Indonesia ‘penghasil teripang terbesar dunia’, tapi teripang kini ‘sulit ditemukan’

teripang Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kumpulan teripang yang dijajakan di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Di antara keriuhan Petak Sembilan, di kawasan Glodok, Jakarta Barat, sebuah lapak menarik perhatian.

Pada meja lapak itu, empat baki merah diletakkan berjajar. Selain beberapa bongkah es batu dan air, baki-baki itu berisi deretan makhluk kenyal dan berlendir menyerupai belatung raksasa. Warnanya ada yang kuning terang, coklat, hingga hitam.

"Ini teripang, pak. Banyak khasiatnya. Untuk obat kuat, kolesterol, terus perempuan sehabis operasi Caesar dikasih teripang lukanya cepat kering," sahut pria di balik meja, seraya menerangkan bahwa dia mendapatkannya dari perairan Pulau Belitung.

Berapa harganya?

"Rp800.000 per kilogram, pak. Kalau mau satuan juga bisa, tapi hitungannya per ons. Satu ons-nya, Rp80.000. Ini ada yang kering, Rp2 juta sekilo," jelasnya.

Teripang sejatinya adalah hewan tak bertulang belakang, seperti kerang, siput, dan cacing. Meski masuk kategori hewan, teripang tidak punya organ mata, hidung, dan telinga. Satu-satunya kemampuan inderawi teripang adalah meraba.

Masyarakat umum sering menyamakan teripang dengan timun laut, padahal itu salah kaprah, kata Ana Setyastuti—ilmuwan dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Masyarakat tahunya teripang, semua jenis dianggap teripang. Padahal, kelompok besarnya adalah timun laut. Kalau masuk perdagangan, dimakan, dikonsumsi, timun laut ini disebut teripang. Jadi tidak semua timun laut itu teripang," papar Ana.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ada sebanyak 54 jenis teripang asal Indonesia yang diperdagangkan di Indonesia. Harga setiap jenis berbeda, namun kisarannya mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram.

Ana—yang telah menerbitkan berbagai makalah ilmiah baik di Indonesia maupun mancanegara—menjelaskan bahwa ada 1.400 spesies timun laut di seluruh dunia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak lebih dari 350 jenis timun laut ada di Indonesia. Adapun yang masuk kategori teripang, berdasarkan penelitian pada 2015, terdapat 54 jenis.

Kekayaan keberagaman teripang di perairan Indonesia, menurutnya, mendorong penangkapan teripang sejak beberapa ratus tahun lalu.

Dalam risetnya, Ana merujuk catatan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mengenai penangkapan teripang di Kepulauan kei dan Kepulauan Aru pada pertengahan 1600-an dan awal 1700-an.

Mengutip hasil riset Ana yang dituangkan dalam artikel berjudul Sinopsis Teripang Indonesia; Dulu, Sekarang dan yang Akan Datang, pada pertengahan abad ke-18, tepatnya tahun 1850, ekspor teripang dari Kepulauan Kei ke Cina diperkirakan mencapai 36 ton, yang berarti sekitar 600.000 hingga 1.200.000 spesimen. Sedangkan dari Makassar mencapai sekitar 490-550 ton dalam setahun.

Selanjutnya jumlah tersebut semakin meningkat.

'Sebelum perang kemerdekaan Indonesia diperkirakan ekspor teripang ke China mencapai 640 ton per tahun. Puncak tertinggi ekspor mencapai hingga sekitar 2928 ton/tahun menjelang akhir abad-19', sebut tulisan itu.

Hak atas foto .

Penghasil teripang terbesar di dunia

Tren penjualan teripang dari Indonesia terus berlanjut hingga masa modern.

Berdasarkan data badan pangan dan pertanian PBB (FAO), pada tahun 2000 Indonesia merupakan penghasil teripang terbesar di dunia (2.500 ton) dengan tujuan utama Cina, Singapura, dan Taiwan.

Kemudian, data Kementerian Kelautan dan Perikanan sepanjang 2012 hingga 2015 menunjukkan tren ekspor teripang meningkat dari 900 hingga 1.200 ton. Adapun Cina tetap menjadi pelanggan utama.

Kenyataannya, meski tren ekspor meningkat, teripang makin sulit ditemui di perairan Nusantara.

"Saya telah mendatangi berbagai pulau di Indonesia dan bertanya kepada masyarakat setempat. Dulu, mereka mengatakan, masih mudah dapat teripang. Bahkan, teripang bagai sebaran karpet. Nah sekarang teripang harus dicari dengan menyelam ke dasar laut. Nyari satu aja setengah mati," paparnya.

Keterangan Ana diamini Hari Sambali, dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Menado.

"Di Sulawesi Utara, sejak 15 tahun lalu, teripang hampir tidak ada lagi karena stok di alam jauh berkurang. Jadi jarang dijumpai," kata Hari.

Jenis teripang yang menjadi idola nelayan, menurut Hari, adalah Holuthuria scabra. Di Sulawesi Utara, teripang jenis tersebut dikenal dengan nama teripang susu.

"Teripang susu di pasaran cukup tinggi harganya. Satu kilogramnya bisa dihargai Rp300.000 sampai Rp500.000. Nelayan masih mencari teripang jenis itu, tapi susah sekali didapatkan," ucapnya.

Sulitnya mendapatkan teripang juga dirasakan di Nusa tenggara Timur.

Nicodemus Dahoklory, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Nusa Cendana, Kupang, menilai penyebabnya dipicu oleh dua kelompok nelayan.

"Ada nelayan yang memang sengaja mencari teripang dalam jumlah besar dan ukuran besar untuk ekspor. Tapi, ada juga nelayan yang mendapatkan teripang untuk dimakan mentah. Di NTT, nama makanan itu adalah lawar," kata Nicodemus.

"Nelayan jenis ini menangkap teripang dari berbagai ukuran, yang kecil juga diambil. Akibatnya, menurun populasi teripang," imbuhnya.

Hak atas foto THEO ROUBY/AFP/Getty Images
Image caption Seorang penyelam mengambil teripang dari dalam laut di perairan New Caledonia, Samudera Pasifik. Di Indonesia, berbagai peneliti mengatakan teripang kini sulit didapatkan.

Mengapa tren ekspor bisa meningkat?

Jika teripang makin sulit didapatkan, lalu mengapa tren ekspor bisa meningkat?

Ana Setyastuti dari LIPI menengarai bahwa penjualan teripang beberapa tahun terakhir juga mengeksploitasi jenis-jenis teripang yang selama ini tidak diambil.

Situasi ini belum bisa ditentukan secara pasti, mengingat data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak menjabarkan secara detil jenis teripang apa saja yang diekspor.

"Sepanjang 2016 hingga 2017 kami melakukan survei lapangan. Ada tambahan jenis-jenis lain yang masuk dalam perdagangan. Jadi 54 jenis itu masih nambah lagi ternyata. Sekitar empat sampai lima jenis tambahan yang masuk perdagangan," ujar Ana.

Temuan lainnya, jenis teripang yang dieksploitasi beberapa tahun terakhir juga merambah jenis yang selama ini dianggap nilai jualnya rendah.

Ana mendapatkan fakta ini di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

"Holothuria rocio maculata yang dikenal masyarakat setempat sebagai teripang hitam ternyata juga dijual. Ini rekor untuk Indonesia loh. Ini tuh nggak masuk daftar teripang yang dieksploitasi secara global versi FAO," cetusnya.

Pentingnya pendataan

Sebagai langkah awal perlindungan terhadap teripang, LIPI kini berupaya mendeteksi jumlah teripang, jenis-jenisnya, dan distribusinya dengan menggandeng berbagai peneliti dan pemangku kepentingan di Indonesia.

"Kita men-training banyak orang dari Sabang sampai Merauke untuk menyamakan metode pemantauan stok teripang. Dengan metode ini diharapkan data itu bisa disampaikan ke kami, 'Ini loh jumlah teripang di Indonesia, jenis ini dan ini, distribusinya begini'," kata Ana.

"Data itu kemudian akan kami bandingkan dengan data jaman dulu," tambahnya.

Hak atas foto THEO ROUBY/AFP/Getty Images
Image caption Seorang nelayan di New Caledonia, Samudera Pasifik, membersihkan teripang yang baru diambil dari dalam laut. Dokumentasi mengenai keberadaan teripang di Indonesia sedang disusun sehingga rekomendasi mengenai perlindungan teripang bisa dikeluarkan.

Berpijak dari data tersebut, Ana berharap bisa membuat rekomendasi perlindungan teripang di Indonesia.

"Dokumen itu nantinya akan diberikan kepada pihak CITES untuk mengatur perdagangan teripang secara internasional," kata Ana, merujuk Convention in International Trade in Endangered Species of Wild Fauda and Flora.

"Formulasinya bisa berupa perlindungan terbatas, apakah perlindungan terbatas berdasarkan ukuran, perlindungan terbatas berdasarkan lokasi saja, atau bagaimana," tambahnya.

Peran krusial teripang

Perlindungan tersebut dipandang penting lantaran ketiadaan atau kekurangan teripang akan berdampak buruk pada ekosistem laut.

Ana menjelaskan bahwa teripang adalah bottom feeder, yaitu makhluk yang hidup dari memakan organisme di dasar laut.

"Dia akan menyerap pasir laut. Lalu di dalam perutnya, organiknya diserap, dikeluarkan lagi pasir yang sudah bersih. Kemampuan seperti itu membuat area sedimen pesisir dan terumbu karang akan gembur. Efeknya di situ akan ada banyak mahkhluk , di situ akan ada banyak ikan."

"Nah, kalau teripang tidak ada, sendimen tidak gembur, tidak banyak zat-zat organik, ikan-ikan berkurang, mata pencarian masyarakat juga berkurang. Itu efek jangka panjangnya," tegas Ana.

Berita terkait