Sampah imbas banjir Jakarta capai 2.000 ton, 95% batang pohon dan rumpun bambu

Banjir di Jakarta Hak atas foto Tom de Souza

Banjir di Jakarta mulai surut kendati hujan deras masih terus mengancam.

Dan petugas maupun warga mulai berkutat dengan masalah ikutannya: pembersihan lumpur dan sampah, yang hingga Kamis siang saja sampah yang berhasil diangkut mencapai 2.000 ton.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji, menuturkan, selama tiga hari terakhir terkumpul sekitar 2.000 ton sampah yang hanyut di sungai Ciliwung. Jumlah ini sekitar 6 kali jumlah sampah yang dikumpulkan dari sungai.

"Total (sampah diangkut) di Ciliwung dari hari Minggu (04/02) sampai sekarang sudah 2.000-an ton," ujar Isnawa kepada Ayomi Amindoni dari BBC Indonesia, Kamis (08/02).

"Kebanyakan, 95% adalah batang-batang pohon dan rumpun bambu. Walaupun ada juga stereofoam, plastik, bahkan bangku, meja dan lain-lain," imbuhnya.

Menurutnya, ini merupakan dampak dari kuatnya arus sungai Ciliwung yang mengikis tanah di bantaran sungai Ciliwung, yang membuat banyak pohon tumbang atau tercerabut dari akarnya.

Hak atas foto Tom de Souza

Dalam kondisi normal, sampah Jakarta mencapai sektiar 6.700 - 7.000 ton per hari. "Dari jumlah itu, sekitar 300 ton berasal dari kali, sungai, waduk, dan danau," jelas Adji.

Pada saat cuaca ekstrim seperti sekarang ini ketika ketinggian air di Katulampa memiliki status siaga 1 -level tertinggi ancaman banjir, ditambah dengan peningkatan intensitas hujan, jakarta juga menderita kiriman sampah dari hulu.

"Sempat kemarin di pintu air Manggarai ada 200 ton diangkat dari sana. Kemudian di Kampung Melayu ada 188 truk sampah dari Senin (5/2) sampai Selasa (6/2) pagi," kata Adji.

Hingga kini pihaknya masih mengerjakan pembersihan lumpur dan sampah,

Hak atas foto Tom de Souza

Dia menegaskan bahwa pihaknya terus memantau pembersihan sampah di titik-titik kali dan sungai, serta di pintu air.

"Alat berat dan personel terus melakukan upaya itu."

Sementara di pemukiman, banyak pengendara roda dua yang jatuh terpeleset akibat jalan berlumpur pasca banjir. Kondisi lumpur yang mengering pun acap kali menyulitkan warga.

Untuk mengatasi sampah dan lumpur pasca-banjir di pemukiman, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta disebutkan akan segera merehabilitasi lingkungan setelah cuaca ekstrim berlalu.

Hak atas foto Tom de Souza

Pertama, sampah-sampah di lingkungan pemukiman diangkat, kemudian lumpur-lumpur pun dibersihkan -termasuk lumpur yang mulai mengering.

"Yang terpenting adalah dikarbolisasi, jadi kawasan itu harus (diberi) disinfektan, jangan sampai menimbulkan penyakit," kata Adji.

Adji menambahkan, akan dilakukan pula upaya perbaikan sarana dan prasarana. "Misalnya ada taman yang rusak, jalan yang rusak."

Hak atas foto Tom de Souza

Seperti diberitakan, intensitas hujan ekstrim di wilayah Bogor pada Senin (08/02) menyebabkan tinggi permukaan air di Bendung Katulampa mencapai 240 centimer dengan status siaga 1. Imbasnya, beberapa wilayah di bantaran Sungai Ciliwung banjir.

Berdasar data BPBD Jakarta, Banjir terparah terjadi di kawasan Jakarta Timur, dimana 11 kelurahan, 12 kecamatan dan 40 RW tergenang.

Sementara di Jakarta Selatan, 30 RW di 10 kelurahan dan 6 kecamatan mengalami banjir. Di Jakarta Barat, hanya 1 RW yang mengalami banjir.

Akibat banjir yang melanda beberapa kawasan, 11.824 jiwa terpaksa mengungsi. Pengungsi terbanyak berada di Rawajati, Jakarta Selatan, dengan jumlah 2000 jiwa.

Hak atas foto Tom de Souza

Banjir dan longsor mengancam hingga pekan depan

Di sisi lain, Kendati mulai menyusut, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menegaskan bahwa banjir masih mengancam ibu kota lantaran Indonesia masih diguyur hujan hingga Maret mendatang.

"Potensi bencana banjir, longsor dan puting beliung juga akan meningkat," tegasnya.

Badan Meteorologi, KIimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan berintensitas tinggi akan berlangsung hingga Maret 2018 mendatang, dimana puncak hujan terjadi selama Februari 2018.

"Saat ini Wilayah Indonesia masih berada pada periode musim hujan. Kondisi ini dipengaruhi dari angin baratan yang cukup kuat sejak Januari 2018 dan diprakirakirakan hingga Maret 2018 wilayah Indonesia masih berada pada periode puncak musim hujan," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulis.

Dia melanjutkan, saat ini wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi memasuki puncak musim hujan, sehingga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat hingga sepekan kedepan.

Hak atas foto BMKG

Potensi hujan lebat dan angin kencang lebih dari 20 knot berpotensi terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Riau, Kepulauan Riau, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah, NTB, dan Laut Arafuru.

Menurutnya, potensi angin kencang ini berdampak pada peningkatan gelombang laut dengan tinggi gelombang mencapai 2.5-6 meter di Perairan Utara Kepulauan Anambas, Natuna, Perairan Utara Singkawang, Laut Cina Selatan, dan Laut Natuna Utara.

Untuk itu, Dwikorita mengimbau masyarakat mewaspadai potensi terjadinya genangan, banjir, dan tanah longsor.

"Waspada hujan lebat disertai angin yang dapat menyebabkan pohon tumbang serta tidak berlindung di bawah pohon ketika terjadi hujan dan petir," imbau Dwikorita.

Hak atas foto AFP
Image caption Kawasan Puncak, Bogor, disebut rawan bencana karena pemukiman mengurangi vegetasi di lereng tersebut.

Potensi longsor meluas

Imbas dari cuaca ekstrim dan hujan lebat pula berdampak pada tanah longsor di beberapa lokasi. Sutopo pula mengatakan bahwa potensi longsor di pulau

Lima orang dilaporkan meninggal akibat tertimbun longsor di Cijeruk Bogor. Sementara 1 orang tewas akibat longsor di Tangerang, di area Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sutopo memperkirakan longsor di Pulau Jawa akan meluas ke di daerah-daerah yang memiliki topografi pegunungan, perbukitan dan di lereng-lereng tebing yang di bawahnya banyak permukiman.

Hak atas foto AFP
Image caption Lanskap Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, Selasa (06/02), usai dilanda tanah longsor. Lima orang dilaporkan tewas akibat kejadian ini.

Wilayah ini memanjang di Jawa bagian tengah hingga selatan

"Dari peta potensi longsor pada Februari 2018, wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah daerah yang memiliki potensi paling banyak dari ancaman longsor," jelas Sutopo.

Adapun daerah rawan longsor tinggi di Jawa Barat meliputi Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Bandung Selatan, Purwakarta, Garut, Sumedang, Kuningan, dan Tasikmalaya.

Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat 80.1 % dari 558 kecamatan di Jawa Barat tergolong rawan bencana tanah longsor.

Hak atas foto BBC Indonesia

Sedangkan di Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Banjarnegara, Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Pekalongan, Temanggung, Semarang, Karanganyar, Tegal, Wonogiri, Magelang, Purbalingga dan Boyolali.

Di Jawa Timur terutama di Kabupaten Ponorogo, Trenggalek, Malang, Pacitan, Mojokerto, Jember, Banyuwangi dan lainnya.

Selama tahun 2018, telah terjadi 275 bencana yang menyebabkan 30 jiwa meninggal dan hilang, 66 jiwa luka, 153.183 menderita dan mengungsi,

Hak atas foto BBC INDONESIA

Sementara, 10.254 unit rumah rusak, terdiri dari 1.315 unit rusak berat, 2.801 unit rusak sedang dan 6.138 unit rusak ringan, dan 92 bangunan fasilitas umum rusak.

Bencana longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal dunia.

Sejak 1 Januari 2018 hingga 7 Febuari 2018 terdapat 19 orang meninggal dunia akibat longsor, sedangkan puting beliung 5 orang, banjir 3 orang, kombinasi banjir dan longsor 2 orang dan gempa 1 orang.

Berita terkait