Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta dituduh ganggu lingkungan

yogya, bandara Hak atas foto Furqon Ulya Himawan
Image caption Seorang warga yang sedang mencari rumput melintas areal lahan yang sekarang sudah kosong, di Desa Glagah, Temon, Kulonprogo, Yogyakarta. Sejumlah warga memilih pergi meninggalkan areal pertanian, sementara lainnya memilih tidak mau menjual lahan pertaniannya untuk pembangunan bandara.

Di bawah terik matahari, Sukasih dan anak perempuannya menanam bawang merah seraya berpeluh di Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain bawang merah, di lahan pertaniannya itu Sukasih menanam berbagai macam sayur mayur dan buah-buahan. Dia juga menanam padi di lahan pertaniannya yang lain.

"Sudah puluhan tahun kami bertani," kata Sukasih.

Panas semakin menyengat. Caping yang dikenakannya dilepas. Keringat yang membasahi wajahnya dilap menggunakan lengan kaos yang dipakainya. Tak ada jeda lama, dia dan anaknya terus menanam sampai selesai.

Sukasih adalah perempuan petani dari Kecamatan Temon. Di daerahnya itu, banyak petani lain yang sudah menjual lahan mereka dan angkat kaki demi pembangunan bandara berkelas dunia, New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Namun Sukasih tetap bertahan, dia tidak mau menjual lahan pertaniannya.

"Saya tetap akan bertani dan mempertahankan pertanian," ujar Sukasih, kepada wartawan di Yogyakarta, Furqon Ulya Himawan.

Sukasih tidak sendirian. Masih ada sekitar 80 kepala keluarga dari 37 rumah di Desa Glagah dan Palihan Kecamatan Temon yang tidak mau menjual tanah mereka.

Padahal, dari 645,63 hektare yang diperlukan untuk pembangunan bandara, 603,94 hektare di antaranya merupakan wilayah Desa Glagah.

Hak atas foto Furqon Ulya Himawan
Image caption Sukasih sedang menanam bawang merah di lahannya. Dia tidak mau menjual tanahanya dan memilih mempertahankan lahan pertaniannya.

Wijianto, penduduk Desa Glagah yang juga menolak proyek bandara, mengemukakan alasan mengapa dia dan kepala keluarga lainnya berkeras tidak mau pindah.

Lahan pertanian di Desa Glagah, menurutnya, teramat subur. Kondisi itu bisa dinikmati warga setelah bertahun-tahun mengolah tanah pasir.

"Sebelum pembangunan, tempatnya luar biasa. Tanah pasir tapi bisa dikelola masyarakat menjadi subur. Prosesnya juga lama, tanahnya dikasih pupuk kandang dan dicoba ditanami cabai. Ternyata bisa menghasilkan. Setiap hari bisa berton-ton. Duitnya jutaan. Benar-benar bisa menghidup anak dan istri," papar Wijianto.

Lelaki beranak satu itu kini memiliki sekitar 2.000 meter persegi lahan pertanian. Sebanyak 1.000 meter persegi dia tanami padi, dan sisanya ditanami sayur-mayur dan palawija.

Hasil pertanian mereka bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Kulonprogo, dan luar kota. Bahkan, hasil buah-buahannya dijual sampai luar Pulau Jawa.

Penolakan sejumlah warga desa dapat dipahami Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta, Halik Sandera. Dia menyebut pembangunan bandara Kulonprogo akan menimbulkan pencemaran yang berpengaruh pada lahan pertanian.

"Produktivitas dan kualitas pangan menurun karena terpapar polusi udara," ujarnya.

Penurunan produktivitas lahan pertanian praktis akan berdampak pada ketersediaan pangan di Yogyakarta.

"Konsepnya Kota Bandara, itu kan akan berkembang pesat. Iotu pasti akan menghilangkan lahan warga yang sebagian besar lahan pertanian. Tidak hanya keterancaman petani dan lahan pertanian, tapi juga akan ada keterancaman ketersediaan pangan di Yogyakarta," terang Halik.

Hak atas foto Furqon Ulya Himawan
Image caption Sekitar 80 kepala keluarga di Desa Glagah dan Palihan menolak menjual lahan mereka untuk pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Habitat burung langka terancam

Lepas dari dampaknya terhadap lahan pertanian, proyek pembangunan juga dikhawatirkan berimbas pada habitat sejumlah spesies burung langka.

Pasalnya, sebagaimana diterangkan Imam Taufiqurrahman, selaku direktur Yayasan Kutilang Indonesia, lokasi Bandara NYIA berada di antara muara Sungai Progo di timur dan muara Sungai Bogowonto di barat yang menjadi jalur habitat burung langka dan pergerakan burung migran.

Imam merujuk Cerek Jawa (Charadrius javanicus), burung pesisir penetap yang langka, bukan migran. Spesies ini berbiak di Muara Progo, bertelur di bentang pasirnya. Populasinya kecil dan terancam punah.

Selain Cerek Jawa, Imam menemukan habitat burung lokal lainnya, seperti Berkik Kembang Besar (Rostratula benghalensis), Gagang Bayam Timur (Himantopus lecocephalus), dan Dara Laut Jambul (Thalasseus bergil).

Untuk nama burung yang terakhir ini, menurut Imam, populasinya besar di Pantai Trisik tapi tidak berbiak di sana. "Paling dekat dia di Karimun Jawa lokasi biaknya," katanya.

Hak atas foto Furqon Ulya Himawan
Image caption Sejumlah burung dara laut jambul (Thalasseus bergii) terbang rendah di sekitar delta sungai Progo, di Pantai Trisik. Burung ini adalah jenis burung penetap dan bisa ditemukan di Sungai Bogowonto yang bermuara di Pantai Congot dekat lokasi bandara NYIA yang sedang dibangun.

Tak hanya burung lokal, muara Sungai Progo di Pantai Trisik dan wilayah sekitarnya menjadi tempat transit burung-burung pantai migran di Indonesia, seperti Kedidi Putih (Calidris alba) yang jumlahnya mencapai 2.000-an ekor dan burung Trinil Semak (Tringa glareola) sampai 1000-an ekor.

Dari beragam jenis burung migran yang singgah di pantai sekitar lokasi Bandara NYIA, Imam menemukan sejumlah spesies yang secara global dinyatakan terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Sebut saja burung Gajahan Timur (Numenius madagascariensis), burung Kedidi Besar (Calidiris tenuirostris), dan burung Biru Laut Ekor Hitam (Limosa limosa).

Burung-burung migran itu, menurut Imam, berasal dari daerah Siberia, Mongolia, Asia Utara dan sekitarnya dengan tujuan Papua, Selandia Baru, dan Australia. Mereka bergerak melintasi Indonesia yang merupakan lintasan antar benua bagi habitat tertentu burung migran (East Asia Australasia Flyway).

Setiap tahun burung-burung ini melakukan migrasi untuk menghindari musim dingin dan mencari makan.

Dalam pengamatan intens yang dilakukan sejak 2007, Imam menemukan 44 jenis burung pantai, 41 di antaranya adalah burung migran.

Imam mengkhawatirkan habitat burung-burung itu akan terancam seiring dengan pembangunan bandara yang lokasinya berada di jalur migrasi para burung.

"Mancing saja bisa ganggu burung, apalagi skalanya besar (pembangunan bandara) pasti ada gangguan. Perubahan habitat, lahan, pasti ada jenis burung tergusur, pindah. Itu mengubah keragaman," katanya.

Hak atas foto Furqon Ulya Himawan
Image caption Seekor burung gajahan nampak sedang berjalan mencari makan di muara sungai Progo, di Pantai Trisik.

'Tidak berpengaruh'

Hasto Wardoyo, Bupati Kulonprogo, menyatakan telah mengkaji terkait persoalan lahan pertanian dan burung migran. Menurutnya, selama ini keberadaan burung migran tidak dominan dan tidak berpengaruh pada pembangunan Bandara NYIA.

"Muara Bogowonto tidak ada burung migran. Yang ada mungkin agak ke barat. Jadi pengaruhnya praktis tidak ada. Kalau Trisik kan jauh dari aiport," tegasnya.

Hasto mengaku tetap optimistis Bandara NYIA bisa selesai pada Maret 2019.

Salah satu langkah yang akan dia lakukan adalah dengan terus membujuk warganya yang tidak mau menjual lahan pertaniannya agar mau melepasnya. Dia berjanji akan mengupayakan kawasan baru untuk mencetak sawah. "Kita akan mencetak sawah baru, sekitar 350 hektare," janjinya.

Akan tetapi janji yang diberikan Hasto Wardoyo tidak mempan. 80 kepala keluarga di Desa Glagah dan Palihan, Kecamatan Temon, tetap akan meneruskan menanam di lahan mereka sendiri dan tidak akan pindah.

"Kami tetap akan bertani di sini, tidak mau pindah. Pak Jokowi yang katanya suka blusukan, lihatlah kami. Kami semua itu warga Indonesia. Kita punya hak hidup dan bertani," kata Daliyah, salah seorang petani yang menolak menjual lahannya.

Berita terkait