Apa yang membuat orang buang air besar sembarangan di muka umum?

ilustrasi, toilet Hak atas foto Getty Images

Akhir-akhir ini ada berita tentang orang misterius yang dicari karena BAB sembarangan. Kenapa mereka melakukannya?Di dunia dengan sistem sanitasi modern, kita semua tahu bahwa tinja dibuang ke toilet.

Tapi banyak berita mengabarkan tentang para "pemberak berantai", orang-orang yang buang air besar di depan umum.

Kasus terakhir yang terjadi melibatkan seorang pengusaha dari Brisbane, Australia, yang dituntut menganggu ketenteraman umum. Pasalnya, dia tertangkap basah buang air besar di jalan umum yang sama sampai 30 kali.

Seorang perempuan Kanada ditahan bulan lalu, karena terekam kamera sedang buang air besar di sebuah kafe di British Columbia, kemudian melemparkan tahinya ke para staf. Ternyata itu dilakukannya karena staf tidak mengizinkan dia menggunakan toilet.

Padat atau lunak?

Professor Mike Berry, psikolog forensik klinis dari Universitas Birmingham City menjelaskan bahwa kemarahan, kecemasan, keinginan untuk menegaskan suatu pesan, alkohol, atau penyakit, bisa jadi penyebab seseorang berak di tempat umum.

"Ini menarik," kata dia. "Saya bekerja di kasus-kasus di mana pencuri buang air besar di dalam rumah korbannya, dan saya selalu bertanya pada polisi apakah kotorannya padat atau lunak. Mereka memandang saya seperti saya sudah gila. Soalnya, jika lunak, maka itu berasal dari orang yang cemas. Kalau padat, ada indikasi pelakunya merasa marah saat bertindak."

Pertanyaan lainnya adalah: Apakah pelaku melakukannya di tempat-tempat yang sama? Jika iya, maka ada indikasi "ada pesan untuk seseorang atau beberapa orang," kata Profesor Berry.

Tentu saja, ada kasus di mana seseorang memang ada dalam kondisi terpaksa dan tak dapat lagi menahan rasa mules di perutnya. Tapi hanya dengan melihat kasusnya, kita bisa membedakan mana kasus yang murni "kecelakaan" atau memang kampanye sistematis.

Seorang pelari Colorado yang dijuluki "tukang berak gila", sampai diburu polisi karena selama berminggu-minggu buang air besar di depan rumah sebuah keluarga. Dalam kasus ini, orang itu termasuk golongan "pemberak berantai".

Terpesona tinja

Hak atas foto Getty Images

Para ahli berpendapat bahwa para pemberak berantai ini seringkali melakukan aksinya sebagai cara untuk mengacungkan jari tengahnya pada dunia.

"Seseorang yang sengaja buang air besar di depan umum punya isu kesehatan mental. Sesimpel itu. Saat bersosialisasi, itu hal terakhir yang Anda akan lakukan," kata Mike Fisher, Direktur Asosiasi Pengaturan Kemarahan Inggris.

Dia menjelaskan bahwa orang yang buang air besar di tempat umum mungkin punya tendensi scatology, yaitu terpesona pada tinjanya sendiri.

"Saya ingat ada seseorang yang menceritakan bahwa ketika kecil, dia suka buang air besar dan kemudian mengoleskan tahinya ke seluruh badannya, dan itu adalah contoh klasik scatology,' kata dia. Setelah dewasa, orang itu sudah tidak lagi mengoleskan tinja ke seluruh tubuhnya, tapi dia masih terpesona pada fesesnya sendiri.

Dewan Sains dan Kesehatan Amerika mengatakan bahwa buang air besar di tempat umum juga dapat menunjukkan gangguan eliminasi, yaitu kondisi ketika urin atau feses dikeluarkan di tempat selain toilet. Perilaku ini bisa ada di luar kontrol individu.

Senjata utama yang paling primitif

Hak atas foto PA
Image caption Napi mengoleskan tahi ke seluruh dinding penjara sebagai bentuk protes

Berulah dengan feses adalah salah satu hal paling tabu di masyarakat.

Lihat sana bagaimana feses dipakai sebagai senjata di protes di penjara, di mana feses berfungsi sebagai senjata primitif. Tak peduli betapa tak berdayanya Anda, feses selalu tersedia dan selalu menjijikkan untuk kita semua.

"Ada kasus terkenal di tahun 70-an di mana para pria dari kelompok bersenjata di Irlandia mengoleskan tahi ke seluruh dinding penjara sebagai bentuk protes," kata Prof Berry.

Bicara tentang bagaimana menghentikan orang buang air besar di muka umum, para ahli menyatakan, tak ada solusi tunggal, dan mempermalukan mereka bukanlah jawabannya.

Perilaku antisosial ini dapat dihubungkan ke trauma, yang seringkali muncul dari masa kecil.

"Saya berani bilang bahwa sebagian besar kasus kemarahan kronis yang saya tangani terkait langsung dengan urusan yang belum selesai pada masa lalu," kata Fisher. Tak hanya soal kemarahan yang belum diselesaikan, tapi bisa juga soal kegusaran tak terkontrol, atau isu aib masa lalu.

Topik terkait

Berita terkait