Album perdana Rich Brian: Bagaimana tanggapan para pemerhati musik?

Rich Brian - Amen Hak atas foto 88Rising/Genius

Rapper Indonesia Rich Brian memantapkan statusnya di blantika musik internasional dengan merilis album perdana.

Sejak mengunggah video musik pertamanya "Dat $tick" dua tahun lalu di Youtube – kini telah ditonton lebih dari 80 juta kali – pemuda berusia 18 tahun ini membuat dirinya makin dikenal dengan meluncurkan lagu demi lagu, berkolaborasi dengan nama-nama beken di lapangan hip-hop masa kini seperti Ghostface Killah, 21 Savage, Offset, dan XXXTentacion.

Dan pada tanggal 2 Februari lalu, Rich Brian meluncurkan album perdananya di bawah label 88rising. Bertajuk Amen, salah satu album paling dinanti di tahun 2018 ini debut di nomor 4 tangga album hip-hop iTunes Amerika Serikat – membuat laki-laki dengan nama asli Brian Immanuel ini menjadi penyanyi Asia pertama dalam sejarah yang menempati posisi tersebut.

Sang rapper yang dibesarkan di Jakarta ini juga memperkenalkan diri di hadapan para pemirsa arus-utama dengan tampil di acara talkshow Amerika Late Late Show With James Corden.

Lalu bagaimana tanggapan para pemerhati musik terhadap album perdana Brian?

Ben Beaumont-Thomas dari Guardian memberi Amen skor empat dari lima bintang. Ia memuji kemampuan rap Brian, terutama kepandaiannya mengucapkan kata demi kata sehingga terasa mengalir (flow) – kontras dengan pembawaan Brian yang kalem, nyaris tanpa emosi.

Kemampuan itu juga diakui Sheldon Pearce dari Pitchfork, memberikan skor 5,9 dari 10. "Ia (Brian) bisa menjadi perancang beat yang bagus, tapi kekuatannya saat ini terletak pada kecerdasannya dan keterampilan dalam menerjemahkan gaya hidup online-nya menjadi cerocosan rap yang cukup baik," tulis Pearce.

Hak atas foto 88Rising/Youtube
Image caption Namun meski dipuji atas kemampuan teknisnya, Brian dianggap belum matang sebagai penulis lirik.

Sedangkan Scott Glaysher dari HiphopDX menyanjung komposisi musik dalam Amen, yang hampir seluruhnya digubah oleh Brian sendiri. Ia menyebut kombinasi synthetizer, drum elektronik, dan nada-nada minor cocok dengan suasana hati yang diungkapkan Brian dalam lagu-lagunya. "Ini sajian musik yang akan didengar kebanyakan anak usia 18 tahun di tahun 2018," tulis Glaysher.

Namun meski dipuji atas kemampuan teknisnya, Brian dianggap belum matang sebagai penulis lirik. Kritik paling keras mungkin dilontarkan Sheldon Pearce dari Pitchfork, yang menyebut gaya tulisan Brian masih tingkat dasar.

"Ia seakan-akan masih berlagak seperti seorang rapper di Vine (aplikasi layanan berbagi video durasi pendek yang sekarang sudah tutup -red.), dan banyak lagunya yang bisa diuntungkan oleh keringkasan media itu; lagu-lagu itu berlangsung cukup lama sehingga akhirnya menampakkan diri sebagai replika," tulis Pearce.

Pengulas musik ternama di Youtube, Anthony Fantano, juga tidak menemukan sesuatu yang istimewa dalam lirik Rich Brian: "Saya tidak menganggapnya menulis lirik yang jelek, tapi menurut saya apa yang dikatakannya tidak kedengaran sekeren yang ia pikir." Bagi Fantano, kekurangan itu membuat gaya Brien yang kalem dan monoton jadi membosankan setelah didengarkan sekian lama.

Hak atas foto 88rising/Youtube
Image caption Dalam album Amen, Rich Brian banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya – termasuk pengalamannya sebagai orang Indonesia.

Dalam album Amen, Rich Brian banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya. Dan pengalamannya sebagai orang Indonesia ia sertakan ke dalam lirik-liriknya.

Di lagu "Flight", misalnya, sang rapper bercerita tentang transisi dari kehidupan di Jakarta ke kehidupan di AS. Sedangkan dalam "Arizona" ia menerima statusnya sebagai jagoan lokal bagi anak-anak Indonesia.

Sebagai salah satu dari sedikit rapper Asia yang beken di Amerika, Brian telah dituduh melakukan apropriasi budaya, yakni menggunakan atribut dari budaya lain sebagai 'cangkang' bagi penampilannya sendiri – mengingat musik rap berakar dari budaya Afrika-Amerika. Kritik paling keras terkait dengan nama yang ia sandang ketika memulai kariernya di skena hip-hop, "Rich Chigga", yang merupakan akronim dari kata Chinese (Cina) dan hinaan ras terhadap orang kulit hitam.

Namun tak sedikit yang mendukung Brian sebagai representasi Asia di dunia hip-hop internasional. "Rich Brian telah menjadi wajah hip-hop Asia di Amerika ketika gerakan itu mulai menanjak kepopulerannya," tulis Kevin Loo dalam sebuah blog di Genius.

Saat ini Brian dan rekan-rekannya sesama penyanyi di 88Rising tengah menjalani tur ke sejumlah kota di Eropa. Tiket untuk konsernya dalam waktu dekat di London, Inggris sudah ludes terjual.

Topik terkait

Berita terkait