ia pun dirujuk ke klinik yang menangani masalah tidur di London. Di sana ia menghabiskan malam dengan alat elektroda yang menempel di kulit kepalanya untuk memantau aktivitas otaknya.

Apa yang dokter temukan memiliki dampak dramatis pada kehidupan Tom.

Hak atas foto Science Photo Library
Image caption Garis tak beraturan menunjukkan pergerakan mata selama REM (rapid eye movement) tidur.

"Kami menemukan sesuatu yang sangat tidak biasa dalam gelombang otaknya," kata Dr Guy Leschziner, konsultan ahli saraf yang menangani kasus Tom.

"Ia tampak terjaga dan tidur nyenyak dalam waktu bersamaan. Selama periode singkat ini, kita bisa melihat gelombang tidur nyenyak yang sangat lamban, dengan irama cepat yang bertumpuk, menunjukkan bahwa ia sudah bangun."

Berdasarkan temuan para dokter terhadap cara tidur Tom dan penjelasan Sarah tentang tingkah laku Tom yang suka tidur sambil berjalan membuat Leschziner mendiagnosa Tom dengan jenis kelainan tidur langka yang disebut sexsomnia.

Seks-somnia adalah kondisi yang terkait dengan tidur berjalan, dan teror di malam hari, saat orang-orang menunjukkan beberapa gejala seperti mimpi buruk, meskipun mereka tidak dalam fase bermimpi.

Semua bentuk kelainan tidur dikenal dengan nama "parasomnia", dan biasanya terjadi saat kita tidur nyenyak, kata Prof Meir Kryger dari Universitas Yale.

"Orang yang tidur sambil berjalan, tampak seperti bangun tapi sebenarnya tidak. Dan kita tahu ini dari pemantauan gelombang otak mereka," katanya.

Inilah bagian otak yang mengendalikan penglihatan, gerakan dan emosi yang tampak terjaga, kata Guy Leschziner.

"Sementara area otak yang terlibat dalam ingatan, pengambilan keputusan dan pemikiran rasional tampaknya tetap dalam keadaan tidur nyenyak. Jadi orang-orang dalam kondisi ini dapat berbicara, berjalan, makan, memasak, mengemudi atau bahkan berhubungan seks, tanpa kesadaran atau ingatan yang jelas."

Jadi, apakah diagnosis seks-somnia yang diidap Tom berpengaruh terhadap penahanannya dulu?

"Mustahil untuk membuktikan apakah kejadian pemerkosaan itu akibat gangguan tidur yang dialami Tom, karena tidak ada elektroda yang terpasang di kepalanya pada malam itu," kata Leschziner.

"Tom dinyatakan terbukti bersalah dalam persidangan."

Kasus-kasus kejahatan yang melibatkan sexsomnia

Tapi dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa kasus kejahatan yang penyebabnya diantaranya gangguan tidur seks-somnia, namun beberapa pelaku dibebaskan.

Hukum harus menentukan apakah seseorang memiliki niat jahat atau memang bertingkah seperti robot, yang tidak sadar dengan tindakannya.

"Ada kasus terkenal di Toronto, bahwa seorang pria masuk ke dalam mobil, mengemudi jarak jauh dan kemudian membunuh ibu mertuanya dan menyerang ayah mertuanya. Dan juri menetapkan bahwa ia melakukannya dalam keadaan tidur dan ia dinyatakan tidak bersalah, "kata Meir Kryger dari Universitas Yale.

"Ada kasus serupa di Arizona beberapa tahun yang lalu: seseorang membunuh istrinya, dan dalam kasus itu ia diduga tidur sambil berjalan, tapi ia dihukum."

Sulit untuk mengetahui dengan pasti apakah para terdakwa ini melakukan tindakannya karena sadar atau tidak, karena gelombang otak mereka tidak diukur saat melakukan serangan, kata Mike Kopelman, profesor neuropsikiatri di King's College London.

Jika dtemukan adanya bukti kesengajaan, motivasi, atau sadar, maka mereka dinyatakan bersalah, katanya.

Tapi jika tidak, mereka dianggap tidak bersalah.

"Harus dikumpulkan apa yang diketahui tentang riwayat kelainan tidur si pelaku di masa lalu dan apa situasinya dan juga temuan pada rekaman tidur. Itu mungkin tidak membuktikan ia sedang dalam keadaan parasomnia pada saat peristiwa yang dituduhkan, namun memberikan bukti yang menguatkan."

Sarah mengatakan diagnosis seks-somnia pada Tom memiliki efek mendalam pada dirinya, karena ia selalu yakin bahwa dirinya tidak sadar dan keliru didakwa melakukan perkosaan.

"Ia bahkan tidak tahu bahwa ia melakukan sesuatu yang aneh pada malam hari. Ia tidak bisa mengingatnya di pagi hari, "katanya.

Memang tidak ada obat untuk mengatasi gangguan tidur yang ekstrem ini, namun ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya hal tersebut.

Diantaranya mengenakan pakaian di tempat tidur, mengurangi sentuhan. Stres, alkohol dan kurang tidur juga bisa menjadi pemicu, sama halnya dengan tidur di lingkungan yang asing.

Dengan menghindari situasi ini, Tom mengatakan bahwa ada perbaikan dramatis. Sebelum berobat, ia mengalami seks-somnia setiap dua atau tiga bulan sekali.

"Saya sangat yakin sekarang bisa mengatakan bahwa kejadian seks-somnia sangat terkendali saat ini. Dan tidak terjadi dalam dalam dua atau tiga tahun terakhir."

Topik terkait

Berita terkait