Anak-anak Muslim India yang mengalami perundungan di sekolah

India Hak atas foto Getty Images

Sekolah dan taman bermain dapat menjadi tempat yang berbahaya bagi anak-anak, mereka dapat terisolasi atau mengalami perundungan. Anak-anak seringkali mengunakan perbedaan tampilan, warna kulit, kebiasaan makan, misogini, homofobia dan kasta untuk menyakit teman-teman sebayanya.

Dan saat ini, menurut buku yang baru terbit di India, anak-anak Muslim yang menjadi sasaran perundungan di sekolah-sekolah ternama karena identitas religius meningkat karena berkembangnya Islamfobia di India dan di seluruh dunia.

Penulis Nazia Erum, berbicara dengan 145 keluarga di 12 kota dan 100 anak-anak yang merupakan murid di 25 sekolah elit di Delhi ketika melakukan riset untuk bukunya Mothering A Muslim (Ibu seorang Muslim). Dia mengatakan anak berusia lima tahun telah menjadi target.

"Saya terkejut dengan apa yang saya temukan ketika melakukan penelitian, saya tidak berpikir itu terjadi di sekolah-sekolah elit," jelas Erum kepada BBC. "Ketika anak berusia lima dan enam tahun mengatakan mereka disebut orang Pakistan atau teroris, bagaimana Anda meresponnya? Dan bagaimana Anda menyampaikan keluhan kepada sekolah?" tanya dia.

"Banyak yang menyebutnya dengan bergurau maksudnya untuk melucu, untuk membangkitkan tawa. Itu tidak masuk akal dan tampaknya seperti ejekan yang tidak berbahaya, tetapi itu tidak benar. Itu sebenarnya merupakan merundung dan menyiksa".

Anak-anak yang dia wawancara untuk bukunya menceritakan tentang pertanyaan dan komentar yang seringkali disampaikan kepada mereka:

Apakah Anda Muslim? Saya benci Muslim.

Apakah orangtuamu membuat bom di rumah?

Apakah ayahmu merupakan bagian dari Taliban?

Dia merupakan orang Pakistan.

Dia seorang teroris.

Jangan ganggu dia, dia akan mengbom Anda.

Sejak diluncurkan, buku tersebut memicu pembahasan mengenai kebencian dan prasangka terhadap agama di sekolah dan pekan lalu, tagar #MotheringAMuslim menjadi trending di Twitter , dan banyak orang membagikan pengalaman mereka sendiri.

Hak atas foto NAZIA ERUM
Image caption Nazia Erum mengaku kaget dengan temuannya

Penulis Nazia Erum mengatakan dia terkejut melihat tingkat perundungan yang dialami murid Muslim dalam penelitiannya.

Hampir 80% dari 1,3 milliar populasi di India menganut agama Hindu, sementara Muslim mencapai 14,2%.

Di sebagian besar wilayah, dua komunitas ini hidup dengan damai, tetapi kebencian berdasarkan agama selalu terjadi secara tersembunyi sejak 1947 ketika India dan Pakistan masih merupakan satu negara. Pemisahan kedua wilayah itu terjadi melalui pertumpahan darah- antara setengah juta sampai satu juta orang tewas dalam kekerasan atas nama agama.

Erum mengatakan penghinaan yang merupakan tindakan anti-Muslim telah digunakan sejak 1990an, setelah penghancuran masjid Babri oleh kelompok Hindu garis keras, yang kemudian diikuti dengan kerusuhan Hindu-Muslim, yang dalam beberapa tahun terakhir tekanan dan intensitasnya telah berubah.

Dia sangat menyadari masalah tersebut pada 2014, setelah melahirkan anak pertamanya.

"Ketika saya menggendong anak perempuan saya Myra di tangan saya, untuk pertama kalinya saya merasa takut," ungkap Erum, dengan menambahkan bahwa dia khawatir memberikan sebuah nama yang mudah diidentifikasikan sebagai seorang Muslim.

Saat itu pembelahan agama sangat tajam terjadi di India. Golongan nasionalis Hindu yang diwakili Partai Bharatiya Janata yang menjalankan kampanye terpolarisasi, yang membantu Perdana Menteri Narendra Modi meraih kekuasaan.

Sentimen nasionalis Hindu juga meningkat dan sejumlah saluran televisi menampilkan sebuah narasi yang menyimpang dengan menggambarkan Muslim sebagai "penjajah, anti-nasional dan mengancam keamanan nasional".

Hak atas foto NAZIA ERUM
Image caption Buku yang berisi penelitian terhadap sentimen agama di kalangan anak-anak sekolah elit

"Sejak 2014, identitas saya sebagai Muslim berada di wajah saya, dan seluruh identitas lainnya menjadi yang kedua. Ada kekhawatiran yang jelas di antara seluruh komunitas," jelas Erum.

Dan sejak saat itu, garis yang memisahkan semakin melebar. Pendapat dan debat yang terpolarisasi di televisi yang bias telah menyebar dari orang dewasa dan anak-anak.

"Jadi di taman bermain, sekolah, ruang kelas dan bus sekolah, anak-anak Muslim diasingkan, didorong ke pojok, disebut orang Pakistan, Bagdadi dan teroris," jelas Erum.

Kisah anak-anak ini dia kutip dalam buku yang dapat membuat muram pembacanya:

Seorang anak perempuan berusia lima tahun ketakutan bahwa "Muslim akan datang dan mereka akan membunuh kita." Ironisnya: Dia tidak mengetahui bahwa dirinya merupakan seorang Muslim.

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun merasa malu dan marah setelah seorang teroris melakukan serangan di Eropa, seorang teman sekelasnya bertanya dengan suara keras kepadanya: "Apa yang telah kamu lakukan"?

Seorang anak berusia 17 tahun disebut sebagai teroris dan ibunya kemudian menghubungi ibu anak yang mengolok anaknya, dan mendapatkan jawaban : "Tetapi anak Anda menyebut anak saya gendut".

Perundungan karena masalah agama di sekolah tak hanya terjadi di India, namun di seluruh dunia.

Di AS, kondisi itu disebutkan sebagai "Efek Trump" setelah laporan menyebutkan kampanyenya pada pemilihan presiden menyebabkan peningkatan ketakutan dan kecemasan diantara anak-anak dengan kulit berwarna dan memicu ketegangan ras dan etnis di ruang kelas.

Jadi apakah peningkatan perundungan terhadap anak-anak Muslim di India dapat digambarkan sebagai "Efek Modi"?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Erum mengatakan orangtua dan sekolah harus melakukan sesuatu untuk mencegah perundungan komunal

"Seluruh politisi menggunakan gaya bicara yang sama, termasuk mereka yang berasal dari partai Islam," jelas Erum.

Dia menambahkan bahwa sekolah-sekolah telah menolak untuk menerima bahwa perundungan berdasarkan agama terjadi di tempat mereka.

Menurut dia, itu bisa terjadi karena mungkin banyak kasus tidak dilaporkan- anak-anak tidak ingin terbuka dan sebagian besar orangtua menganggapnya sebagai insiden yang acak.

Namun, yang mengkhawatirkan adalah sebuah bentuk penyesoran diri yang terjadi pada kehidupan mereka dan banyak orangtua Muslim yang mulai memberitahu anak-anak mereka agar berperilaku baik sepanjang waktu- jangan berdebat, jangan memiliki kemampuan bermain game di komputer yang melibatkan bom atau senjata, jangan bergurau di bandara, dan jangan menggunakan pakaian tradisional ketika bepergian.

Erum mengatakan situasi tersebut merupakan tanda-tanda peringatan, dan orangtua serta sekolah harus melakukan semua yang memungkinkan untuk melawan perundungan.

"Pertama adalah menerima bahwa ada masalah, dan kemudian kita membahasnya. Merespon dengan cara demikian tidak akan membantu," kata dia.

"Jika masalah ini tidak ditangani, tidak akan terbatas pada debat pukul 9 malam di televisi atau berita utama di koran, karena kebencian akan berdampak pada semua, pelaku dan orang yang dirundung akan sama-sama merasakannya".

Topik terkait

Berita terkait