Bertandang ke mal di Depok yang membeli barang pengunjung

rongsok Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mal Rongsok terletak di kawasan Bungur, Kota Depok, Jawa Barat.

Di Depok, Jawa Barat, terdapat sebuah tempat bernama Mal Rongsok. Sesuai namanya, tempat itu khusus menjual barang bekas atau rongsokan. Tapi, jangan bayangkan ruangan terang dan sejuk.

Begitu memasuki Mal Rongsok, pengunjung akan merasakan udara pengap karena tidak ada pendingin udara. Minimnya pencahayaan juga membuat pengunjung harus memicingkan mata agar bisa melihat lebih jelas.

Semakin jauh ke belakang bangunan kayu semipermanen ini, tumpukan barang kian beragam. Di bagian kanan dan kiri terdapat perangkat elektronik, mulai dari pengeras suara, monitor komputer, hingga perangkat audio.

Di bagian belakang dan lantai atas terdapat deretan pintu bekas dan mebel usang.

Dan jangan lupa mendongak, karena puluhan hingga ratusan barang terbungkus plastik ada di langit-langit-langit. Pengunjung yang berminat pada suatu barang, tinggal menunjuk dan menawarnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ada sekitar 40.000 barang di Mal Rongsol, kata pemiliknya, Nurcholish Agi.

Siang itu, Mal Rongsok sedang kedatangan sejumlah pengunjung. Ibu Aline, misalnya. Sembari menggandeng dua anaknya yang baru pulang sekolah, dia mengamati berbagai barang keperluan rumah tangga.

"Komplet barang-barangnya. Harganya lumayan murah dibanding kalau kita beli baru. Kayak jemuran aluminium saya beli harganya Rp150.000, di pasaran harganya Rp300.000," ujarnya.

Karena harganya sangat terjangkau, Aline kerap datang ke sini. Selain jemuran, dia mengatakan pernah membeli akuarium kecil. "Kompor kecil juga," celetuk salah satu anaknya.

Pengunjung Mal Rongsok tak hanya ibu rumah tangga. Ada pula pedagang yang mengincar barang bekas untuk kemudian dijual lagi, seperti pak Koswara.

"Barang second, tapi kualitasnya bagus. Pintar-pintar aja memilih. Kebanyakan saya membeli perlengkapan rumah, seperti sofa, meja kantor, kursi. Tinggal dirapihin lagi, udah bagus," tuturnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah pengunjung mengaku bisa mendapatkan barang berkualitas bagus, dengan harga terjangkau. "Pintar-pintar saja memilihnya," kata seorang pengunjung.

Kumpulkan barang bertahun-tahun

Mal Rongsok didirikan Nurcholish Agi pada 2010 lalu, setelah selama bertahun-tahun sebelumnya Nurcholish mengadu nasib dengan membuka servis motor dan televisi.

Awalnya, koleksi pria itu hanya terbatas pada suku cadang otomotif dan komponen elektronik. Lama kelamaan, dia turut merambah mebel bekas dan barang lainnya. Kini koleksi barang di tempat ini berjumlah puluhan ribu.

"Kalau 40.000 macam sih ada. Saya tahu semua buat apa, cuma saya nggak tahu letak-letaknya," katanya.

Nurcholish bercerita bahwa ayahnya memiliki toko kelontong dan mengajarkan prinsip selalu menyediakan kebutuhan rumah tangga apapun walau jumlahnya hanya satu.

"Yang namanya bisnis, perbanyak aja barangnya. Apapun yang orang tawarkan, saya beli. Saya tidak pernah mikir laku atau tidak. Udahbiarin aja. Nantipun ada yang beli. Di sini ada barang yang sudah 10 tahun," terangnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mal Rongsok minim pencahayaan, namun dilengkapi kamera pengawas atau CCTV.

Apakah dia menimbun barang?

"Bukan ditimbun," kilahnya. "Kita ini investasi. Barang yang semakin tua semakin mahal harganya. Barang lama makin akan lebih mahal dari barang baru. Ada aja barang aneh yang saya pikir nggak ada harganya, eh orang datang dan beli."

Koleksi barang-barang di Mal Rongsok didapat dari dua cara. Pertama, melalui lelang berbagai instansi. Nurcholish mengaku setiap hari mendatangi beragam lokasi untuk mengikuti lelang dan, jika menang, memborong semuanya.

Kedua, dia membeli benda yang dijual pengunjung, seperti siang itu ketika seorang pengunjung menjual suku cadang komputer bekas. Negosiasi hanya perlu satu menit dan motherboard usang seharga Rp60.000 telah berpindah ke tangan Nurcholish.

Bagaimana dia bisa menaksir harga?

"Kan saya setiap hari mendatangi berbagai tempat, toko, dan mal. Di sana saya cek harga baru setiap barang, saya hapalin. Jika ada barang bekasnya, saya jual 20 persennya. Tapi kalau itu barang langka, saya bisa jual dua kali lipat dari harga baru," jelas Nurcholish.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Nurcholish Agi mendirikan Mal Rongsok sejak 2010, setelah bertahun-tahun sebelumnya mengumpulkan berbagai barang.

Omzet ratusan juta

Pengunjung Mal Rongsok terus berdatangan siang itu. Lembaran rupiah yang dihasilkan pun terus bertambah. Situasi ini, menurut Nurcholish, merupakan pemandangan sehari-hari.

Karena itu, dia mengaku omzetnya sebulan mencapai 150 juta rupiah. Meski demikian, dia mengklaim tak meraih profit.

"Omzet sebulan Rp150 juta. Tapi, setiap hari uang yang saya terima dari penjualan, saya putarkan lagi untuk membeli barang lain. Misalnya saya dapat uang Rp5 juta, Rp2 juta saya gunakan untuk menggaji karyawan, Rp1 juta untuk belanja, sisanya saya belikan barang bekas. Jadi saya nggak dapat untung," paparnya.

Jika uang yang ada terus diputarkan, sedangkan modal tertahan pada barang barang bekas yang belum terjual, bagaimana Nurcholish memperoleh dana cair jika sewaktu-waktu memerlukan? Itu persoalan gampang, katanya.

"Kalau kita perlu duit, gampang. Saya punya besi beberapa ton, lalu saya telpon teman yang mengolah besi tua. 'Eh harga besi satu ton berapa? Saya punya tiga ton nih. Kamu mau nggak?' Kalau satu ton Rp3 juta, kan tinggal dikaliin," katanya.

Karena itu, menurutnya, bisnis barang bekas mudah asal tahu celahnya dan punya jaringan teman.

Topik terkait

Berita terkait