Koor 'telanjang' murid perempuan Afrika Selatan memicu kemarahan

Angie Motshekga, Afrika Selatan Hak atas foto @DBE_SA
Image caption Menteri Pendidikan Dasar Afrika Selatan, Angie Motshekga, mengatakan penampilan murid perempuan itu sebagai bentuk eksploitasi.

Penampilan koor 'telanjang' sekelompok murid perempuan Afrika Selatan memicu kemarahan sampai menteri pendidikan dasar meminta agar dilakukan penyelidikan.

Angie Motshekga mengatakan 'amat kecewa' setelah melihat rekaman video koor murid perempuan suku Xhosa yang tampil dengan hanya mengenakan celemek kecil, yang disebut 'inkciyo'.

Menteri Motshekga mengatakan bahwa 'perlakuan tidak senonoh bertentangan dengan nilai-nilai budaya kita'.

Namun pemimpin koor mempertahankan pilihan pakaian tradisional itu dan mengaku bangga.

Menurut situs berita Daily Dispatch, guru pemimpin koor, Asive Yibana, mengatakan, "Kami bangga dengan tradisi Xhosa. Kami bangga dengan inkciyo. Kami bangga dengan perempuan dan anak perempuan Xhosa."

Xhosa merupakan kelompok etnik terbesar kedua di Afrika Selatan, yang banyak berdiam di kawasan Timur dan Tanjung Barat, Afrika Selatan.

Hak atas foto DispatchLive
Image caption Rekaman video memperlihatkan murid perempuan Xhosa menari dengan bagian dada dan pantat yang terbuka.

Rekaman penampilan koor yang muncul awal pekan ini adalah ketika mengikuti satu kejuaraan di Mthatha, Tanjung Timur, yang memperlihatkan para murid perempuan berada di panggung dengan bagian dada dan pantat terbuka.

Cuplikannya ditayangkan sebagai bagian dari sebuah video tentang tradisi Xhosa, seperti dilaporkan salah satu situs berita Afrika Selatan, Times Live.

Karena munculnya kemarahan sejumlah orang, maka masalahnya kemudian dibawa ke kementrian pendidikan dasar yang dipimpin Motshekga.

"Jelas amat tidak tepat dilihat dari para pendidiknya dan mereka seharusnya tahu yang lebih baik dibanding membawa para anak perempuan ke bentuk eksploitasi seperti ini," tuturnya dalam pernyataan yang dikutip kantor berita AFP.

"Jelas tidak ada yang salah untuk bangga dengan budaya dan warisan namun jelas tidak perlu bagi anak-anak itu untuk tampil telanjang," tuturnya dan menambahkan, "Perlakuan tidak senonoh bertentangan dengan nilai-nilai budaya kita."

Afrika Selatan memiliki angka kekerasan seksual atas perempuan dan anak perempuan di dunia, dengan data resmi pemerintah mencatat rata-rata 150 kasus pemerkosaan setiap harinya, seperti dilaporkan AFP.

Berita terkait