Cara bersolek unik para Muslimah Rohingya di kamp pengungsian

Hak atas foto Reuters

Fotografer kantor berita Reuters, Clodagh Kilcoyne, menghasilkan beragam potret para perempuan Muslim Rohingya di kamp pengungsian di Bangladesh yang menampilkan cara unik mereka dalam bersolek.


Rohingya Hak atas foto Reuters

Rohingya Hak atas foto Reuters

Lebih dari 700.000 orang Rohingya melarikan diri sejak Agustus 2017 akibat perusakan rumah dan penganiayaan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, yang merupakan negara tetangga Bangladesh.

Komunitas Rohingya, yang berjumlah sekitar satu juta orang di Myanmar pada awal 2017, merupakan salah satu dari beragam etnik minoritas di negara itu.

Militer Myanmar mengatakan mereka memerangi kelompok milisi Rohingya dan menyangkal adanya penargetan terhadap warga sipil.

Rohingya Hak atas foto Reuters

Kilcoyne memotret para perempuan Muslim Rohingya di kamp-kamp pengungsian di Cox's Bazar, sebuah kota di pantai tenggara Bangladesh.

Rohingya refugee Senuara Begum, aged 14, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Jamtoli camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Riasan pada wajah perempuan Rohingya disebut thanaka, semacam bubuk berwarna kuning yang terbuat dari kulit kayu pohon yang banyak ditemukan di bagian tengah Myanmar. Thanaka digunakan untuk menghias pipi perempuan dan mengembalikan tradisi berabad lalu.

Rohingya refugee Romzida, aged 8, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Shamlapur camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Selain kosmetik, bubuk ini juga dapat berfungsi sebagai pelindung kulit dari sengatan sinar matahari, sekaligus menjaga kulit tetap sejuk.

Rohingya refugee Zinu Ara, aged 4, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Balukhali camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Pulasan kuning yang mengering menjadi lapisan pelindung dan merupakan pengusir serangga dan membantu mengobati jerawat.

Rohingya refugee Nur Kayas, aged 6, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Kutupalong camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Tata rias tradisional, yang dapat dibeli di kamp-kamp pengungsi, telah membawa perasaan normal bagi kehidupan para perempuan Muslim Rohingya.

Rohingya refugee Sufaida, aged 7, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Kutupalong camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Juhara Begum, 13, mengatakan kepada Kilcoyne: "Merias adalah hobi saya, dan merupakan tradisi kami.

"Militer menembakkan senjata dan membantai kami. Saya tinggal di atas bukit yang sangat panas dengan matahari yang menyengat."

Rohingya refugee Juhara Begum, aged 13, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Jamtoli camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Begum tiba di Cox's Bazar pada September tahun lalu setelah melarikan diri dari serangan militer di desanya di Rakhine.

Dia harus berjalan selama lima hari untuk mencapai perbatasan dan kamp pengungsi Jamtoli yang padat.

"Saya dapat hidup tanpa makan nasi tetapi saya tidak dapat hidup tanpa riasan," kata Begum.

Rohingya refugee Toyuba, aged 18, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Kutupalong camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Zannat Ara, 9, dari kamp pengungsi Kutupalong, mengatakan: "Saya memakai riasan untuk menjaga wajah saya tetap bersih dan ada beberapa serangga yang menggigit wajah saya. Riasan ini berguna untuk membuat mereka menjauh, sehingga melindungi saya."

Rohingya refugee Zannat Ara, aged 9, poses for a photograph as she wears thanaka paste at Kutupalong camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Rohingya refugee girl poses for a photograph as she wears thanaka paste at Shamlapur camp in Cox's Bazaar, Bangladesh Hak atas foto Reuters

Foto-foto dari Clodagh Kilcoyne.

Berita terkait