Mantan mata-mata Korut ingin pulang ke kampung halamannya

Foto Kim Young-sik
Image caption Kim Young-sik ditahan selama 26 tahun di sebuah penjara di Korea Selatan.

Kunjungan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un ke Korea Selatan pada bulan April lalu menjadi pertemuan bersejarah, setelah sekian lama kedua negara itu berseteru.

Perkembangan diplomatik Korea Utara itu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk sekelompok kecil orang-orang yang terdiri dari para mantan mata-mata Korea Utara yang kini bermukim di Korea Selatan.

Wartawan BBC Laura Bicker mengisahkan, para mantan mata-mata Korea Utara ini berharap bisa kembali lagi ke negara mereka, seiring dengan membaiknya hubungan Korea Utara dan Korea Selatan.

Kim Young-sik, warga negara Korea Utara merasa dirinya tak bisa lagi melihat negaranya dilanda kesengsaraan, kala itu ia masih berusia dua puluhan tahun.

Ia ingin menyingkirkan pengaruh kekuatan asing yang bercokol di kedua negara Korea, yang ia yakini telah membuat negaranya terpecah.

Pada tahun 1962, ia pergi ke Korea Selatan dengan menaiki kapal mata-mata Korea Utara sebagai seorang teknisi radio.

"Saya benci kekuatan asing yang telah memisahkan negara saya dan membuat orang-orang kami bertikai satu sama lain," katanya.

"Saat itu saya masih muda dan saya sangat mencintai keluarga saya di Korea Utara. Kami tak terpisahkan dan saya senang berada di sana.

"Namun, meski demikian, saya harus pergi ke Korea Selatan karena negara saya dilanda kesengsaraan."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebagian besar orang Korea Selatan hanya bisa melihat sekilas Korea Utara dari kejauhan, dengan menggunakan teropong yang berada dekat perbatasan.

Kapal mata-mata yang ditumpanginya berlayar melintasi rute panjang ke Ulsan agar tidak terdeteksi. Mereka hampir sampai ke Jepang sebelum kemudian berbalik menuju ke bagian tenggara pantai di Korea Selatan.

Tetapi, sebelum ia dapat menjalankan misinya, kapal yang ia tumpangi ditangkap dan ia pun dijebloskan ke dalam penjara. Ia lantas ditahan selama 26 tahun di sebuah penjara di Korea Selatan.

Kini ia telah dibebaskan dari penjara, dan diberi kewarganegaraan Korea Selatan. Namun, baginya hidup di Korea Selatan tak seperti tinggal di negaranya sendiri.

"Kehidupan di penjara sangat keras. Dalam kehidupan masyarakat Korea Selatan, Anda perlu mengubah ideologi Anda. Tetapi karena saya mengatakan tidak akan melakukannya, mereka terus menyiksa saya, hanya karena berbagai alasan sepele."

Mata-mata Korea Utara lainnya juga mengklaim, mereka disiksa agar mengaku sebagai komunis. Kejadian ini berlangsung selama beberapa dasawarsa ketika Korea Selatan berada di bawah kekuasaan otoriter.

'Saya akan selalu mengatakan ini mengerikan'

Kim adalah satu dari 19 mantan mata-mata Korea Utara di Korea Selatan yang ingin pulang ke kampung halamannya.

Mereka menyaksikan serangkaian pertemuan baru-baru yang melibatkan Korea Utara, yang mungkin menjadi satu-satunya harapan mereka.

Pada satu titik, Kim diliputi perasaan emosional saat ia mengajari saya tentang keuntungan menganut aliran Marxisme. Ia kini sudah berusia delapan puluhan, namun semangatnya tetap membara.

"Jika Anda pergi ke perbatasan, mereka memasang pagar kawat berduri di sepanjang wilayah. Apakah kita yang membuat pagar kawat berduri tersebut? Kekuatan asing telah memisahkan kami, mereka membangun pagar, dan mencegah kami untuk bisa bepergian dengan bebas," katanya.

Ia juga membahas tentang kesepakatan pada tahun 1953 untuk menciptakan zona demiliterisasi yang membagi Semenanjung Korea menjadi setengahnya. Gencatan senjata ditandatangani oleh Korea Utara, Cina, dan PBB.

"Bagaimana Anda bisa mengatakan ini baik? Bahkan sampai saya meninggal nanti, saya akan selalu mengatakan, ini mengerikan," katanya.

"Bicara tentang denuklirisasi, pfff .... Orang-orang asing datang dan memisahkan kami dan membuat kami bertikai satu sama lain. Jadi, itu sebabnya kami membuat nuklir. Jika mereka baik kepada kami dan membantu kami, mengapa kami membuat nuklir?"

'Mengubur tulang-tulang saya di sana'

Mantan mata-mata Yang Soon-gil juga memohon untuk bisa pergi ke Korea Utara, meskipun itu bukan kampung halamannya.

Setelah Perang Korea usai, gencatan senjata yang diberlakukan membuat negara tersebut terbagi dua - tetapi masih berperang - ia lalu melakukan perjalanan ke Pyongyang dengan saudaranya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para mantan mata-mata itu yakin, kehidupan mereka akan berubah lebih baik jika mereka kembali ke Korea Utara.

Korea Selatan mengontrol hubungannya dengan Korea Utara secara seksama, dan saat kembali ke kampung halamannya, Yang ditangkap karena melanggar undang-undang keamanan nasional. Ia bersikeras bahwa ia bukan mata-mata. Yang pun harus menjalani hukuman selama 37 tahun di penjara.

Yang memiliki seorang istri dan keluarga di Korea Selatan, namun diberi kesempatan, ia akan meninggalkan mereka untuk tinggal di Korea Utara.

Saya menggelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu kepada saya. Saya sudah begitu banyak bertemu orang-orang yang putus asa, memohon untuk membawa keluarga mereka ke selatan. Ini adalah pertama kalinya saya mendengar dua pria memohon untuk pergi ke utara.

Tapi ia mengatakan saya tidak mengerti.

"Negara saya adalah tempat dimana keyakinan saya bersandar. Saya ingin tinggal di tempat dimana saya bisa berbagi cita-cita saya. Saya ingin mengubur tulang-tulang saya di sana," tuturnya.

"Seorang pria tahu pikirannya sendiri dan ia harus berpegang pada prinsip-prinsipnya dan melanjutkannya dengan satu keyakinan. Anda mungkin mengatakan saya dicuci otak oleh sosialisme, tetapi saya seorang komunis sukarela, dan keyakinan saya semakin bertambah ketika saya dipenjara."

Image caption Istri dan keluarga Yang Soon-gil (tengah, memakai topi putih) tinggal di Korea Selatan, tapi ia masih ingin tinggal di Korea Utara.

Tak lama setelah wawancara kami, kedua pria itu melakukan aksi protes di luar Kementerian Unifikasi di Seoul, yang mengawasi hubungan dengan Korea Utara.

Mereka ingin kasus mereka dimasukkan ke dalam diskusi antara dua negara Korea dengan harapan ada kesepakatan dapat dicapai untuk mengirim mereka pulang.

Pihak kementrian belum menanggapi permintaan mereka. Namun, mereka tetap berharap bisa kembali lagi ke Korea Utara.

Ideologi komunis yang kuat inilah yang mencemaskan banyak kaum konservatif sayap kanan di Selatan. Anti-komunisme telah tertanam di masyarakat Korea Selatan.

UU Keamanan Nasional diberlakukan sebagai mekanisme hukum untuk melawan kekhawatiran itu.

Pada tahun 1975 di bawah kepemimpinan Park Chung Hee, puluhan orang yang disebut pembangkang ditangkap sesuai dengan UU tersebut dan didakwa mengambil bagian dalam kegiatan komunis - delapan dari mereka dieksekusi dalam satu hari.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kehidupan South Korea yang dinamis menjadikan negara itu sebagai kekuatan ekonomi keempat di Asia jauh berbeda dengan Korea Utara.

Mayoritas warga Korea Selatan sekarang ini lebih moderat, bahkan ketika mereka menemukan simbol-simbol komunis Korea Utara yang menakutkan.

Mereka telah berjuang keras untuk memenangkan nilai-nilai demokrasi mereka saat ini. Mereka bisa melakukan protes dengan penuh semangat, mereka bisa berpendapat dengan bebas dan mereka menghargai ekonomi kapitalis yang menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di Asia.

Sedangkan Korea Utara tetap menjadi negara yang tertutup, yang bila menentang peraturan akan dipenjara. Tidak ada kebebasan pers dan kondisi ekonomi saat ini masih belum pasti.

Kedua belah pihak telah menunggu begitu lama untuk perdamaian. Tidak diragukan lagi akan ada perayaan di kedua sisi perbatasan yang sangat termiliterisasi, jika mereka berhasil menandatangani perjanjian perdamaian yang ditunggu-tunggu untuk akhirnya mengakhiri Perang Korea.

Tetapi, bahkan jika suatu hari kawat berduri dan ranjau darat disingkirkan, kesenjangan sosial dan ideologi antara Korea Utara dan Korea Selatan mungkin jauh lebih sulit untuk diatasi.

Topik terkait

Berita terkait