Trio Nonaria bawakan musik tempo dulu dengan pesan ‘bahagia itu sederhana’

nonaria Hak atas foto Nonaria
Image caption Trio Nonaria tampil dalam festival Java Jazz di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Malam itu, tiga perempuan mencuri perhatian para pengunjung Festival Java Jazz di Jakarta. Dengan mengenakan gaun merah muda dan rok biru berhias bunga-bunga, trio bernama Nonaria tersebut mengentak panggung seraya membawakan delapan lagu bernuanza Jazz era 1950-an dan lirik yang menggelitik.

Sejak dibentuk pada 2013 lalu, trio beranggotakan Nanin Wardhani, Nesia Ardi, dan Yasintha Pattiasina terus mengusung lagu-lagu bernuansa Jazz mengingat ketiga personelnya akrab dengan genre musik tersebut sejak kanak-kanak.

Secara spesifik, tipe Jazz yang mereka mainkan adalah swing dan ragtime, yang juga pernah melekat pada lagu-lagu Indonesia era 1940-an hingga 1950-an. Salah seorang musisi panutan pada era tersebut adalah Ismail Marzuki.

"Beberapa lagu Ismail Marzuki juga kita bawain dan itu banyak mempengaruhi waktu kita nulis lagu," kata Nesia Ardi vokalis Nonaria.

Hak atas foto Nonaria
Image caption Album perdana Trio Nonaria berisi keping cakram padat dan beberapa kartu pos.

Karena Ismail Marzuki dan juga Bing Slamet sangat berpengaruh pada musik Nonaria, beberapa lagu terdengar tidak asing. Tembang berjudul Santai, misalnya, mengingatkan khalayak pada musik Indonesia tempo dulu yang banyak mengandalkan unsur suara dari piano dan biola.

Lagu ala tempo dulu seperti ini, menurut Yasinta Pattiasina selaku pemain biola pada trio Nonaria, memang sengaja diciptakan justru untuk memperkaya khazanah musik Indonesia masa kini.

"Kami memang berniat memperkaya khazanah musik Indonesia dengan tampil beda. Kalau kita dengar lagu Indonesia tahun 40-an dan tahun 50-an, ya begini bunyinya. Warna swing dan ragtime-nya kental dan liriknya sesuatu yang sehari-hari tapi masuk akal," kata Yasintha.

Hak atas foto Nonaria
Image caption Trio Nonaria terdiri dari Nanin Wardhani (kiri/piano), Nesia Ardi (tengah/vokalis), dan Yasintha Pattiasina (kanan/biola)

Lirik bertema keseharian memang terdengar jelas setelah mendengar lagu-lagu Nonaria yang hampir semua bernada riang.

Lagu berjudul, Sayur Labu, contohnya, menceritakan seseorang yang membantu ibunya di dapur memasak sayur labu.

Yasintha mengatakan bahwa lirik dalam lagu-lagu Nonaria memang harfiah.

"Lagu Sayur Labu memang tentang sayur labu. Sebab itu dekat dengan keseharian kita. Apalah artinya lontong sayur jika tidak ada sayur labu? Dia hanya menjadi lontong," kata Yasintha yang disambut gelak tawa rekan-rekannya.

Hak atas foto Nonaria
Image caption Pembawaan trio Nonaria yang riang sejalan dengan nada lagu yang ceria dan menggelitik.

Pembawaan para personel Nonaria yang riang sejalan dengan lagu-lagu dalam album perdana Nonaria yang terdengar ceria dan kocak seperti Maling Jemuran.

Hampir saja kujotos, seorang pria plontos, yang berpakaian biru polos. Lalu 'ku bersalaman, "Apa kabar hai Paman? Aku kira maling jemuran!"

"Kita tidak punya lagu sedih di sini karena kita ingin menambah aura positif dan nggak selalu harus mengenai cinta. Ketika bikin lagu temanya bisa sesuatu yang sederhana, jadi inspirasi bisa datang dari hal-hal kecil," kata Nesia.

Yasintha menambahkan, bahwa misi mereka cukup simpel.

"Lagu mainstream sekarang kan isinya putus cinta, galau selingkuh, dan apalah itu. Yang kita ingin angkat adalah 'bahagia itu sebenarnya sederhana'. Kadang-kadang kita lupa dalam menghadapi event hidup yang sedih, bahwa hal kecil bisa membuat bahagia," ujar Yasintha.

Nanin menimpali, "Harapan kita orang bisa senang mendengar lagu kita. Lebih bagus kalau terkekeh-kekeh.

Hak atas foto Nonaria
Image caption "Yang kita ingin angkat adalah 'bahagia itu sebenarnya sederhana'," kata Yasintha Pattiasina, pemain biola Nonaria.

Harapan agar musik Nonaria membawa kebahagiaan rupanya terwujud. Devi, salah seorang pengunjung, mengaku perasaannya sungguh positif setelah mendengar repertoar trio tersebut.

"Aku sudah datang ke tur mereka dua kali. Musik mereka bikin good mood . Nonaria itu bikin saya, 'Oh asyik juga tidak perlu kekinian, tapi tetap autentik," paparnya.

Berita terkait