Perempuan yang mendobrak dunia seni rupa yang dikuasai para lelaki

Annie Swynnerton Hak atas foto Getty Images
Image caption Potret pemimpin kesetaraan perempuan di abad ke-19, Dame Millicent Fawcett yang dilukis oleh perupa Annie Swynnerton.

Di era Victoria teknologi photoshop belum ditemukan, namun sebagian besar tubuh perempuan sudah diberi sentuhan 'airbrush', biasanya dilukis oleh para seniman laki-laki sebagai objek kecantikan ideal.

Annie Swynnerton melihat segala sesuatunya secara berbeda, dan ia pun meninggalkan jejak bagi para pelukis perempuan.

Tatkala ia terpilih sebagai anggota Royal Academy (RA), komunitas paling eksklusif di dunia seni rupa Inggris itu masih merupakan klub khusus laki-laki.

Saat itu tahun 1922 dan ia adalah perempuan pertama yang bergabung di dalamnya sejak akademi tersebut berdiri 154 tahun sebelumnya.

Kenyataannya, butuh waktu lama bagi Royal Academy untuk menerima Swynnerton menjadi anggotanya, mengingat ia sudah berusia 77 tahun saat bergabung dan kebanyakan pria sudah pensiun pada usia 75 tahun.

Hak atas foto National Museums Liverpool, Walker Art Gallery.
Image caption Salah satu karya Annie Swynnerton di tahun 1895: The Sense of Sight.

Pelukis kelahiran Manchester itu hanya diterima di Royal Academy berkat lobi-lobi yang dilakukan para pengagumnya yang sebagian besar adalah para perupa lelaki yang sudah tersohor.

Bahkan saat itu ia tidak diizinkan menjadi anggota penuh: ia hanya menjadi associate member.

Ketika itu, Swynnerton menjadi terbiasa menghadapi berbagai rintangan dalam kehidupan kesenimanannya, sampai ia berkata bahwa ia harus "berjuang dan menderita" untuk mendapatkan pengakuan.

"Saya harus berjuang keras," katanya pada tahun 1933, sesaat sebelum kematiannya.

"Anda tahu, tatkala saya masih muda, kaum perempuan tidak mungkin melukis atau begitulah kira-kira."

"Dunia meyakininya dan tidak menghendaki karya kaum perempuan, betapapun tulusnya, betapa pun bagusnya karya itu," tambahnya.

Hak atas foto Royal Academy Collection
Image caption Foto Annie Swynnerton tahun 1931.

Bakat Swynnerton, dan perannya dalam meraih pengakuan sebagai pelukis perempuan, dirayakan setelah beberapa dasawarsa diabaikan.

Galeri Seni Manchester menggelar pameran pertama yang dipenuhi karyanya sejak tahun 1923, setahun setelah ia bergabung dengan RA.

Rebecca Milner, seorang kurator di galeri tersebut, mengatakan "banyak prasangka" pada akhir zaman Victoria, ketika Swynnerton mencoba menempa kariernya.

"Ada kecurigaan bahwa para perupa perempuan tidak memiliki kemampuan berpikir yang hebat secara intelektual dan seakan mereka tidak akan bisa mengungkapkan gagasan-gagasan hebat dalam karya atau lukisan mereka sebagaimana pria," kata Milner.

Dame Laura Knight, yang pada tahun 1936 menjadi perempuan pertama yang menjadi anggota penuh RA, pernah mengatakan, "Kami kaum perempuan yang beruntung karena terlahir setelah Nyonya Swynnerton berhutang budi kepadanya."

"Setiap perempuan yang mencapai prestasi dalam dunia seni nyaris tak diketahui sampai Swynnerton datang dan mendobrak berbagai rintangan prasangka."

Swynnerton menghadapi prasangka bukan hanya untuk gendernya tapi juga untuk oleh pendekatan seninya: ia menggambar tubuh secara realistis dan tidak romantis, yang ditepiskan oleh mereka yang lebih menyukai fantasi klasik sempurna.

Ia bahkan tidak bisa menekuni studi seni lukis di Inggris -para mahasiswi di Sekolah Seni Manchester hanya diizinkan melukis sosok berbalut pakaian- jadi ia pergi ke Roma dan Paris untuk melakukannya.

Hak atas foto Manchester Art Gallery
Image caption Karya Annie Swynnerton lainnya: Illusions dilukis pada tahun 1902.

Pada tahun 1879, dalam kemarahan karena Akademi Seni Rupa Manchester tidak menerima seniman perempuan, Swynnerton dan sahabatnya, Isabel Dacre mendirikan sebuah perkumpulan.

Asosiasi Pelukis Perempuan Manchester itu kemudian mengadakan berbagai pameran dan kelas-kelas seni, diantaranya kelas menggambar, selama lima tahun, hingga akhirnya Akademi Seni Rupa Manchester melunak dan mengakui perempuan perupa setara dengan kaum laki-laki.

Rebecca Milner mengatakan, "Perjuangan kaum perempuan di Manchester itu berlangsung hampir 10 tahun untuk mendobrak berbagai hambatan agar bisa ikut dalam pelatihan. Dan akhirnya tujuan mereka tercapai."

Karya seni Swynnerton bersilang sengkarut pula dengan aktivisme dan politik.

Ia menandatangani deklarasi untuk menuntut hak pilih perempuan pada tahun 1889 dan memimpin Liga seniman untuk Hak Pilih perempuan, yang merupakan bagian dari Women's Coronation Procession pada tahun 1911.

Pandangannya yang jernih dan pemikiran independen tentang subjeknya, menarik perhatian rekan-rekan seniman dan anggota gerakan hak pilih.

Beberapa kalangan membeli lukisannya, sementara yang lain - seperti pemimpin gerakan hak pilih perempuan, Dame Millicent Fawcett, menggunakan jasanya untuk melukisnya.

"Jaringan perempuan ini saling mendukung untuk melipat-gandakan upaya mereka agar menjadi profesional di bidang pilihan mereka masing-masing," kata Milner.

Hak atas foto Gallery Oldham
Image caption Lukisan Cupid & Psyche karya Annie Swynnerton (1890).

Kejujuran Swynnerton dalam menggambarkan tubuh perempuan membuat opini orang-orang terbelah.

Pada tahun 1890 kritikus Frederic George Stephens menganggap sosok perempuan dalam lukisan Cupid and Psyche berpenampilan "kasar dan pipi merona".

"Kulitnya tak terlihat manis, serasi atau pun murni seperti seperti gadis remaja," katanya.

Tapi Jurnal Seni Claude Phillips mengatakan tubuh Psyche "memiliki getaran kenyataan yang tidak ditemukan dalam banyak lukisan telanjang oleh seniman Inggris kontemporer".

Kendati banyak perbedaan pendapat da;lam memandangnya, reputasi Swynnerton terus meroket.

John Singer Sargent membeli lukisan Oreads 1907, yang kemudian membuatnya menyatakan bahwa Swynnerton adalah "salah satu pelukis modern terbesar".

Singer Sargent adalah salah seorang pendukungnya saat ia pertama kali dicalonkan masuk Royal Academy pada tahun 1914.

Namun serangan gerakan hak pilih perempuan terhadap lukisan-lukisan di galeri mreka pada tahun itu membuat upayanya jadi terhambat.

Pencalonan Swynnerton berikutnya terjadi pada tahun 1920, dan setelah upayanya yang ketiga kali ia pun akhirnya menjadi associate member dua tahun kemudian.

Hak atas foto Manchester City Galleries
Image caption Potret diri Annie Swynnerton yang dilukis oleh Gwenny Griffiths (1928)

Sejak trobosan Swynnerton itu, berbagai hal mengalami kemajuan cepat.

Saat ini, 28% seniman di Royal Academy adalah perempuan, dan 44% dari yang terpilih dalam 10 tahun terakhir adalah perempuan.

Tahun lalu, media Inggris, Guardian melaporkan bahwa di berbagai galeri umum, lukisan-lukisan yang dibuat oleh kaum lelaki jauh lebih banyak dibanding perempuan.

Misalnya, 20% karya seni di galeri Whitworth di Manchester dibuat oleh perempuan, sedangkan 35% di Tate Modern.

Perlu waktu 95 tahun untuk bisa memamerkan karya-karya Swynnerton.

Itu terutama lantaran galeri-galeri umum baru mulai mengoleksi karya-karyanya setelah ia terpilih menjadi anggota RA.

Sementara lukisan-lukisan karya perempuan lainnya di zaman Victoria masih terabaikan.

"Banyak perempuan prupa dari generasi tersebut yang mengalami nasib buruk yang sama," kata Milner.

"Kita cukup beruntung bahwasanya banyak karya Swynnerton yang selamat karena menjadi koleksi di galeri-galeri umum," tambahnya.

Berita terkait