Uni Emirat Arab terapkan 'pajak dosa', jumlah perokok tetap tinggi

Perokok Hak atas foto CHRIS JACKSON/GETTY
Image caption Pemerintah Uni Emirat Arab telah menaikkan harga tembakau sebanyak dua kali lipat, namun beberapa kalangan mengatakan hal itu hanya berdampak bagi para perokok yang berpenghasilan rendah.

Setelah selama setahun pemerintah Uni Emirat Arab menerapkan 'pajak dosa' untuk mengurangi jumlah perokok, hasilnya hanya satu dari empat perokok yang mengubah kebiasaannya.

Menurut jajak pendapat terhadap 600 perokok yang dilakukan oleh surat kabar The National, sekitar tiga perempat di antara mereka mengatakan bahwa harga rokok yang naik dua kali lipat pada bulan Oktober 2017 tidak menyebabkan mereka berhenti merokok.

Bahkan, jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa pengguna medwakh - rokok pipa khas Arab - mengalami peningkatan.

Berbicara kepada The National, Dr Saheer Sainalabdeen, seorang pakar kesehatan di bidang pernapasan, menuturkan bahwa ia melihat lebih banyak pria-pria muda yang harus dioperasi akibat menggunakan rokok pipa ini.

"Sekali menghisap rokok medwakh setara dengan menghisap empat atau lima batang rokok," katanya, sambil mencatat bahwa ada juga yang merokok setara dengan lima paket rokok setiap harinya.

'Pajak dosa', yang secara resmi dikenal dengan nama Pajak Cukai, mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 2017, sebagai upaya untuk mempromosikan kehidupan yang lebih sehat di di kalangan warga UEA.

Akibat pajak tersebut, harga rokok meningkat dua kali lipat. Pajak sebanyak 50% juga diberlakukan untuk berbagai jenis minuman berkarbonasi manis.

Beralih ke produk lain

Namun, tampaknya para perokok lebih memilih untuk beralih ke merek-merek rokok yang lebih murah daripada menyerah untuk tidak merokok sama sekali.

Meskipun sekarang harga rokok paling terkenal dibanderol seharga 22 dirham atau sekitar Rp82.000 per bungkus di UEA, para penggemar tembakau masih bisa membeli rokok seharga 3 dirham atau sekitar Rp11.000 yang menyebabkan permintaan harga minimum.

Pajak tersebut juga membuat beberapa pemilik toko turut menaikkan harga barang-barang lainnya.

The National melaporkan pada bulan November lalu, sebanyak 24 penjual eceran telah didenda atau mendapat peringatan karena menaikkan sejumlah harga bagi pelanggan yang sudah memperkirakan akan membayar lebih.

Hak atas foto MARWAN NAAMANI/AFP
Image caption Pajak yang dikenakan pada rokok dan minuman bersoda saja tidak cukup - beberapa negara juga akan menerapkan pajak yang sama pada makanan cepat saji.

Memerangi serangan jantung dan diabetes

Gagasan 'pajak dosa diberlakukan di wilayah tersebut setelah anggota Dewan Kerja Sama Teluk sepakat untuk mengambil langkah bersama untuk mengatasi gaya hidup yang tidak sehat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan penerapan pajak tinggi adalah satu dari beberapa langkah efektif untuk membuat orang berhenti merokok.

Surat kabar Muscat Daily melaporkan, Arab Saudi dan Bahrain telah memperkenalkan pajak serupa, dan Oman baru akan memulai 'pajak dosa' ini pada bulan Juni mendatang, dengan menaikkan harga dua kali lipat untuk alkohol, minuman berenergi dan tembakau.

Dr Jawad al-Lawati mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa Oman juga akan menerapkan pajak untuk makanan cepat saji.

"Apa yang akan kita kendalikan adalah diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular."

Berita terkait