Gebrakan Paris Fashion Week dengan pesan feminis dan politis

Switer Dior Hak atas foto Getty Images
Image caption Desain Dior yang diperagakan di panggung di antaranya koleksi baju hangat bertuliskan "C'est non, non, non et non!"

Panggung peragaan busana Dior dalam perhelatan Paris Fashion Week kali ini penuh dengan berbagai pernyataan politik yang terinspirasi oleh gerakan kaum muda 1960-an.

Maria Grazia Chiuri, perempuan pertama yang menjadi direktur kreatif di rumah mode Dior, membandingkan gelombang perubahan yang dipelopori anak muda tahun 1960-an dengan dengan situasi saat ini, "Mengubah dunia juga berarti mengubah busana," katanya.

Ia juga memberikan sorotan khusus pada feminisme. Model dan aktivis Inggris Ruth Bell memimpin barisan para model dengan mengenakan baju hangat bertuliskan slogan "Non, non, non et non!" : Tidak, tidak, dan tidak.

Berbagai semboyan seperti "Women's Rights Are Human Rights atau hak perempuan adalah hak asasi manusia" tertulis di dinding.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Chiuri adalah perempuan pertama yang menjadi direktur kreatif Dior.

Ini merupakan penampilan keempat perancang Italia itu bersama Dior - penampilan pertamanya dikenang untuk kaus dengan tulisan legendaris "Kita semua harus jadi feminis".

Pertunjukan terbaru, yang dipentaskan di taman Musee Rodin, juga menampilkan dinding yang menggunakan gambar sebuah sampul majalah Vogue tahun 1968, yang ditemukan Chiuri di arsip Dior.

Rok mini

Pertunjukkan busana ini ditandai pula dengan aksi demonstrasi "asyik" oleh para aktivis perempuan di luar butik Dior di London.

Kelompok The British Society for the Protection of Mini Skirts atau Masyarakat untuk Perlindungan Rok Mini Inggris melakukan demonstrasi di depan rumah mode itu dua tahun sebelumnya untuk memprotes Dior yang gagal memasukkan satu pun rok mini ke dalam koleksinya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tempat peragaan busana tersebut dihiasi desain majalah Vogue tahun 1968.

Protes tersebut kemudian mendorong desainer Marc Bolan untuk menciptakan seri Miss Dior yang lebih bersemangat muda dan segar - termasuk rok mini.

"Saya pikir sangat menarik melihat mode yang memperhatikan aspirasi para perempuan," kata Chiuri. "Dan ada satu hal sekarang ini yang mirip dengan tahun 1968. Ini adalah momen saat semuanya berubah."

Sang perancang mengatakan bahwa ia juga terinspirasi oleh "Youthquake" yang ditulis editor Vogue New York, Diana Vreeland pada akhir tahun 1960-an, dan bagaimana hal itu mencerminkan gerakan-gerakan Me Too dan Times Up yang digemakan dewasa ini.

"Ia menulis bahwa ada generasi baru yang mengubah pandangan kita tentang seksualitas, tentang laki-laki dan tentang perempuan. Dalam banyak hal (apa yang terjadi) sekarang adalah momen lain seperti ini," kata Chiuri kepada AFP.

Aktris Isabelle Huppert dan model Cara Delevingne menyimak dari barisan depan, seperti yang dilakukan ikon tahun 1960-an, Bianca Jagger waktu itu.

Topik terkait

Berita terkait