Jika gaji istri lebih besar dari suami, haruskah perempuan menjadi malu?

Kesenjangan penghasilan Hak atas foto Zed McGann
Image caption Penelitian mengungkapkan banyak perempuan di era milenial menyembunyikan fakta bahwa penghasilannya lebih besar dari suami atau pacarnya.

Sebuah survei yang dilakukan tahun 2017 dan beredar viral mengungkap bahwa kalangan perempuan milenial cenderung masih malu atau "khawatir" apabila penghasilannya lebih besar dibanding pasangan prianya.

Apakah benar bahwa perempuan masa kini masih menyembunyikan jumlah gajinya kepada suami ataupun pacarnya?

Seorang perempuan yang identitasnya tidak diungkap menceritakan kepada BBC Three tentang bagaimana dia menyimpan rahasia soal berapa besar jumlah gajinya. Dan inilah kisahnya.

Saya punya sebuah rahasia. Tapi sebetulnya ini tidak benar-benar rahasia, Anda bisa mengetahuinya sedikit.

Saya kerap berbohong tentang hal ini kepada pacar saya. Kami tinggal serumah, tidur bersama, berbagi harapan dan kekhawatiran, berbelanja kebutuhan rumah bersama, bahkan punya rekening bank yang sama.

Saya tahu segalanya tentang dia, bahkan hal-hal yang saya harap tidak saya ketahui - seperti saat dia menyelingkuhi saya ketika kami sebetulnya tidak benar-benar 'putus hubungan'.

Dia juga tahu semua hal bodoh yang saya lakukan saat mabuk. Bahkan hal-hal yang sudah saya coba lupakan.

Dan itulah yang dinamakan cinta, bukan? Terbuka sepenuhnya, tidak ada yang ditutup-tutupi.

Namun, penghasilan saya jauh lebih besar dibanding pacar saya, dan saya menutupnya rapat-rapat dari dia. Mengapa saya menyembunyikan sisi terpenting tentang siapa saya?

Sebuah survei yang dilakukan tahun 2017 dan beredar viral mengungkap bahwa kalangan perempuan milenial cenderung masih malu atau "khawatir" bila penghasilannya lebih besar dari dibanding pasangan prianya.

Salah seorang peserta survei yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada pewawancara bahwa dia "merasa terkejut" dan kemudian "rikuh" lantaran reaksi awalnya adalah malu ketika menyadari bahwa penghasilannya lebih besar dari suaminya.

Temuan survei ini menuai banyak cuitan dan beberapa artikel yang menggambarkan bagaimana para perempuan muda merasa "baik-baik saja" dengan penghasilan lebih besar dibanding pasangan laki-laki mereka.

Ini adalah tahun 2018, kami berusaha mati-matian untuk menghapus kesenjangan upah berdasarkan gender, dan secara lahiriah kami merayakan para perempuan yang berhasil dan dibayar secara adil untuk itu.

Ini persis seperti yang saya utarakan juga, dalam percakapan dengan teman-teman, serta di media sosial.

Saya berargumen bahwa kita hanya akan memperbaiki ketimpangan antara laki-laki dan perempuan di tempat kerja, ketidakseimbangan yang memungkinkan pelecehan seksual berkembang di berbagai industri di seluruh dunia, ketika perempuan digaji dengan jumlah yang setara dengan laki-laki atau bahkan lebih besar

Saya bahkan mengutip statistik bahwa,pada tahun 2017, World Economic Forum memperingatkan bahwa butuh waktu 217 tahun untuk menghapus kesenjangan upah, yang membuat semua ini sangat mendesak.

Namun, secara pribadi, saya menyimpan rahasia saya. Di rumah, saya masih belum mempraktikkan apa yang saya ajarkan kepada yang lain, dan saya tidak pernah melakukannya.

Saat ini, saya dan pacar saya benar-benar ingin pergi berlibur. Kami belum pernah menghabiskan liburan bersama sejak pertama kali kami bertemu, karena memang kondisi keuangan kami belum memungkinkan.

Kami hanya bekerja, bekerja dan bekerja.

Tak diduga memperoleh gaji besar

Namun, situasi itu bisa berubah. Tak diduga saya menandatangani sebuah kontrak besar, dan sepenuhnya bisa membiayai liburan.

Saya bisa menanggung biaya liburan untuk kami berdua, namun, bukannya menawarkan menanggung biaya, saya malah tetap diam padahal saya punya tabungan lebih dari £5.000 (atau Rp95 juta) yang tidak dia ketahui. Saya menyembunyikannya dari dia karena saya khawatir dia merasa tidak enak.

Saat pertama kali berjumpa dengan pacar saya, saya memiliki penghasilan lebih dari £20.000 (atau Rp380 juta per tahun), lebih besar dibanding pacar saya. Pacar saya adalah seorang tukang kebun, dan saya bekerja di penerbitan.

Selama enam tahun saya menjalin hubungan dengannya, secara konsisten penghasilan saya lebih besar darinya. Kini, kami tinggal bersama, dan saya berharap kami akan bersama sampai maut memisahkan, namun dia belum mengetahui jumlah penghasilan saya yang sebenarnya.

Dan inilah masalahnya: hubungan kami adalah yang hubungan terbaik yang pernah terjadi, saat dia menjadi satu-satunya orang yang mencari nafkah.

Hak atas foto Zed McGann
Image caption Sebuah studi Harvard tahun 2016 menemukan bahwa beberapa pasangan lebih cenderung bercerai jika suami bekerja paruh waktu atau tidak bekerja sama sekali.

Dia meminjamkan uang kepada saya, dan dia juga yang membiayai liburan. Jika kita pergi makan di luar, ia yang membayar. Beberapa kali, ia bahkan membelikan saya pakaian.

Saya benci hal itu, dan dia sedikit mengeluh, tetapi, jauh di lubuk hati saya, saya tahu dia merasa memenuhi standar masyarakat sebagai "kepala rumah tangga". Dia bahkan sudah mengatakan bahwa dia merasa gagal jika dia bisa menafkahi saya.

Selama setahun saat gaji saya kecil, saya mendapat uang penghargaan dari tempat saya bekerja. Dia benar-benar bahagia, dan merasa seperti dia telah memainkan bagian kecil di dalamnya, karena dia mampu membuatnya terjadi secara finansial.

Saya ingat waktu itu kami pergi makan malam untuk merayakan ulang tahun saya. Dia yang membayar, kami memanggil taksi, lalu kami berhubungan seksual dengan luar biasa. Faktanya, itulah hubungan seks terbaik sepanjang tahun itu. Rasanya, entah bagaimana, sepertinya kami memiliki keseimbangan yang baik.

Pacar saya ini brilian, dan sukses dengan dirinya sendiri, tetapi, setahu saya dia juga bangga dengan kesuksesan saya.

Saya juga tahu bahwa dia merasa nyaman ketika tahu bahwa saya "membutuhkan" dia. Mungkin karena inilah mengapa saya terus menyembunyikan kebenaran? Berkali-kali saya menanyakannya kepada diri sendiri sambil terbaring di malam hari di sampingnya di tempat tidur kami.

Norma suami sebagai pencari nafkah

Jadi apa yang saya mainkan? Ini pertanyaan yang bagus. Seakan kemunafikan saya sendiri tidak cukup buruk, hal paling jelek dari semua ini adalah bahwa para perempuan yang menjadi pencari nafkah utama dalam hubungan mereka bisa memiliki alasan untuk menyimpan rahasia.

Sebuah studi Harvard tahun 2016 menemukan bahwa beberapa pasangan lebih cenderung bercerai jika suami bekerja paruh waktu atau tidak bekerja sama sekali. Penulis penelitian, Alexandra Killewald menulis bahwa itu karena "norma pencari nafkah suami tetap ada".

Saya bukan berasal dari kalangan kaya raya, dan jumlah tabungan saya tidak banyak bila dibandingkan dengan para pesohor seperti Rihanna, Beyoncé, dan Meghan Markle.

Tapi, bagi saya, seseorang yang berpengalaman menyaksikan keluarga saya pernah terguncang, berkali-kali menghadapi para petugas pengadilan yang menyambangi rumah kami, dan mendengar ibu saya berbicara di telepon saat dia menjual semua barang berharga, itu adalah masalah besar.

Kedua orang tua saya berasal dari latar belakang yang sangat sederhana. Ayah saya adalah seorang bankir handal di tahun 80-an. Dia tidak memiliki kualifikasi dan tidak satu pun dari keluarganya pernah membayangkan memiliki jenis uang yang dia dapatkan.

Tapi, di awal tahun 2000 an , semuanya berantakan. Ayah saya kehilangan pekerjaannya, dan, tak lama setelah itu, kami pun kehilangan rumah kami.

Setelah beberapa tahun berjuang, ibu saya memulai bisnisnya sendiri dan menjadi pencari nafkah. Akhirnya, ini yang menyebabkan orang tua saya berpisah. Mengapa? Ego ayah saya yang rapuh tidak bisa mengatasinya.

Saya selalu mendengar jika dia berbicara dengan orang-orang dia berpura-pura bahwa perusahaan ibu saya "sebenarnya miliknya".

Saya menguping pertengkaran ayah dan ibu saya, mereka berdebat karena ayah menghabiskan uang yang ibu dia berikan kepadanya untuk seminggu dalam satu hari dan, meskipun saya masih remaja, saya bisa menangkap tanggapan sinis kakek saya tentang situasi saat itu.

Saya melihat apa yang dilakukan ibu saya sebagai pencari nafkah bagi keluarga saya ketika remaja. Dan, baru-baru ini, saya telah melihat bagaimana hal itu dilakukan oleh teman saya.

Hak atas foto Zeb McGann

Salah seorang teman, namanya Melissa (bukan nama sebenarnya). Dia adalah fotografer paruh waktu yang sukses.

Selama beberapa tahun terakhir dia telah membeli rumah untuk dia dan pacarnya, membiayai pacarnya ketika dia tidak bekerja, membiayai liburan, memilah-milah tagihan, dan mengawasi belanja makanan.

Di hadapan teman-temannya, sang pacar mengatakan betapa bangganya dia hidup bersama "perempuan yang kuat".

Secara pribadi, saya tahu mereka bertengkar terus-menerus karena saya telah melihat beberapa pesan manipulasi emosional yang dia kirimkan kepadanya, membuatnya merasa bersalah karena dia sering bepergian jauh untuk kepentingan pemotretan.

Dan kemudian, ada teman lain. Sebut saja dia Kayley. Dia adalah konsultan manajemen dan gajinya dua kali lipat lebih besar dari mantan pacarnya. Perhatikan kata 'mantan'.

Pada akhirnya, Fred (bukan nama sebenarnya) meninggalkan Kayley tak lama setelah dia pindah dari rumah yang dia miliki menjadi flat yang lebih murah yang membuatnya merasa lebih nyaman.

Baru-baru ini, Kayley menggunakan aplikasi Tinder untuk mencari pasangan, namun dia merasa takut untuk memberitahu di Tinder bahwa tentang penghasilan yang dia peroleh.

Terlepas dari kenyataan bahwa saya secara terbuka mengatakan padanya "tidak masalah", dan mendorongnya untuk "menjadi dirinya sendiri" karena "orang yang tepat tidak akan peduli", kenyataannya adalah bahwa saya mungkin akan melakukan hal yang sama jika saya masih lajang .

Setelah melihat apa yang telah dilakukan oleh pencari nafkah perempuan terhadap hubungan mereka yang saya cintai, dan mengalami apa yang terjadi ketika pacar saya merasa seperti dia mendukung saya, saya merasa sangat bertentangan.

Saya juga merasa malu. Saya malu dengan fakta bahwa saya tidak jujur dengan seseorang di dunia ini, yang seharusnya saya bisa katakan apa pun. Dan, lebih dari ini, saya malu dengan fakta bahwa kita masih tidak hidup di dunia di mana Anda bisa menjadi perempuan muda yang sukses dan tidak merasa seperti ini.

Bagaimana kita akan menghapus kesenjangan upah berdasarkan gender, atau menyediakan lebih banyak perempuan dalam posisi puncak, jika beberapa dari kita bahkan tidak memperoleh gaji puluhan juta lebih banyak dari pasangan kita tanpa mengkhawatirkan apa yang akan dilakukannya terhadap ego mereka?

Pada tingkat pribadi, saya sangat berharap pacar saya dan saya mencapai titik di mana kesetaraan bergeser. Saya ingin terbuka tentang penghasilan saya tanpa takut bahwa dia akan membenci saya.

Sama halnya, saya tidak ingin merasakan tekanan untuk berkontribusi lebih banyak pada kehidupan kami bersama dibanding apa yang dilakukannya.

Saya tidak ingin dibiayai olehnya, tetapi saya juga tidak ingin membiayainya. Saya hanya ingin kami menjadi setara, terlepas dari berapa jumlah uang kami di bank.

Berita terkait