Kekerasan rumah tangga: Foto yang membantu korban kembali mencintai dirinya

Olga, Alina Hak atas foto Dasha Buben
Image caption Olga (kiri) dan Alina (kanan) yang ikut dalam proyek foto Dasha Buben untuk membuat perempuan mencintai dirinya lewat foto mereka sendiri.

Sepintas lalu, foto-foto perempuan yang tersenyum, santai, dan percaya diri ini adalah foto perempuan biasa dari belahan dunia manapun.

Namun foto-foto karya Dasha Buben punya cerita yang berbeda.

Para perempuan yang difoto adalah yang selamat dari kekerasan rumah tangga atau KRT di Belarus, tempat tiga dari empat warga -baik perempuan maupun pria- menderita kekerasan di dalam rumahnya sendiri, menurut laporan Dana PBB Untuk Kependudukan, UNFPA.

Salah satunya adalah Alina.

"Saya merasa cuma tubuh yang tidak berkelamin, yang hanya ada untuk dipukuli," kata perempuan berusia 22 tahun ini.

Ada masanya, dia terpaksa berkeliaran di jalanan dekat rumahnya untuk melarikan diri dari kekerasan fisik yang dilakukan adik laki-lakinya sendiri.

"Ketika masih anak-anak, saya menderita cedera yang traumatik dan saudara laki-laki saya terus mengulang-ulang: "Sayangnya, kau tidak mati-mati," kenang Alina.

"Ibu saya selalu berpihak ke dia. Saya khawatir dia akan melukai atau membunuh saya... Akhirnya saya melukai diri sendiri dengan pisau."

Ada jalan ke luar

Pada satu malam bulan Januari tahun 2017 lalu, Alina tidak pulang ke rumah. Dia memilih pergi ke rumah inap Radislava, sebuah lembaga nonpemerintah yang menawarkan penampungan sementara bagi para korban kekerasan rumah tangga.

Di tempat itulah dia terlibat dengan proyek foto yang diberi namaI Survived.

Proyek ini disiapkan oleh Dasha Buben berkerja sama dengan perias wajah dan penata rambut untuk membantu agar korban-korban KRT bisa mendapatkan kembali kepercayaan diri lewat serangkaian foto.

Hak atas foto IZIMON TSIMASHPOLSKAYA
Image caption Dasha Buben (kanan) menyambut kedatangan salah seorang yang bersedia ikut dalam proyek fotonya.

Saya ingin memperlihatkan bahwa ada jalan ke luar," jelas Dasha, mantan editor foto di sebuah majalah di Belarusia.

"Untuk membuat para perempuan mencintai dirinya sendiri melalui foto, namun juga membuat mereka sealami mungkin."

Dia berkonsultasi dengan psikater sebelum mengambil foto dan berupaya untuk membuat para perempuan yang difoto merasa nyaman di depan kamera. Hal yang lebih mudah diucapkan dibanding dikerjakan.

"Mereka datang dan berpaling dari kamera. Mereka takut. Saya harus menyalami dan berbicara dengan mereka untuk membuat mereka merasa aman," jelas Dasha.

Hak atas foto Dasha Buben
Image caption Dasha menggunakan foto hitam putih untuk mencegah perhatian terganggu oleh warna. Foto Irina (kiri) dan Natalya (kanan)
Hak atas foto Dasha Buben
Image caption Beberapa dari 25 perempuan yang berpartisipasi sampai ikut sesi foto selama tiga hari. Foto: Diana (kiri) dan Nastya

"Saya malu ketika mereka melihat saya. Malu dengan pose dan tubuh saya karena berat badan saya agak berlebih," kenang Alina.

Baginya, untuk tampil di depan kamera merupakan sebuah tantangan.

"Dalam kehidupan sehari-hari, saya adalah perempuan yang tidak menarik yang tidak merasa aman dengan kaus longgar. (Saat sesi foto) mereka menata rambut dan merias wajah sehingga saya menyadari bahwa saya juga bisa terlihat cantik."

'Mata yang ramah'

"Saya amat tidak suka yang ini. Kurang cantik," kata Elena yang berusia 43 tahun saat melihat salah satu fotonya.

Elena meninggalkan kampung halamannya di Vileyka bersama putranya yang berusia 11 tahun setelah pasangannya melakukan kekerasan fisik. Pria itu juga mengancam akan mencarinya untuk membunuhnya.

Kini dia tinggal di Minsk, ibu kota Belarus, bekerja di dua tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Awalnya, saya merasa amat lelah (saat sesi foto) karena hanya bisa duduk. Namun kemudian saya bisa juga berpose sendiri dan menikmatinya,"

Hak atas foto Alexander Vasiukovich/Dasha Buben
Image caption Elena mengatakan melihat ke fotonya jika dia merasa perlu meningkatkan keyakinan dirinya.

"Fotografer-nya mengatakan saya memiliki mata yang paling ramah yang pernah dilihatnya. Dan dia kemudian menangis. Saya juga menangis," tutur Elena. .

Berfoto sebagai rehabilitasi

Saat ini tidak ada undang-undang yang khusus untuk KRT di Belarus.

Sejak tahun 2014, pengadilan hanya bisa menerapkan perintah untuk menjaga jarak dengan tersangka bagi pelaku tindak kekerasan rumah tangga. Dan statistik dari sambungan telepon khusus untuk bantuan memperlihatkan semakin banyak korban yang melaporkan kekerasan yang dialami.

Namun para pegiat mengatakan banyak yang tidak mau melapor ke polisi atau menarik kembali laporannya karena khawatir tidak mendapat perlindungan maupun karena menganggap bahwa hukumannya tidak akan efektif.

Proyek-proyek kreatif seperti sesi foto ini membantu untuk membuat masalahnya jadi lebih terlihat, menurut Olga Gorbunova, Direktur Radislava, yang sudah 15 tahun meneliti masalah kekerasan rumah tangga.

Dia menambahkan media sosial juga berperan penting dalam proses rehabilitasi; para korban menerbitkan foto dan kemudian mendapat puluhan komentar maupun 'suka'.

Hak atas foto UNFPA/Maxim Ermolenko
Image caption "Anak-anak saya mulai lebih menghormati saya," kata Olga.

"Terlepas dari seberapa berat psikiater bekerja dengan para korban, reaksi spontan dan jujur dari pengguna Facebook seringkali memiliki dampak yang lebih kuat dan positif atas para perempuan itu," jelas Olga, yang juga menderita kekerasan rumah tangga ketika dulu masih kecil.

"Bagi saya itu adalah temuan yang nyata."

Masih banyak kerja di depan

Dasha mengatakan proyek fotografi perempuan korban KRT merupakan yang terberat sepanjang kariernya selama 13 tahun. Dia sampai merasa perlu memotong pendek rambutnya, 'demi melepas tekanan dan emosi yang negatif'.

"Tujuan dari membuat foto potret ini, yang pertama adalah menawarkan terapi kejiwaaan dan proses penerimaan diri, yang bersamaan dengan pengembangan kepercayaan diri," tutur Dasha.

"Namun masih banyak kerjaan di depan sana."

Hak atas foto UNFPA/Maxim Ermolenko
Image caption Cita-cita Alina adalah menjadi psikiater untuk membantu korban KRT.

Sementara Alina juga merasa perlu melakukan lebih banyak lagi untuk meningkatkan citra dirinya.

"Saya sudah bisa menerima tubuh saya namun belum seluruhnya. Sekarang saya harus menemukan dan menerima siapa saya."

Rencana jangka pendek Alina adalah menjadi pelukis tato, paling tidak untuk melukis tato di atas bekas luka di tubuhnya, yang dulu dibuatnya sendiri namun kini disesalkannya.

"Tapi itu cuma kegemaran untuk mendapatkan uang," katanya, "Mimpi yang sebenarnya adalah menjadi psikiater untuk membantu korban kekerasan rumah tangga seperti saya."

Berita terkait