WhatsApp menerapkan aturan baru setelah terjadi pembunuhan keroyokan

Kebanyakan warga India pertama kali menggunakan internet lewat telepon pintar murah. Hak atas foto AFP
Image caption Kebanyakan warga India pertama kali menggunakan internet lewat telepon pintar murah.

WhatsApp menyatakan kini membatasi jumlah pesan yang dapat diteruskan di India untuk mencegah penyebaran informasi salah di platformnya.

Pengumuman ini disampaikan setelah terjadi pembunuhan keroyokan yang dikaitkan dengan edaran pesan di kelompok WhatsApp.

Pada hari Kamis (19/07) pemerintah mengeluarkan kembali peringatan kepada perusahaan tersebut yang menyatakan WhatsApp dapat diproses secara hukum jika tetap menjadi "penonton bisu".

Dengan lebih 200 juta pemakai, India adalah pasar terbesar WhatsApp.

WhatsApp menyatakan penggunanya di India "meneruskan lebih banyak pesan, foto dan video, dibandingkan negara-negara lain dunia".

Kelompok di WhatsApp dapat menampung sampai 256 orang. Kebanyakan dari pesan yang diduga memicu kekerasan diteruskan ke beberapa kelompok yang anggotanya dapat mencapai lebih 100 orang.

Hak atas foto STAN HONDA/AFP
Image caption "Tombol penerusan dengan cepat" di sebelah pesan berisi foto dan video juga akan dihilangkan.

Lewat sebuah blog yang diterbitkan di situs internetnya, perusahaan tersebut menyatakan "peluncuran uji coba untuk membatasi penerusan pesan yang dapat diterapkan ke semua orang pengguna WhatsApp".

Tetapi bagi pengguna warga India, fitur meneruskan pesan dapat dibatasi lebih jauh lagi. Seorang juru bicara WhatsApp di India mengatakan kepada BBC bahwa dengan ketentuan baru ini maka satu orang hanya dapat meneruskan pesan sebanyak lima kali.

Meskipun demikian, ini tidak akan menghentikan anggota lain dari kelompok yang meneruskan pesan untuk memiliki lima chats-nya sendiri.

WhatsApp menambahkan mereka berharap langkah ini akan mencegah jumlah pesan yang diteruskan.

Perusahaan itu juga mengatakan akan mencabut "tombol penerusan dengan cepat" di sebelah pesan berisi foto dan video.

Perubahan ini dilakukan setelah terjadinya serangkaian pembunuhan beramai-ramai yang menewaskan 18 orang di India sejak bulan April 2018. Sejumlah laporan menyebutkan jumlah korban meninggal sebenarnya jauh lebih besar lagi.

Kekerasan diduga terjadi karena desas-desus pencurian anak, menyebar lewat WhatsApp, yang menyebabkan orang menyerang pihak-pihak yang tidak dikenal.

Polisi mengatakan sulit untuk meyakinkan orang bahwa pesan tersebut adalah palsu.

Dalam sebuah pembunuhan yang baru terjadi di Negara Bagian Tripura, India timur laut, korbannya adalah seorang pria yang ditugaskan pemerintah untuk berkeliling desa, guna mengatasi desas-desus yang disebarkan lewat media sosial.

Hak atas foto AFP
Image caption Muncul protes di India terkait dengan pembunuhan beramai-ramai yang menyebar lewat WhatsApp.

Pemerintah federal India sebelumnya memperingatkan WhatsApp, perusahaan yang dimiliki Facebook, bahwa mereka tidak bisa menghindari "tanggung jawab" terhadap isi yang dibagikan penggunanya.

WhatsApp menjawab dengan mengatakan "terkejut dengan aksi kekerasan yang mengerikan ini" dan keadaan ini adalah "tantangan yang memerlukan kerja sama pemerintah, masyarakat sipil dan perusahaan teknologi".

Aplikasi pesan adalah satu-satunya layanan berbasis internet terbesar bagi penduduk India. Jangkauan yang sangat luas memungkinkan pesan menyebar dengan cepat, sehingga memungkinkan kerumunan berkumpul dengan cepat.

Permulaan bulan ini, perusahaan tersebut menjelaskan langkah yang diambil untuk membantu mengatasi masalah, termasuk dengan memungkinkan pengguna keluar dari kelompok dan memblokir orang dengan mudah.

Topik terkait

Berita terkait