'Minum-minum di tengah dentuman pemboman: Mengapa saya membuka bisnis bar di Suriah'

Cosette Bar Damascus Hak atas foto Cosette
Image caption Bar Cosette milik Somar buka mulai pukul 19 setiap hari, dan tidak akan tutup sebelum pelanggan terakhir pulang.

Ketika perang saudara pecah di Suriah pada tahun 2011, pariwisata langsung ambruk, tentu saja. Dan Somar Hazim pun terpaksa menutup hotel butik miliknya di Damaskus.

Jutaan warga Suriah kemudian melarikan diri dari negara mereka, menyelamatkan diri. Namun Somar memutuskan untuk tetap tinggal meskipun usaha bisnisnya musnah.

Siapa nyana, tiga tahun lalu ia bisa mendirikan sebuah perusahaan baru dan membuka salah satu bar pertama di kawasan kota tua Damaskus yang dikuasai oleh pemerintah Suriah tersebut.

Somar mengatakan kehidupan malam di ibukota mulai berkembang, meskipun Damaskus berada di peringkat kota yang paling tidak layak untuk dihuni di dunia menurut survey awal Agustus.

Image caption Somar Hazim terpaksa menutup hotelnya di damaskus tahun 2013 akibat perang, namun ia tak mau meninggalkan negerinya, dan kini mulai membuka sebuah bar.

Minum-minum 'diantara hujan peluru'

Somar mengakui bahwa ketika ia membuka bar pertamanya pada tahun 2015 -saat perang saudara Suriah memasuki empat tahun- merupakan masa yang sangat berat untuk memulai suatu usaha.

"Semua orang datang untuk melihat tempat kami ini, untuk melihat siapa orang-orang yang membuka tempat ini di tengah perang," katanya kepada BBC Radio 1 Newsbeat.

Banyak sahabat Somar yang menyebut bahwa dia sudah gila karena menanamkan uang untuk membuka bar di saat genting-gentingnya peperangan. Dia mengakui bahwa hal itu mrupakan pertaruhan - tetapi pada akhirnya semua itu trnyata membuahkan hasil.

"Di antara hujan mortir Anda bisa datang ke tempat ini dan minum-minum. Saya pikir itu ide yang benar-benar menggoda banyak orang."

Hak atas foto Cosette
Image caption Koktail merupakan minuman andalan di Cosette.

Pada awal musim panas lalu, dengan bantuan pasukan Rusia, pemerintah Suriah merebut wilayah terakhir di Damaskus yang dikuasai pemberontak.

Somar pun berpikir bahwa keadaan Damaskus yang relatif stabili belakang ini membantu kehidupan malam di Damaskus untuk menemukan semacam identitas.

"Pada awalnya hanya ada tiga atau empat tempat (bar dan sejenisnya), tapi sekarang ada sekitar tiga puluh tempat di jalanan yang sama," katanya.

Hak atas foto AFP
Image caption Kehancuran di mana-mana, akibat perang saudara yang meletus di Suriah sejak 2011.

Bagi banyak orang kehidupan di ibukota mungkin mulai terasa lebih normal dibandingkan selama tujuh tahun terakhir, tetapi perang di Suriah belum sepenuhnya berakhir.

PBB memperkirakan bahwa masih ada antara 20.000 hingga 30.000 militan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di Suriah dan Irak.

Hak atas foto Cosette

Betapapun, Somar tetap optimis.

"Dulu kita mengalami keadaan yang sangat buruk di Damaskus," katanya.

"Damaskus tak lagi seperti dulu sebelum perang, tapi saya pikir kota ini akan berubah wujud juga."

Hak atas foto Somar Hazim
Image caption Hotel butik milik Somar di Damaskus milik Somar saat perang belum mletus.

Somar berharap bisa membuka kembali hotelnya di Damaskus - "segera setelah turis kembali datang ke sini, walaupun sedikit-sedikit".

"Saya rasa kita perlu waktu untuk bisa melupakan apa saja yang terjadi selama tujuh tahun terakhir. Tetapi saya rasa semuanya akan membaik."

Topik terkait

Berita terkait