Tarian remaja-remaja perempuan tunanetra di Solo yang membuat haru

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Mereka yang menari dalam gelap

Seorang remaja perempuan berkerudung hijau tampil di atas panggung sembari menggulirkan kursi rodanya.

Selvi Oktaviani, nama remaja tersebut, adalah seorang siswi SLB Negeri Karanganyar, Jawa Tengah. Dengan percaya diri, dia membacakan sebuah puisi guna membuka pentas tari bertajuk 'koreografi braille tubuh'.

Tuhan, mengapa kami berbeda? Apa ini tanda kasihmu kepada kami kaum disabilita?. Kami tak bermaksud mengeluh. Kami syukuri anugerah yang engkau berikan walau kami tak tak berbeda.

Mata yang tak dapat menatap indahnya angkasa dan kaki yang tak dapat goyahkan dunia. Kami tahu bahwa rencanamu lebih sempurna. Kekuranganku adalah kelebihannya. Dan, kami tidak berbeda.

Saat puisi dibacakan, tiba-tiba muncul empat penari siswi tunanetra dari dua sudut yang berbeda. Mereka berjalan dengan hati-hati mengambil posisi yang telah ditentukan.

Mereka mengawali tariannya dengan mengangkat dan merentangkan tangan mengikuti iringan alunan musik.

Ketika posisi berganti, mereka saling bergandeng tangan untuk membantu melangkahkan kaki.

Jika ada yang salah arah, sang pencipta karya tari tersebut, Jonet Sri Kuncoro akan datang menghampiri dan membantu mengarahkan ke posisi yang dituju.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Selvi Oktaviani membacakan sebuah puisi guna membuka pentas tari bertajuk 'koreografi braille tubuh'.

Meskipun dengan keterbatasan penglihatan, para penari tampak kompak dan seolah saling berkomunikasi tanpa berkata-kata.

Saat bergerak memutar maupun mengangkat kaki, mereka terlihat bergerak seirama. Hanya saja untuk gerakan yang tari yang agak cepat, Jonet akan memberikan aba-aba dengan menyebutkan huruf dan angka. Masing-masing huruf memiliki arti gerakan.

Pentas tari 'sunyi' itu pun juga mengeksplorasi kemampuan lain selain menari, seperti membaca puisi.

Di penghujung pentas tari, salah seorang penari tunanetra, Vansa Miftakhul Jannah membacakan puisi yang berjudul 'meraih cita-cita'.

Dalam puisi tersebut ia menyampaikan pesan bahwa keterbatasan tidak menyurutkan langkahnya untuk meraih mimpi dan cita-citai. Halangan dan rintangan pun akan dilaluinya dengan penuh keberanian.

Tak pelak aksi tari puisi tersebut berhasil memukau puluhan penonton yang hadir dalam pentas tari tersebut.

Bahkan, sejumlah penonton tak kuasa menahan air mata tanda haru melihat semangat para murid dalam mementaskan tari 'koreografi braille tubuh'.

Tepuk tangan pun bergemuruh sebagai bentuk apresiasi dari karya tari yang dipentaskan oleh siswi SLB Negeri Karanganyar.

Hak atas foto Fajar Sodiq

Mengetahui mendapatkan apresiasi dari banyak penonton, salah satu penari Vansa Miftakhul Jannah mengaku sangat senang dan terharu.

Pentas tari di hadapan penonton dengan jumlah yang cukup banyak merupakan pengalaman pertamanya selama ini.

"Perasaan saya malam ini senang sekali. Padahal, awalnya sempat deg-degan untuk mementaskan tari ini," kata dia kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq, dengan nada riang.

Perjuangan Vansa dan kawan-kawan penari tunanetra lainnya untuk bisa mementaskan tari tersebut tidak gampang. Mereka butuh waktu berlatih yang cukup lama.

Ia pun awalnya mengaku kesulitan untuk melakukan gerakan tari di tengah keterbatasan indera penglihatannya.

"Untuk awal-awal memang sulit sekali untuk gerak-gerak menari. Kita bisa untuk bisa menari seperti ini butuh waktu belajar selama tiga hingga empat bulan. Setiap satu minggu latihan menari selama dua hingga tiga kali," akunya.

Hak atas foto Fajar Sodiq

Dengan keberhasilan mementaskan tari tersebut, Vansa pun mengaku jika disabilitas itu tidak menjadi penghalang untuk tetap bisa berprestasi.

Sebagai penyandang disabilitas, dia menegaskan bahwa dirinya tidak perlu dikasihani. Yang dia perlukan adalah bimbingan untuk memberikan semangat supaya mampu seperti anak-anak lain pada umumnya.

"Walaupun kami disabilitas tapi kami tidak mau dibeda-bedain dengan anak-anak pada umumnya. Kita ingin seperti mereka. Jika mereka berprestasi, kami juga bisa meraih prestasi seperti mereka," tegasnya.

Bergerak dalam lingkup kesenian

Sementara itu, pelatih sekaligus pencipta karya tari 'koreografi braille tubuh', Jonet Sri Kuncoro mengaku mengajak para siswa tunanetra menari agar anak-anak tersebut berani bergerak dalam lingkup kesenian.

"Karya ini berawal dari perkenalan saya dengan adik-adik. Dari pengamatan saya, mereka itu bergerak takut. Jadi, saya ingin mengajak mereka supaya bernai bergerak kan gerak mereka terbatas karena adanya keterbatasan. Saya pun memotivasi mereka dan mau belajar menari," ungkapnya.

Menurut dia, megajar menari kepada anak-anak tunanetra bukan perkara yang mudah. Oleh sebab itu, pembelajaran soal tarian tersebut dilakukan dengan penuh kesabaran dan dengan gaya belajar yang santai. Bahkan, kadang-kadang dengan dibumbui dengan guyonan.

"Awalnya para siswa itu minder untuk belajar gerak tari.. saya pun memakai metode belajarnya sambil gojekan (berkelakar). Gara-gara mengajar tari, saya juga ikutan mereka belajar huruf braille. Untuk belajar menari ini dibutuhkan waktu selama enam bulan," jelas Jonet yang juga dosen tari di ISI Surakarta.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Vansa Miftakhul Jannah mengatakan dirinya tidak ingin dikasihani

Tak seperti penari pada umumnya Jonet mengaku jika tarian yang diciptakan untuk para penari difabel itu hanya sebatas kepada gerakan seperti berjalan, mengangkat kaki, mengangkat tangan, merentangkan tangan hingga gerakan memutar.

Meski demikian, gerakan tersebut sulit dilakukan oleh mereka karena setiap harinya gerak yang dilakukan sengat terbatas.

"Melatih adik-adik penari tunanetra itu dengan pelan-pelan. Untuk melangkah dan mengangkat kaki butuh keseimbangan. Terus, menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan juga agak kaku. Saya mencoba melatih mereka biar adik-adik santai untuk memberanikan berjalan dan bergerak," kata dia.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Pelatih sekaligus pencipta karya tari 'koreografi braille tubuh', Jonet Sri Kuncoro

Dengan keberhasilan pentas tari para siswa tunanetra itu pun membulatkan tekad Jonet untuk melatih semua siswa tunanetra SLSB Negeri Karanganyar untuk belajar menari.

Selain itu, misi tersebut juga ingin supaya keterbatasan itu tidak menghalangi untuk bisa berkarya dan berprestasi seperti anak-anak pada umumnya.

"Misi saya itu memang seperti itu. Mereka (penyandang tunanetra) jangan sampai ditinggalkan karena adik-adik tersebut juga manusia hamba Tuhan yang sama. Kita sama, dia sama, aku sama. Tidak ada perbedaan," pesan dia.

Berita terkait