Cerita potret terkenal Perang Vietnam yang menghantui seorang fotografer

Foto penembakan Hak atas foto AP/Briscoe Center for American History
Image caption Rangkaian foto-foto Eddie Adams menjelang eksekusi Nguyen Van Lem.

Wartawan foto Eddie Adams memotret salah satu foto paling terkenal semasa Perang Vietnam, eksekusi seorang pria di tengah kekacauan Serangan Tet. Karya ini mengantarnya meraih penghargaan seumur hidup, tapi seperti yang ditulis James Jeffrey, foto tersebut juga menghantui fotografernya.

Peringatan: Artikel ini berisifoto detik-detik penembakan seorang pria

Pistol itu masih kokoh berada di tangan si penembak sesaat setelah peluru meluncur ke dalam tengkorak sang tahanan.

Sementara itu, seorang tentara tampak meringis ketakutan melihat pemandangan di depannya. Sulit untuk meredam rasa marah, dan rasa bersalah, ketika mengetahui seseorang berada di ujung kematian.

Adegan itu terekam dalam sebuah foto karya Eddie Adams yang kemudian dikenal sebagai 'Eksekusi Saigon'.

Para ahli balistik mengatakan foto itu menunjukkan peluru ditembakkan ke kepala tahanan dari jarak dekat dan cepat.

Foto tersebut, yang mengabadikan aksi Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan menembak seorang tahanan Viet Cong, dianggap sebagai salah satu foto paling berpengaruh dalam Perang Vietnam.

Setelah diabadikan, foto itu dicetak ulang di seluruh dunia dan menjadi lambang kebrutalan dan anarki perang.

Foto ini juga membangkitkan sentimen yang berkembang di Amerika tentang pertempuran yang sia-sia - bahwa perang di Vietnam tidak pernah dimenangkan.

Hak atas foto AP/Briscoe Center for American History
Image caption Jenderal Nguyen Ngoc Loan menembak kepala Nguyen Van Lem, salah seorang pemimpin kelompok Viet Cong.

"Ada sesuatu yang alami dalam foto yang sangat mempengaruhi para pembaca dan hingga kini tetap diingat," kata Ben Wright, direktur asosiasi komunikasi di Dolph Briscoe Center for American History.

Pusat penelitian, yang berbasis di University of Texas di Austin, menyimpan berbagai arsip foto, dokumen dan surat-surat Adams.

"Cuplikan film dari penembakan tersebut, meskipun mengerikan, tidak menimbulkan suasana genting dan tragedi yang kejam."

Tapi foto itu tidak bisa sepenuhnya menjelaskan keadaan di jalan-jalan di Saigon pada tanggal 1 Februari 1968, dua hari setelah pasukan Tentara Rakyat Vietnam dan Viet Cong meluncurkan Tet Offensinve atau Serangan Tet. Puluhan kota di Vietnam Selatan gempar.

Peperangan sengit di jalanan membuat Saigon menjadi kacau saat militer Vietnam Selatan menangkap seorang pemimpin kelompok Viet Cong yang dicurigai, Nguyen Van Lem, di lokasi sebuah kuburan massal yang terdiri lebih dari 30 warga sipil.

Adams mulai mengambil foto-foto saat Lem digelandang dari jalanan menuju jip Jendral Loan.

Loan berdiri di samping Lem sebelum mengarahkan pistolnya ke kepala sang tahanan.

"Saya pikir ia akan mengancam atau meneror pria itu," kenang Adams sesudahnya, "jadi saya secara alami saya mengangkat kamera saya dan memotretnya."

Lem diyakini telah membunuh istri dan enam anak dari salah satu teman Loan. Jenderal itu melepaskan tembakannya.

"Jika Anda ragu, jika Anda tidak melakukan tugas Anda, orang-orang tidak akan mengikutimu," kata sang jenderal tentang aksi spontannya.

Hak atas foto AP/Briscoe Center for American History
Image caption Foto ini kemudian dikenal dengan nama Saigon Execution.

Loan memainkan peran penting selama 72 jam pertama Serangan Tet, menggembleng pasukan untuk mencegah jatuhnya Saigon, menurut Kolonel Tullius Acampora, yang bekerja selama dua tahun sebagai perwira penghubung Angkatan Darat AS untuk Loan.

Adams mengatakan kesan pertamanya saat bertemu Loan adalah seorang "pembunuh berdarah dingin dan tidak berperasaan". Namun setelah berkeliling dengannya ke pelosok negeri itu, ia pun mengubah penilaiannya.

"Ia adalah produk Vietnam modern," sebut Adams dalam sebuah surat yang dikirimkan dari Vietnam.

Pada bulan Mei tahun berikutnya, foto tersebut Adams memenangkan penghargaan Pulitzer untuk kategori fotografi berita.

Namun, terlepas dari pencapaian mahakarya jurnalistik dan ucapan selamat dari dari para pemenang Pulitzer lainnya, Presiden Richard Nixon dan bahkan anak-anak sekolah di seluruh Amerika, foto tersebut menghantui Adams.

"Saya mendapat uang karena telah memperlihatkan foto seseorang membunuh yang lain," kata Adams dalam sebuah acara penghargaan selanjutnya. "Dua nyawa melayang, dan saya dibayar untuk itu. Saya adalah seorang pahlawan.

Hak atas foto Briscoe Center for American History
Image caption Eddie Adams (kanan) memegang penghargaan Pulitzer.

Adams dan Loan tetap berhubungan, bahkan menjadi teman setelah jenderal tersebut meninggalkan Vietnam Selatan menuju ke Amerika Serikat setelah perang berakhir.

Namun setibanya Loan di AS, Dinas Imigrasi dan Nasionalisasi AS ingin mendeportasinya. Tindakan itu dipengaruhi oleh foto tersebut. Mereka mendekati Adams untuk bersaksi melawan Loan, tapi Adams malah bersaksi untuk membantu dirinya.

Adams bahkan muncul di televisi untuk menjelaskan kondisi foto tersebut.

Kongres akhirnya mencabut deportasi tersebut dan Loan diizinkan untuk tinggal di AS, membuka sebuah restoran di pinggiran kota Washington DC yang menyajikan hamburger, pizza dan masakan Vietnam.

Sebuah foto yang terpampang di koran Washington Post waktu itu menunjukkan Loan di usianya yang sudah tua tengah duduk tersenyum duduk di kasir restoran.

Tapi akhirnya ia dipaksa pensiun saat publikasi tentang bisnisnya yang memburuk. Adams ingat bahwa pada kunjungan terakhirnya ke restoran itu, ia menemukan tulisan bernada kasar tentang Loan di dinding toilet.

Hal Buell, editor foto Adams di kantor berita Associated Press, mengatakan bahwa peristiwa Saigon Execution masih berpengaruh 50 tahun kemudian karena foto tersebut, "dalam satu bingkai, sepenuhnya melambangkan kebrutalan perang ".

"Seperti semua ikon, foto ini merangkum apa yang telah terjadi sebelumnya, menangkap momen saat ini dan, jika kita cukup pintar, foto itu menyampaikan sesuatu tentang kebrutalan dalam semua peperangan."

Dan Buell mengatakan bahwa pengalaman itu mengajarkan Adams tentang batas sebuah foto yang menceritakan keseluruhan suatu kisah.

"Eddie mengutip kata-kata yang menyebutkan bahwa fotografi adalah senjata ampuh," kata Buell.

"Fotografi menurut sifatnya selektif, mengisolasi momen tunggal, memisahkan momen dari momen sebelum dan sesudahnya yang mungkin mengarah pada makna yang disesuaikan," imbuhnya.

Adams lantas mengembangkan karier fotografinya, memenangkan lebih dari 500 penghargaan foto jurnalistik dan memotret tokoh-tokoh terkenal termasuk Ronald Reagan, Fidel Castro dan Malcolm X.

Namun, terlepas dari semua yang diraihnya setelah Vietnam, momen fotonya yang paling terkenal akan selalu ada bersama Adams.

"Dua orang meninggal dalam foto itu," tulis Adams setelah kematian Loan akibat kanker pada tahun 1998. "Jenderal membunuh Viet Cong; saya membunuh jenderal dengan kamera saya."

Topik terkait

Berita terkait