Mitra Farazandeh: Perempuan difabel juga perlu cinta dan 'punya hasrat seksual'

Mitra Faranzadeh Hak atas foto Mitra Farazandeh
Image caption Mitra Faranzadeh mengatakan ia mencintai seorang pria selama 30 tahun.

Di Iran, terdapat sekitar 10 juta orang dengan difabilitas namun banyak yang menganggap kekurangan ini sebagai sesuatu yang memalukan, menurut wartawan BBC urusan perempuan, Feranak Amidi.

Salah satu hal tabu yang tak dibicarakan di Iran adalah masalah seks, apalagi hasrat seksual perempuan.

Mitra Farazandeh, permepuan 41 tahun yang tinggal di desa kecil di Iran utara, menggambarkan pengalamannya dan bagaimana perasaan frustasinya karena tak ada pihak yang mengerti apa yang ia alami. Inilah kisahnya.

Gerobak kayu

Saya seorang perempuan dengan kondisi 75% mengalami disabilitas. Ya saya juga pernah merasakan cinta.

Saya selalu mengatakan bila seseorang yang belum pernah merasakan cinta seperti layaknya orang-orangan di sawah, tak bernyawa.

Saya berusia 11 tahun saat saya sadar saya jatuh cinta pada putra tetangga saya.

Perasaan seperti ini sulit saya terima. Saat itu, saya merasa saya bukan manusia karena kondisi difabel saya.

Saya merasa tak pantas hidup. Saya menanti saat-saat untuk meninggal.

Selama 14 tahun saya pendam perasaan cinta untuk saya sendiri. Setelah 14 tahun, saya memutuskan untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan kepadanya dan kepada keluarga saya.

Dia menyambut cinta saya namun keluarga saya tidak setuju.

Hidup saya rasanya seperti neraka selama beberapa tahun. Namun cinta saya kepadanya juga mengajarkan kepada saya cara untuk mencintai diri sendiri.

Saya telah mencintainya selama 30 tahun walaupun kami tak pernah bersama.

Kenyataannya adalah seperti apapun kondisi saya, saya adalah seorang perempuan yang memiliki perasaan dan keinginan.

Saya ingin kekasih saya memeluk saya pada malam hari dan membelai rambut saya.

Sayangnya, orang-orang dalam budaya kami merasa perempuan seperti saya tak pantas untuk mecintai dan dicintai. Inilah yang menyakitkan saya.

Fakta bahwa ayah saya tak mengizinkan saya bersama dengan seseorang yang saya cintai sungguh menyakitkan saya.

Birahi orang difabel 'lebih tinggi'

Hak atas foto Mitra Faranzadeh
Image caption Mitra tinggal di desa kecil di Iran utara.

Banyak perempuan difabel lain menderita karena hasrat emosi dan seksual kami ditekan.

Saya percaya perubahan paling penting harus datang dari diri sendiri. Kamilah yang perlu menerima bagaimana keterbatasan seksual kami.

Kami perlu percaya bahwa kami pantas untuk menikmati hidup apapun keadaan kami.

Begitu kami percaya diri, orang-orang di sekeliling kami juga akan mulai menghargai kebutuhan kami.

Hak atas foto MITRA FARAZANDEH
Image caption Mitra mendapat penghasilan dari menjual karya seninya.

Saya tahu banyak keluarga perempuan difabel di seputar saya yang tak sadar bahwa perempuan-perempuan ini juga memiliki perasaan. Bila Anda tak percaya Anda pantas dicintai dan mencintai, bagaimana keluarga Anda bisa paham itu?

Walaupun ayah saya masih menekan perasaan saya, saya bangga saya dapat mengungkapkan perasaan dan apa kebutuhan saya.

Saya percaya akan hak saya untuk menikmati hidup dan mengatasi hambatan serta mendapatkan kebebasan.

Banyak orang percaya bahwa kebutuhan emosi dan seksual perempuan difabel bukanlah prioatas. Namun kenyataannya tak begitu.

Semua orang, pria dan perempuan, normal ataupun difabel, memilki perasaan dan kebutuhan seksual.

Saya secara pribadi yakin bahwa terkadang birahi orang difabel bisa lebih tinggi dibandingkan mereka yang normal, mungkin karena tidak mungkin bagi kami yang cacat berat mengeluarkan hasrat seksual dengan cara normal.

Saya rasa bila birahi perempuan difabel tidak dipenuhi, dampaknya akan sangat buruk.

Kondisi fisik kami seperti layaknya kepompong. Mengeluarkan energi seksual ini akan memberikan sesuatu bagi kami di dalam kepompong kecil ini.

Topik terkait

Berita terkait