Belajar dan bermain di Museum Layang-layang Indonesia

layang Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Sebuah layang-layang tiga dimensi sedang diterbangkan dalam Festival Layang-Layang di Denpasar, Bali, Juli 2016 lalu.

"Kuambil buluh sebatang, kupotong sama panjang. Kuraut dan kutimbang dengan benang, kujadikan layang-layang".

Syair lagu berjudul Bermain Layang-Layang langsung terngiang-ngiang saat berada di dalam Museum Layang-Layang Indonesia di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Pemicunya adalah seorang bocah laki-laki yang tengah mewarnai sebuah layang-layang. Dia datang ke museum seluas 2.000 meter persegi itu bersama Evi, ibunya.

"Untuk edukasi, lebih memotivasi anak untuk mengenal budaya melalui layang-layang. Daripada ke mal dan bermain gawai, ini lebih baik," kata Evi, saat ditanya mengapa membawa putranya yang berusia lima tahun ke Museum Layang-Layang.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Evi tengah mendampingi putranya mewarnai layang-layang di Museum Layang-Layang Indonesia.

Menurut Lisa, salah seorang staf museum, setiap anak yang datang berkunjung akan mengikuti kegiatan khusus.

"Melipat dan mewarnai layang-layang itu untuk anak usia TK hingga kelas 2 SD. Kemudian untuk kelas 3 SD hingga dewasa akan disediakan bahan membuat layang-layang aduan," papar Lisa.

Kegiatan untuk anak ini rupanya diminati sekolah-sekolah. Hampir setiap hari, menurut Lisa, museum itu dikunjungi puluhan sampai ratusan murid TK dan SD.

Bagi pemilik museum, Endang Ernawati Drajat, layang-layang dan anak-anak tidak bisa dipisahkan. Karena itu, selama tiga dekade dia mengumpulkan layang-layang dari berbagai daerah dan menjadikan rumahnya sebagai museum agar anak-anak bisa berkumpul.

"Tidak banyak orang yang memperhatikan bahwa layang-layang ini memang salah satu budaya yang harus dilestarikan. Dan ketertarikan saya juga pada anak-anak. Saya melihat anak-anak itu harus kita ajarkan, kita perkenalkan layang-layang sejak dini," papar Endang.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Salah satu koleksi layang-layang di Museum Layang-Layang Indonesia. Corak pewayangan amat mendominasi layang-layang asal Jawa.

Boleh pegang

Karena kecintaannya pada anak-anak, Endang tidak keberatan apabila anak-anak menyentuh koleksi-koleksi museum tersebut.

Padahal, layaknya setiap museum, Museum Layang-Layang juga memiliki koleksi berharga. Salah satunya layangan berusia 70 tahun dari Kalimantan. Keunikannya, layangan itu disertai bambu dengan wujud mirip kentongan sehingga bisa mengeluarkan bunyi ketika diterbangkan.

"Di museum manapun, ada larangan memegang koleksinya. Sedangkan kalau layangan kan anak-anak penasaran ingin memegang. Saya ijinkan memegang asalkan pelan-pelan. Lagipula, bahan layang-layang tebruat dari daun, kertas, dan kain yang bisa digantikan," kata Endang.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bahan dasar layang-layang ada yang terbuat dari daun.

Sikap tersebut dibarengi dengan visi Endang untuk mewujudkan museum yang berbeda dari museum pada umumnya.

"Museum itu biasanya sangat menjaga koleksi tuanya. Kalau saya tidak ke situ, saya lebih ke pengembangan anak. Sehingga anak pulang dari sini tahu bahwa gampang membuat layang-layang . Yang penting kita melestarikan bentuknya dan ceritanya, nggak boleh hilang," jelas Endang.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Layangan berwujud ikan di Museum Layang-Layang Indonesia.

Layang-layang tradisional

Disebutkan Endang, layang-layang tradisional Indonesia amat lekat dengan budaya agraris.

Dia mencontohkan rakyat Bali memainkan layang-layang setelah musim panen sebagai ungkapan syukur kepada dewa dan dewi yang telah memberikan tanah subur dan hasil bumi melimpah.

"Selagi layang-layang diterbangkan, mereka meyakini bahwa dewa dan dewi akan turun ke bumi untuk menyuburkan kembali tanah mereka," tutur Endang.

Menurutnya, keterkaitan layang-layang dan pertanian juga ada pada budaya Jawa dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Layang-layang khas Indonesia berbentuk elips pada bagian atasnya.

Tidak hanya budaya, kesamaan lainnya ada pada bentuk. Endang menjelaskan bahwa bentuk layang-layang khas Indonesia punya kemiripan ciri.

"Hampir setiap provinsi di Indonesia mempunyai kesamaan pada bentuk bagian atas, yaitu elips. Bentuk itu sampai sekarang masih dipertahankan. Ciri khas lainnya, suara. Layang-layang Indonesia ada bunyi-bunyian dengan berbagai istilah, seperti danguang, sendaren, dan koangan," paparnya.

Di samping bentuk, layang-layang Indonesia punya desain khas. Di Sumatera, misalnya, corak layang-layang kental dengan nuansa Melayu. Kemudian di Jawa, corak pewayangan amat mendominasi.

Adapun di Bali desainnya terbagi menjadi tiga bagian, yakni pecukan yang bentuknya seperti daun, janggan alias naga, dan bebean atau ikan. Warna layang-layang tersebut ada tiga, merah, putih, dan hitam atau tridatu.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Para peserta Festival Layang-Layang di Denpasar, Bali, sedang menerbangkan layang-layang janggan.

Kepunahan?

Bentuk dan desain khas Indonesia tersebut diyakini tidak menuju ke kepunahan berkat kompetisi layang-layang berskala domestik maupun internasional yang selama beberapa tahun terakhir diadakan di sejumlah daerah.

"Selama 20 tahun terakhir makin banyak lomba layang-layang. Dengan adanya lomba seperti itu, akan menarik minat orang untuk ikut mencoba sekaligus melestarikan," kata Endang.

"Di lomba internasional, peserta Indonesia juga selalu membawa layang-layang tradisional. Bangga saya. Saya yakin tidak menuju ke punah," tutupnya.

Berita terkait