Saksi mata serangan gereja di Yogyakarta: 'Saya menahan pintu, supaya pelaku tidak menyerang jemaat di luar'

gereja lidwina Hak atas foto KOMPAS/ Wijaya Kusuma
Image caption Sebagian kecil jemaat gereja St Lidwina di Sleman, Yogyakarta, memilih bertahan di dalam ruangan utama untuk berusaha bersama-sama melumpuhkan pelaku serangan yang bersenjatakan pedang.

Sebagian kecil jemaat gereja St Lidwina di Sleman, Yogyakarta, memilih bertahan di dalam ruangan utama untuk berusaha bersama-sama melumpuhkan pelaku serangan yang bersenjatakan pedang.

Andhi Cahyo, anggota jemaat gereja tersebut, misalnya, mengaku tetap bertahan di samping pintu di samping altar untuk mencegah sang pelaku melarikan diri.

"(Saya) menahan pintu supaya dia tidak bisa keluar," ungkap Andhi kepada wartawan BBC Indonesia, Ayomi Amindoni, melalui sambungan telepon, Minggu (11/02) siang.

Upaya ini juga dilakukannya untuk melindungi sebagian jemaat lainnya yang "memilih menyelamatkan diri" dan berada di luar pintu samping tersebut.

"Karena kalau dia keluar dari altar banyak umat yang udah banyak di sana," tambahnya.

'Jemaat melempar batu, kursi...'

Dalam video yang terbesar di media sosial, pelaku terlihat mengayun-ayunkan pedang di altar gereja. Di video itu, sejumlah jemaat terlihat pula melemparkan batu atau kursi ke arah pelaku.

"Warga berusaha melumpuhkan dengan tangan kosong, dengan melempar batu, kursi dan sebagainya," kata Andhi.

Hak atas foto Polda DIY Yogyakarta
Image caption Pelaku yang berinisial S, kelahiran 1995, menurut polisi, berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Pada saat itulah, Andhi tetap bertahan di dekat pintu samping altar, mencegah pelaku melarikan diri.

Walaupun sudah terkepung, demikian Andhi, pelaku "tidak mau menyerah". Seingat Andhi, aksi pengepungan di dalam ruangan utama gereja itu berlangsung antara 10-15 menit.

Andhi kemudian teringat di dalam ruangan itu ada anggota polisi yang kebetulan juga jemaat gereja, tetapi tidak sedang bertugas. "Jadi dia tidak membawa senjata (api)."

"Kira-kira 15 menit (kemudian) ada polisi datang, bawa senjata (api), masuk ke gereja," ungkapnya.

Tembakan peringatan

Sang petugas polisi melepaskan tembakan peringatan agar dia menyerahkan diri. Tetapi pelaku malah menyerang dan melukai polisi tersebut. Dalam kondisi terluka, polisi itu kemudian melepaskan tembakannya.

Hak atas foto Kompas/Bambang Sigap
Image caption Keterangan polisi menyebutkan pelaku terpaksa ditembak karena menolak untuk menyerahkan diri dan bahkan menyerang petugas dengan senjata tajamnya.

"Dia ketembak di pahanya dua kali, tapi polisinya juga kena sabetan pedangnya," jelas Andhi. Bersama tiga jemaat dan pastur Karl-Edmund Prier SJ atau Romo Prier yang terluka, polisi dan pelaku dilarikan ke rumah sakit terdekat karena luka-lukanya.

Selain melukai jemaat, anggota polisi dan seorang pastur, pelaku serangan yang berinisial S (kelahiran 1995 asal Banyuwangi, Jatim) juga merusak benda-benda suci di altar gereja.

"(Dia) merusak benda-benda suci yang ada di situ, seperti patung Yesus, patung Maria."

Merusak patung Yesus dan Bunda Maria

Serangan itu dilakukan saat jemaat dan romo itu sudah berada di dalam gedung gereja. Baru sekitar 5 menit dimulai, pada saat proses kemuliaan, tiba-tiba dari arah luar datang pelaku dengan senjata tajam di tangannya.

"Jenisnya pedang kurang lebih satu meter (panjangnya), langsung masuk, tapi sebelumnya di teras depan dia sudah melukai satu (orang) umat."

Hak atas foto DETIKCOM/RISTU HANAFI
Image caption Serangan terjadi sekitar pukul 07.30 WIB, Minggu (11/02), saat digelar misa di gereja Katolik yang terletak di Dukuh Jambon Tirhanggo, Gamping, Sleman, DIY Yogyakarta.

Di dekat pintu masuk, pelaku melukai satu umat lainnya dengan menebaskan pedangnya.

Kemudian dia berjalan ke arah altar. Saat itulah jemaat mulai panik dan "teriak-teriak" dan "menyelamatkan diri."

Di atas altar, pelaku melukai Romo Prier dann merusak benda-benda suci seperti patung Yesus dan patung Maria, tambahnya.

Sampai Minggu (11/02) siang, polisi belum mengumumkan motif pelaku melakukan penyerangan, kecuali menyebut bahwa pelaku yang berinisial S (kelahiran 1995) adalah warga kota Banyuwangi, Jawa Timur.

Berita terkait