Band metal Solo: Akrobat gamelan dan musik metal Indonesia di ajang internasional

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Band metal berbaju batik yang menggebrak di Jerman

Band metal asal Solo, Down For Life, menjadi wakil Indonesia dalam festival musik metal paling prestisius yang digelar di Jerman pada Awal Agustus.

Mereka terpilih karena mengkombinasikan unsur tradisional Jawa, baik dari segi musik maupun tampilan visual.

Kolaborasi instrumen metal dengan sampling gamelan Jawa berkumandang di desa kecil di Utara Jerman, Wacken, tempat lebih dari 100 band dan 100.000 metalheads hadir tiap tahun di festival musik cadas terbesar di dunia, Wacken Open Air.

Sang vokalis, Stephanus Adjie menuturkan awal mula perjuangan mereka di kompetisi ini.

Hak atas foto John Resborn (The Metal Rebel)

"Dari awal kami berpikir kapan ya bisa main di Eropa, itu sebuah mimpi, pasti," ujar Adjie kepada BBC News Indonesia.

Down For Life menjadi wakil Indonesia dalam ajang tersebut, setelah sebelumnya memenangi kompetisi Wacken Metal Battle Indonesia.

"Ketika tahun ini Wacken Metal Battle Indonesia diadakan lagi, kami kemudian ikutan dengan segala persiapannya karena kami lebih siap secara mental dan lain-lainnya," imbuhnya kemudian.

Down for Life akhirnya menang setelah menyisihkan lebih dari 300 band dari 72 kota di Indonesia.

Hak atas foto Karina Supriaman (DCDC)

Wacken Open Air yang digelar 2-4 Agustus lalu ini juga dimanfaatkan oleh band yang sudah berkarya hampir dua dekade ini untuk bertemu dengan orang-orang dibalik industri musik metal dunia yang selama ini mereka anggap sebagai 'tembok yang besar'

"Kita dapat VIP backstage untuk ketemu label, promotor, booking agent dari seluruh dunia, dan itu adalah kesempatan besar," ungkap Adjie.

Bagi sebagian besar personel band, ini menjadi kali pertama mereka melanglang buana ke benua Eropa, termasuk bagi sang gitaris Isa Mahendra Jati.

"Ya mungkin juga sebagai batu loncatan untuk saya sendiri dan band saya supaya nanti ke depan masih banyak mimpi-mimpi lagi yang bisa diwujudkan," cetus Isa.

Hak atas foto Karina Supriaman (DCDC)

Kolaborasi metal dan tradisi Jawa

Untuk membekaskan kesan, mereka melakukan 'akrobat artistik,' selain serta perpaduan instrumen metal dengan sampling gamelan Jawa, juga dengan aksi panggung dan tampilan visual yang melibatkan unsur barong Bali dan batik.

Adjie menuturkan ketika masuk 10 besar Wacken Metal Battle Indonesia menghendaki masing-masing band untuk menampilkan aksi yang merepresentasikan metal Indonesia, termasuk budaya Indonesia.

Hak atas foto Karina Supriaman (DCDC)

"Itu peer banget sih sebenarnya, karena metal dibilang budaya modern, kemudian Indonesia terkenal dengan budaya tradisinya, kan," tutur Adjie.

Setelah berdiskusi dan mereka-reka. akhirnya mereka memutuskan untuk mengenakan batik bermotif parang di panggung Wacken Open Air

"Kami berpikir kami adalah pasukan perang. Krena Down For Life ada nama fansnya pasukan babi neraka, kami pikir kami-kami ini adalah pasukan babi neraka dari tanah Jawa bertempur ke tanah Bavaria."

Hak atas foto John Resborn (The Metal Rebel)

"Kami kemudian berpikir dan bertanya. Akhirnya, okay batik yang sesuai adalah motif parang karena ini sebagai simbol perlawanan, simbol perjuangan," jelas Adjie.

Sementara suara gamelan di pembukaan penampilan mereka, disumbang oleh musisi asal Yogyakarta, Ari Wvlv.

"Dia bikinin opening, suluk dan gamelan dikasih judul Gunungan. Setiap kali ada pertunjukan wayang mulai pasti ada suluk, dan kami siapkan itu," ungkap Adjie.

Hak atas foto Karina Supriaman (DCDC)

Kombinasi metal dan tradisi Jawa, menjadi nilai plus bagi Down For Life di mata juri Wacken Metal Battle yang memandang mereka sebagai representasi dari metal Indonesia.

Sang gitaris, Isa kemudian mengungkapkan apa saja yang mereka siapkan untuk penampilan mereka.

"Yang penting harus maksimal. Karena biasanya kalau manggung kan sampai 40 menit. Nah itu cuma 20 menit. Jadi selama 20 menit di Eropa itu kita memaksimalkan yang ada, dari perform dari semuanya," jelas Isa.

Proses berkarya

Malang melintang di belantara musik metal Indonesia selama dua puluh tahun, Down For Life mengalami beberapa pergantian personel.

Bersama Adjie, Sang basis Ahmad 'Jojo' Ashar menjadi personel yang bertahan sejak dibentuknya band itu.

Lalu, apa yang membuat band ini bertahan selama hampir dua puluh dekade?

Hak atas foto DCDC

Jojo menuturkan bahwa berkarya di Down For Life adalah sebuah "kewajiban".

"Saya sama Adjie yang sejak dari dulu masih di sini, kita masih bersenang-senang di sini. Kadang bersenang-senang ada susah sedihnya. "

"Tapi kita tetep have fun aja sih. Kayaknya itu yang bikin kita bertahan di sini, dan mimpi-mimpi yang perlahan sedikit demi sedikit terwujud," kata dia.

Usai manggung di Jerman, band ini akan segera menuntaskan album ketiga mereka yang rencananya akan dirilis tahun depan.

Hak atas foto John Resborn (The Metal Rebel)

Tak bisa dipungkiri, sorotan yang didapat setelah manggung di Jerman, menjadi cambuk bagi mereka untuk berkarya lebih baik.

"Semakin banyak tantangannya, Adjie di Jakarta, Isa di Yogya. Dulu kita malah semua ada Solo. Nah ini kita sekarang ini, bagaimana soal waktu dan sebagainya kita bisa lebih menata," cetus Jojo.

Topik terkait

Berita terkait