Kisah 'Putri Sampah' yang membina anak-anak di Bantar Gebang

BGBJ Hak atas foto BBC Indonesia

Kumuh dan bau busuk melekat dengan tempat pengolahan sampah terpadu Bantar Gebang yang berlokasi di pinggiran Jakarta. Maklumlah, setiap harinya sebanyak 6.000 ton sampah dari seluruh pelosok Jakarta ditampung di tempat ini

Seluas pandangan mata, terlihat gunungan sampah di mana-mana, belum lagi bau yang menusuk hidung.

Di antara gunungan-gunungan sampah terlihat pula deretan rumah milik para pemulung yang berupaya mendapatkan pemasukan dari mengumpulkan sampah-sampah yang masih bisa dijual kembali.

Dan para pemulung itu bersama keluarganya tingal di sana dengan anak-anak yang bersekolah tak jauh dari tempat itu.

Namun ada satu rumah yang tampaknya berbeda dari yang lainnya, dengan warna warni yang lebih semarak dan beberapa ruang yang terbuka.

Itulah rumah Komunitas BGBJ, yang memilih hidup di tengah-tengah sampah dan pemukiman warga Bantar Gebang. Para penghuni rumah itu berupaya mengubah pandangan negatif tentang Bantar Gebang, yang biasanya dilihat sebagai tempat yang bau dan kumuh.

Bagaimana caranya? Dengan mengajarkan anak-anak Bantar Gebang tentang kebersihan dan manajemen sampah.

BGBJ adalah kependekan dari Biji-biji Bantar Gebang. Nama ini dipilih Resa Boenard, salah seorang pendirinya, lantaran mereka menganggap anak-anak Bantar Gebang sebagai biji atau benih yang dapat tumbuh subur dengan cinta dan perawatan yang tepat hingga menjadi pohon yang kuat.

Resa menuturkan misi utama dari komunitas yang dibentuknya bersama temannya asal Inggris, John Deviln, adalah untuk mengubah pola pikir orang banyak tentang Bantar Gebang lewat pendidikan anak-anak pemulung Bantar Gebang.

"Jadi kita mencoba untuk bagaimana orang melihat Bantar Gebang dari sisi yang positif, bukan hanya melulu sampah dan bukan hanya melulu bau, lalat belatung, tikus," ujar Resa kepada BBC Indonesia, Minggu (14/01) pagi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sempat dipanggil Putri Sampah dari Bantar Gebang ketika kecil, kini Resa bertekad untuk mengubah pola pikir masyarakat soal Bantar Gebang.

"Kami mau mencoba menampilkan Bantar Gebang, potret anak-anak di sini dengan sisi yang berbeda. Jadi bagaimana kita memperlihatkan kebahagiaan, bukan kesedihan," imbuhnya.

Berkaca pada pengalamannya ketika masih kecil, Resa sempat mengalami perundungan akibat bau sampah yang menempel di tubuhnya sampai dipanggil sebagai Putri Sampah dari Bantar Gebang oleh teman-temannya di sekolah dasar.

Sempat enam tahun meninggalkan Jakarta lantaran melanjutkan sekolah di Sumatra Barat, Resa memutuskan kembali lagi ke Bantar Gebang untuk mengedukasi anak-anak Bantar Gebang di sanggar Satu Untuk Semua.

Sanggar ini yang kemudian menjadi embrio komunitas BGBJ.

Dinamai Kingdom of BGBJ atau Kerajaan BGBJ, komunitas ini menawarkan peluang bagi orang-orang yang ingin merasakan pengalaman berbeda selama tinggal di Jakarta.

Tata kelola sampah (waste management) yang baik diterapkan dengan sangat ketat di komunitas ini.

"Kita selalu memilah sampah kita sendiri, mulai dari dapur. jadi memang karena salah satu co-founder-nya kuliah tentang sampah, kami sediakan ember yang memang untuk sisa makanan, plastik, dan botol," kata dia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Tempat sampah yang dibuat dari galon bekas untuk menampung berbaggai jenis sampah yang dipisah berdasar kategorinya.

Perempuan yang pernah diejek sebagai Putri Sampah ini mengakui bahwa tak mudah untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang lingkungannya namun ia tak kehilangan asa.

Ia terus memberi pemahaman berulang kali kepada anak-anak Bantar Gebang tentang pentingnya melakukan pemisahan sampah.

"Kita lihat sendiri di depan kita gunungan sampah yang memang terjadi orang-orang mencampur semuanya," jelas Resa.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Gunungan sampah di Bantar Gebang yang terletak hanya beberapa meter dari lokasi Komunitas BGBJ.

Setiap hari Minggu, sekitar 40 anak-anak Bantar Gebang berkumpul di sanggar BGBJ untuk belajar banyak hal, termasuk bahasa Inggris, matematika, dan kreativitas.

Di sela aktivitas, tak lupa Resa mengingatkan adik asuhnya untuk pintar mengelola sampah dan membiasakan hal tersebut di rumah masing-masing. Sering kali, hasil pemisahan sampah dibawa pulang oleh mereka untuk dijual kembali.

"Kita selalu bilang pisahkan ini di sini, kalau sudah penuh, bawa pulang, kalian bisa tukar sama uang, bisa dijual," cetusnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Selain menjadi tempat bermain, BGBJ menjadi tempat bermain anak-anak pemulung Bantar Gebang

Pelajaran soal tata kelola sampah ini diamini oleh Apri, salah satu anak Bantar Gebang yang sudah sekian lama belajar di sanggar. Tapi apa saja yang sudah dipelajari oleh bocah berusia 11 tahun ini?

"Kalau buang sampah di tempat tong sampah, jangan buang sampah sembarangan, jagalah kebersihan," celotehnya.

Anak yang lain, Tholib, bahkan sudah mulai juga membiasakan agar adiknya di rumah untuk tidak buang sampah sembarangan.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Musrom, Apri dan Tholib kini sudah terbiasa untuk membuang sampah pada tempatnya.

Belajar sambil bermain

Untuk mengubah persepsi anak-anak terhadap lingkungannya, Dara Permata, seorang relawan pengajar kelas kreativitas di komunitas BGBJ, memperkenalkan hal-hal baru, termasuk mendaur ulang sampah agar bisa menjadi kreasi baru yang ciamik.

"Biasanya aku ajak mereka mendaur ulang dengan cara yang fun (menyenangkan). Sambil main atau kita buat mainan dari hal-hal yang ada di sekitar kita," ujar perempuan berkacamata ini.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Hampir semua kreasi anak-anak Bantar Gebang dibuat dari barang bekas.

Yang diajarkan Dara kepada anak-anak ini antara lain mendaur ulang sampah plastik dan kertas yang tidak dimanfaatkan lagi.

Misalnya, botol plastik yang tak terpakai lagi dihias menjadi mainan atau ban bekas yang dicat dan dibentuk menjadi bangku maupun sampah kertas yang didaur ulang menjadi hiasan.

"Biasanya aku ajarin mereka bikin origami dari kertas khusus, kita gunakan kertas yang sudah ada. Atau kita bisa bikin hal-hal yang lain, didaur ulang kertasnya. Itu pelan-pelan aku ajarin ke mereka, tidak langsung tapi aku ajak mereka dengan hal-hal yang seperti itu," kata Dara.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Hampir semua furnitur di Komunitas BGBJ dibuat dari barang bekas

Bengkel daur ulang

Tak hanya mendaur ulang sampah yang ada di sekitar menjadi kreasi seni, furnitur yang digunakan di komunitas tersebut juga menggunakan kayu yang dibeli dari pemulung Bantar Gebang.

Resa menuturkan kayu-kayu tersebut kemudian diolah di bengkel daur ulang yang berlokasi di lantai dua.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bengkel daur ulang Komunitas BGBJ.

"Workshop kami ini adalah untuk upcycle. Jadi kalau recycle kan cuma daur ulang biasa, kalau upcycle kita mengubah. Bangku-bangku yang ada di depan kita adalah dari palet bekas yang kita beli dari pemulung," jelas Resa.

Daur ulang kayu menjadi furnitur dilakukan oleh seorang relawan dari Australia, yang juga menjadi tim Komunitas BGBJ bersama dengan anak-anak remaja Bantar Gebang.

Beberapa barang-barang dijual oleh Komunitas BGBJ pun juga dibuat dari kayu-kayu bekas, seperti hiasan dinding atau hiasan meja untuk perayaan hari raya.

Hak atas foto BBC Indonesia

Berbarengan dengan usaha untuk mengubah pola pikir masyarakat, bangunan yang ditempati komunitas BGBJ dulunya adalah lokasi untuk pembuangan plastik namun kini bertransformasi menjadi rumah tinggal sementara atau homestay, yang penghasilannya digunakan untuk biaya operasional komunitas.

"Ketika orang datang berlibur, atau melakukan penelitian, mereka bisa tinggal di tengah-tengah pembuangan sampah yang memang dijadikan sebagai rumah untuk semua orang," kata dia.

Topik terkait

Berita terkait