Kolaborasi Hanafi dan Goenawan Mohamad, 57x76, dalam kanvas dan akrilik

Goenawan Mohamad dan Hanafi menjelaskan proses kolaborasi di balik lukisan Revolusi Prancis ini. Hak atas foto Dodo Karundeng/ANTARA FOTO
Image caption Goenawan Mohamad dan Hanafi menjelaskan proses kolaborasi di balik lukisan Revolusi Prancis ini.

Saat ini banyak seniman yang berkarya lewat kolaborasi dengan seniman lain. Salah satunya pelukis ternama Hanafi yang berkolaborasi dengan Goenawan Mohamad. Ya, anda tidak salah baca. Goenawan Mohamad, sastrawan terkemuka Indonesia.

Ini bukan pameran lukisan pertama Goenawan Mohamad, namun tentu jika dibandingkan dengan Hanafi yang veteran, tentu menimbulkan banyak tanda tanya - apakah kolaborasi ini berhasil dan tentunya bagaimana pameran ini bisa berhasil.

Kurator pameran Agung Hujatnikajennong menilai komunikasi dan koneksi yang sudah terbangun sejak lama, ditambah lagi rasa saling mengagumi diantara keduanya membuat kolaborasi kedua seniman ini sukses.

Hal ini dapat dilihat begitu memasuki Galeri Nasional Indonesia, tempat pameran lukisan berlangsung, terdapat deretan 48 lukisan yang disusun rapi berpola kotak-kotak. Pola itu menjadi representasi kolaborasi kedua seniman ternama Indonesia itu, yang meski berbeda latar belakang, mampu menciptakan karya-karya yang utuh tanpa terkotak-kotak.

"Garis horizontal dan vertikal yang mungkin tidak tahu ini Mas Hanafi yang mana, mas Gunawan yang mana. Dan inilah yang menjadi salah satu aspek yang menarik dari kolaborasi dimana kedua seniman tidak lagi mementingkan identitas masing-masing," terang Agung Hujatnikajennong.

"Dan saya kira ini yang paling menarik dari proyek ini karena kolaborasi tidak lagi melihat individu seniman, tapi sebuah karya, sebuah proyek sebagai suatu kesepakatan, sebagai sesuatu yang berbeda yang melebur menjadi satu," tambahnya.

Tema pameran lukisan ini, 57x76. Angka itu merepresentasikan usia Hanafi dan Goenawan Mohamad saat mengerjakan proyek kolaborasi ini.

Meski pameran ini hanya menampilkan sekitar 80 karya, sebenarnya kedua seniman berhasil menyelesaikan 200 lukisan dalam jangka waktu enam bulan -jumlah yang relatif besar mengingat terkadang satu lukisan bisa membutuhkan waktu lebih lama.

Apakah kolaborasi ini justru mendorong inspirasi dan ide keduanya?

Mungkin. Namun yang pasti Hanafi menyatakan mereka tidak pernah membuat target jumlah lukisan yang harus diselesaikan.

"Mengalir saja, menggelinding saja. Saya yakin kalau sesuatu yang mengalir itu jauh lebih bagus yah daripada air yang menggenang... Jadi ini sesuatu yang tidak direncanakan sama sekali, dalam arti ritmenya juga tidak dalam koridor yang ketat, tapi ternyata memang menghasilkan banyak karya," ungkap Hanafi.

Hak atas foto Dodo Karundeng/ANTARA FOTO
Image caption Pameran yang bertajuk "57x76" merepresentasikan usia Hanafi dan Goenawan Mohamad saat mengerjakan proyek kolaborasi ini.

Proses kolaborasinya sendiri tergambar lewat sebuah lukisan besar yang menutupi salah satu dinding di Galeri Nasional Indonesia bertemakan Revolusi Prancis.

Gambar seseorang yang tewas di bak mandi memegang pena dengan tulisan A MARAT dan DAVID di pojok kanan bawah yang digambar Hanafi menjadi kode bagi Goenawan bahwa apa yang sedang dikerjakan Hanafi terkait Revolusi Prancis.

Goenawan pun menambahkan gambar seorang perempuan memegang bendera Prancis dan potongan kepala di satu tangan sementara tangan lainnya memegang sepucuk senjata, yang menurut Goenawan adalah "respon dari lukisan Hanafi".

"Seperti kalau kita main bola, dikasih umpan bola kita tendang saja, tidak usah ditafsirkan. Demikian juga," jelas Goenawan.

"Misalnya Hanafi kasih gambar, itu kan ada gambar orang-orang pakai topi, itu respon Hanafi terhadap karya Max Ernst, pelukis ekspresionis Jerman di tahun 1930-an. Nah saya harus merespon, jadilah beberapa bentuk yang Anda lihat."

Proses merespon itu kadang harus terjadi hingga berkali-kali. Dimulai misalnya dari Hanafi, dilanjutkan ke Goenawan, kembali lagi ke Hanafi dan seterusnya.

Lantas, kapan suatu lukisan dapat dianggap selesai? Itu memang tantangan tersulit dari kolaborasi ini, seperti diakui kedua seniman.

"Itu memang problema besar dalam kesenian, terutama seni rupa dan puisi, bagaimana bisa berhenti. Itu memang butuh kepekaan. Karena kalau karyanya berupa cerita, komik misalnya kita tahu di komik kalau perkelahian selesai, tamat," papar Goenawan.

"Seni itu seperti kekuasaan harus mengerti dimana berhenti di saat yang tepat dan indah," pungkas Goenawan.


Pameran 57x76 masih berlangsung hingga 2 Juli 2018 di Galeri Nasional Indonesia.

Berita terkait