Piala Dunia 2018: Apakah sepak bola masih seksis dan melecehkan perempuan?

Para suporter bola Hak atas foto Getty Images

Perhelatan Piala Dunia 2018, menjadi ajang yang ditunggu-tunggu, juga para penggemar perempuan.

Dan ini adalah tahun 2018, semestinya tak seorang pun mempermasalahkan apakah perempuan benar-benar tahu tentang permainan ini, membicarakannya atau hanya sekedar menontonnya?

Nah, beberapa peristiwa di Piala Dunia ini telah membuat orang bertanya-tanya seberapa banyak yang benar-benar berubah dalam permainan indah ini dan apakah perempuan diperlakukan tidak adil.

Pada hari Selasa (26/6), agensi foto Getty Images menerbitkan galeri foto bertajuk "para suporter sepak bola terseksi di ajang Piala Dunia" yang secara ekslusif menampilkan para perempuan muda.

Foto yang diunggah agensi foto ini menuai kritikan dari para pengguna media sosial karena dianggap sudah ketinggalan jaman.

Akun twitter atas nama Women in Football bertanya, "waktu telah berubah, mengapa Anda tidak?"

Unggahan tersebut kemudian dihapus oleh Getty, dengan alasan "kesalahan yang sangat kami sesalkan" dan bahwa agensi fotografi itu akan melakukan penyelidikan internal.

Para komentator olahraga khususnya kaum perempuan selama ini cenderung direndahkan, dikritik, di berbagai media sosial oleh para suporter maupun dari kalangan komentator sendiri, mereka juga bahkan dilecehkan di depan kamera.

Reporter olahraga dari Brasil, Julia Guimaraes tengah siaran langsung dari Yekaterinburg, Rusia, ketika ia terpaksa menghindar dari seorang pejalan kaki yang berusaha menciumnya.

"Jangan lakukan ini. Jangan lakukan ini lagi. Itu tidak benar," teriak Julia sambil mengejar laki-laki itu, memaksanya meminta maaf. Twitter yang memberi selamat kepada Guimareas atas upayanya melawan pelecehan seksual sudah di-like sebanyak 64.000 kali.

Pembawa acara Piala Dunia dari stasiun televisi SBS Australia Lucy Zelic, diserang di media sosial karena membicarakan pengucapan nama pemain secara benar sebagaimana diucapkan di negara asal mereka.

Setelah ia dicap "menjengkelkan" dan "tidak mampu", pembawa acara yang sama-sama tampil bersama Zelic, Craig Foster membalas kritikan, menjelaskan bahwa program mereka bertujuan untuk menghormati tradisi dan budaya linguistik yang beragam.

Piala Dunia merupakan peristiwa yang penting bagi perempuan karena mengalami brbagai peristiwa pertama.

Wartawan BBC Vicki Sparks menjadi perempuan pertama yang mengomentari secara langsung pertandingan Piala Dunia yang disiarkan televisi di Inggris pekan lalu. Sementara jaringan televisi Fox dan Telemundu di AS, keduanya menampilkan perempuan pertama yang jadi komentator siaran langsung pertandingan Piala Dunia di kawasan Amerika Utara.

Namun, tidak semua orang menyukai perubahan itu. Mantan pesepak bola Jason Cundy, yang tidak diundang untuk berkomentar di Piala Dunia kali ini, mendapat kecaman karena mengatakan bahwa suara perempuan terlalu tinggi untuk menjadi komentator sepakbola.

Beberapa pengamat mengkritik kembalinya 'babe cam' - kebiasaan kamera TV yang berlama-lama menyorot para perempuan muda yang duduk di tribun stadion - atau akun Twitter yang membuat peringkat tentang daya tarik para suporter perempuan.

Berpura-pura menjadi suporter

Sementara itu, di Cina, kaum perempuan bahkan tidak bisa menonton pertandingan sepak bola dengan tenang karena dituding 'berpura-pura menjadi suporter.'

Lelucon yang mengolok-olok perempuan suporter sepakbola beredar luas. Mereka digambarkan tidak sepenuhnya memahami sepakbola dan bahwa mereka menonton Piala Dunia hanya untuk membuat pacar-pacar mereka terkesan, untuk mencari perhatian, atau untuk melihat pemain-pemain yang ganteng dan berotot.

Seorang blogger, Shi Shusi, mengomentari sebuah laporan bahwa lebih banyak perempuan pergi ke Rusia untuk menyaksikan Piala Dunia ketimbang laki-laki.

"Sebuah pesta untuk para suporter gadungan telah dimulai," tulisnya di jejaring sosial Cina, Weibo. Yang dimaksudkannya adalah para perempuan yang berpura-pura menyukai pertandingan sepakbola.

Di bawah ini adalah sebuah kartun yang ditampilkan untuk mencemooh kurangnya pengetahuan perempuan tentang Piala Dunia dan sepak bola pada umumnya.

Hak atas foto Sina Breaking News
Image caption Sebuah kartun yang beredar luas di media sosial mengolok-olok kaum perempuan yang kurang pengetahuan soal sepak bola. (Diterjemahkan oleh BBC News).

Namun, para suporter perempuan ini tak tinggal diam, mereka melawannya melalui sebuah blog tentang kekuatan tim sepak bola perempuan Cina dibandingkan dengan tim sepakbola laki-laki yang gagal lolos ke Piala Dunia.

Sementara yang lainnya menulis, "Saya tidak mengerti sepakbola BUKAN karena saya perempuan, tetapi karena saya tidak peduli tentang pertandingan ini. Hentikan segala sesuatu tentang perbedaan gender."

Jadi, jika Anda merasa sedikit terganggu ketika Anda melihat seorang perempuan berbicara tentang sepak bola, ingat kata-kata bijak dari wartawan BBC Sports, Dan Walker: "Acuhkan saja. Kita semua bisa menikmati Piala Dunia."

Topik terkait

Berita terkait