Rilis lagu, mantan terpidana narkoba di Bali, Schapelle Corby picu kontroversi

Schapelle Corby Hak atas foto INSTAGRAM/SCHAPELLE CORBY
Image caption Setelah mendekam sembilan tahun di LP Kerobokan Bali, Schapelle Corby kembali ke Australia pada akhir Mei 2017.

Mantan terpidana kasus narkoba, Schapelle Corby -yang pernah mendekam selama sembilan tahun di LP Kerobokan Bali- memicu kontroversi di negara asalnya Australia karena merilis lagu di media sosial.

Diberi judul Palm Trees, Corby ikut tampil bersenandung: "Saya di Queensland dan matahari bersinar. Saya punya pohon palem di belakang saya."

Dalam pesannya di Instagram, Corby -yang ditangkap di Bali karena membawa 4,2kg ganja tahun 2004- menulis bahwa membuat lagu itu 'amat menyenangkan' namun sebenarnya dia kembali mengundang pro dan kontra di kalangan warga Australia.

Perempuan Australia yang berusia 40 tahun ini memicu perhatian media sejak ditangkap di Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar sekitar 13 tahun lalu.

Corby berkeras bahwa ganja yang dibawanya itu bukan miliknya tapi ditaruh orang lain di dalam tasnya namun pengadilan memutuskan dia terbukti bersalah. Awalnya diganjar 20 tahun penjara namun dia menghabiskan sembilan tahun di LP Kerobokan karena mendapat pengampunan.

____________________________________________________________________

Pengguna Twitter dengan akun Jemma bernada menyindir meminta agar seseorang segera menyebut lagu Corby tersebut sebagai lagu musim panas ikon Australia sejati.

Sedangkan Kaylah mengatakan dengan rilis lagu dari Schapelle Corby maka sudah cukup bukti baginya bahwa tahun 2018 akan menjadi tahun bencana.

____________________________________________________________________

Sejumlah warga Australia yakin bahwa dia mendapat perlakuan yang buruk terkait kasusnya sementara gambarnya yang menangis di ruang pengadilan mendapat simpati dari sebagian orang.

Kesehatan mentalnya juga sempat dilaporkan memburuk.

Namun Indonesia -yang memiliki hukum yang keras untuk narkoba- menganggapnya sebagai seorang kriminal biasa dan bahkan dianggap beruntung karena lolos dari hukuman mati.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Corby -sejak ditangkap di Bali karena membawa 4,2kg ganja- selalu menjadi perhatian di Australia.

Kepulangannya ke Australia pada akhir Mei 2017 juga menarik perhatian dan sejak pulang kampung dia menerbitkan beberapa video di media sosial yang menjelaskan bagaimana dia berhasil menghindari incaran kamera.

Bagaimanapun lagunya ini kembali mengangkat alis mata orang. Palm Trees dirilis oleh produser Natalie Zeleny di Adelaide pada awal Desember namun baru disebar Corby lewat instagram menjelang berakhirnya tahun baru 1 Januari.

Zeleny mengatakan 'menggubahnya di Cairns (kota di Queensland) untuk senang-senang dan kemudian membawanya ke studio untuk diproduksi dan diisi suara kami.'

Dengan irama musik yang bersemangat, Zeleny bernanyi, "Oh dia kembali ke Australia, dia di negara sinar matahari. Oh Schapelle adalah namanya dan dia punya sesuatu untuk dikatakan."

Kemudian tampil potongan Corby, yang diambil dari pesan Instagram-nya dulu, bersenandung, "Saya di Queensland dan matahari bersinar. Saya punya pohon palem di belakang saya. Saya tinggal di Queensland dan matahari bersinar."

Lagu -yang disebut beberapa orang sebagai debut tunggal pertama Corby- sudah dijadikan lelucon oleh beberapa media Australia dan salah seorang pembawa acara TV menyindirnya, "jelas akan menjadi hit terbesar 2018'.

Terlepas dari perdebatan tentang apakah seorang terpindana penyelundup narkoba seharusnya mendapat perhatian atau tidak, tanggapan di media sosial umumnya tidak bersimpati.

Salah seorang pengguna Twitter mengatakan lagu yang menampilkan Corby itu membuat lagu sensasional Friday oleh Rebecca Black tahun 2011 -yang banyak dicerca orang- menjadi kedengaran seperti lagu legendaris Stairway to Heaven karya kelompok super rock Led Zepelin.

Pengguna Twitter itu bermaksud bahwa 'debut Corby' itu lebih buruk lagi dari Friday-nya Rebecca Black.

Sementara pelawak terkenal Australia, Lehmo, mengatakan kini tak perlu lagi perdebatan tentang apakah Australia sebaiknya menjadi republik atau tetap menjadi Persemakmuran di bawah Inggris.

"Setelah mendengar lagu Schapelle Corby, Ratu (Elizabeth II) menawarkan diri untuk mundur sebagai kepala negara dan menyerahkan negara ini," tulisnya di Twitter.

Topik terkait

Berita terkait