Anda punya resolusi tahun baru? Beberapa saran untuk menjaganya

olahraga, lari Hak atas foto Getty Images
Image caption Salah satu prinsip adalah penelitian yang menunjukkan manusia lebih diarahkan pada 'tidak mau rugi'.

Bagi banyak orang, mungkin termasuk Anda, tahun baru menjadi titik tolak untuk melakukan sesuatu hal yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya, yang sering dikenal dengan istilah resolusi tahun baru.

Mengurangi berat badan, berolahraga lebih banyak, berhenti merokok, atau belajar bahasa asing adalah beberapa resolusi tahun baru yang ditetapkan dengan kebulatan tekad namun tak terjamin akan bertahan sepanjang tahun.

Namun apakah memang ada cara-cara yang bisa mempertahankan resolusi tersebut? BBC mencoba merncari tahu berdasarkan pandangan para ahli dan hasil penelitian yang sudah ada.

Salah satu prinsipnya adalah penelitian yang menunjukkan manusia lebih diarahkan pada 'tidak mau rugi'. Dengan kata lain, kita lebih termotivasi untuk memulihkan kerugian daripada mencari keuntungan.

Jadi menetapkan resolusi sebagai upaya untuk memulihkan yang hilang -baik itu hobi lama kita atau kondisi kebugaran sebelumnya- mungkin akan lebih efektif dibanding, misalnya, untuk mendapat keterampilan baru atau penampilan baru.

Dari situ muncul pula saran penting lainnya terkait resolusi tahun baru ini, yaitu harus realistis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Seseorang cenderung menjaga sebuah resolusi jika berpendapat resolusi tersebut juga penting bagi orang lain.

Libatkan orang lain

Dr John Michael -peneliti dan pengajar filsafat di Universitas Warwick, Inggris- mengkaji faktor-faktor sosial yang terlibat dalam membuat komitmen dan mempertahankannya.

Dia mengatakan bahwa kita lebih cenderung menjaga sebuah resolusi jika kita berpendapat resolusi tersebut juga penting bagi orang lain. Jadi semacam perasaan 'kondisi orang lain dipertaruhkan' jika kita gagal.

Hal itu berarti adalah memiliki komitmen untuk ikut sebuah kursus, misalnya, dengan seorang teman.

Dampaknya akan lebih kuat jika Anda harus membayar di depan: begitu kita merasa seseorang sudah berinvetasi dari sisi waktu dan uang untuk sesuatu, maka kita lebih mungkin menjaga komitmen itu.

Dr Michael saat ini sedang menguji teori bahwa orang lebih termotivasi untuk menghindari kerugian atas orang lain dibanding atas dirinya sendiri.

Bukti-bukti awal dari kajiannya memperlihatkan orang mungkin lebih termotivasi untuk tetap meneruskan pekerjaan yang membosankan atau sulit jika ada orang lain yang juga ikut berupaya dalam pekerjaan bersangkutan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kebulatan hati saja tidak cukup, tapi juga perlu perencanaan.

Petunjuk yang jelas

Reputasi juga menjadi motivator yang kuat. 'Mengumumkan' resolusi secara terbuka bisa membantu karena ada kekhawatiran orang akan melihat Anda secara lebih buruk jika tidak melakukannya dan itu berdampak bagi perwujudan resolusi Anda.

"Kita tidak mau mendapat reputasi tidak bisa diandalkan, jadi menyatakan kepada umum tentang rencana kita akan membuat termotivasi," kata Prof Neil Levy dari Universitas Oxford.

Selain itu, tambah Prof Levy, membuat rincian tentang resolusi juga penting.

Mengumumkan, "Saya akan ke pusat kebugaran Selasa siang dan Sabtu pagi" akan lebih mungkin berhasil dibandingkan dengan menyatakan "Saya akan lebih sering ke pusat kebugaran".

Prof Levy juga menyarankan untuk mengkaitkan niat dengan petunjuk yang jelas, sebuah praktik yang disebutnya sebagai 'implementasi niat'.

Jadi jika Anda ingin belajar bahasa baru, maka Anda mungkin harus lebih dulu untuk memutuskan mendengarkan podcast pelajaran bahasa dalam setiap perjalanan ke kantor setiap pagi.

Dan untuk meningkatkan peluang keberhasilan lebih jauh, Anda harus memastikannya dengan menempel catatan di kemudi mobil Anda, misalnya, untuk mengingatkan agar mendengar podcast tersebut setiap pagi.

Dengan demikian Anda tidak hanya berniat saja tapi juga menetapkan langkah-langkah untuk mewujudkannya.

Membuat pengecualian

Prof Levy memperingatkan potensi dari yang disebutnya 'keputusan yang menjadi preseden'.

"Secara implisit kita mengaku ada pengecualian-pengecualian (Saya tidak akan ke pusat kebugaran jika rumah saya terbakar). Namun kita bisa memanfaatkan hal ini dengan memperluasnya ke kondisi-kondisi yang luar biasa."

"Ulang tahun saya mungkin pengecualian yang cukup kuat karena cuma sekali setahun. Namun jika saya mulai menerima hal-hal yang tidak biasa yang terjadi lebih sering -seperti ini pekan terakhir dalam bulan ini jadi lebih baik mulai pada pekan pertama nanti atau terlalu dingin kalau bangun dari tempat tidur pagi hari- maka semua hal akan cenderung menjadi pengecualian," tambah Prof Levy.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Membuat resolusi sebagai bagian dari rencana jangka panjang akan banyak membantu.

Rencana jangka panjang

Bagi Dr Anne Swinbourne -ahli psikologi perilaku di Universitas James Cook, Australia- resolusi terbaik adalah sesuatu yang mencakup sebagian dari rencana jangka panjang untuk Anda sendiri, dibanding dengan yang tidak jelas dan aspirasional.

Oleh karena itu, jika Anda tidak pernah tertarik dengan olahraga maka resolusi menjadi atlet yang baik kecil kemungkinan akan bertahan. Namun resolusi untuk menabung karena Anda bermimpi melakukan perjalanan keliling dunia sebelum berusia 50 tahun akan lebih mungkin berhasil.

Dan mempertahankan semua itu, saran Dr Swinbourne, membutuhkan perencanaan.

Jadi temukan apa yang menjadi pemicu Anda, baik perilaku negatif yang ingin dihilangkan atau perilaku positif yang ingin ditingkatkan. Jika resolusinya ingin minum alkohol lebih sedikit maka jika rencanakan untuk bertemu teman sambil minum kopi dan jangan pergi ke pub.

"Orang-orang yang lebih mendasarkan pada kebulatan hati umumnya gagal. Untuk mempertahankan resolusi, Anda harus amat teliti, Anda harus punya rencana," tegas Dr Swinbourne.

Berita terkait