Menilik akses difabel di Asian Para Games 2018

renang Hak atas foto Anton Raharjo/Anadolu/Getty Images
Image caption Atlet renang difabel Indonesia bersiap menjalani lomba renang di Stadion Aquatik Senayan, Jakarta, 3 Juli lalu.

Menjelang Asian Para Games di Jakarta pada 6 hingga 13 Oktober mendatang, berbagai persiapan dilakukan, termasuk menyediakan akses bagi para atlet dan penonton difabel. Bagaimana tingkat kesiapannya?

Puluhan pekerja tampak sibuk di Lapangan Tembak Senayan, beberapa hari lalu. Beberapa mengerjakan partisi pemisah atlet menembak, sebagian besar lainnya memotong lembaran kayu guna menutupi berbagai undakan.

Melalui cara ini, semua undakan disulap menjadi ramp atau landaian sehingga dapat dilalui dengan mudah oleh pengguna kursi roda.

Semua pekerjaan itu ditargetkan selesai seminggu sebelum pelaksanaan pesta olahraga atlet difabel terbesar se-Asia pada 6 hingga 13 Oktober mendatang.

"Kami sedang membuat ramp-ramp untuk atlet dan penonton. Sekiranya ada titik ramp curam, kami sediakan relawan di situ untuk membantu lalu-lintas atlet," kata Wisnu, penanggung jawab proyek di Lapangan Tembak Senayan.

Pekerjaan di Lapangan Tembak Senayan sejatinya merupakan sekelumit proyek yang tersisa menjelang Asian Para Games.

Sebagian besar proyek pembuatan akses bagi para atlet difabel sudah selesai dilakukan sewaktu panitia Asian Games membenahi lokasi pertandingan di Gelora Bung Karno, Jakarta International Velodrome dan JIExpo.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Seorang pekerja membuat ramp atau landaian bagi atlet dan penonton difabel di pintu masuk Lapangan Tembak Senayan menjelang Asian Para Games.

Guna mengetahui apa yang perlu dibenahi, beberapa bulan lalu panitia penyelenggaraan Asian Para Games (INAPGOC) menyelenggarakan acara uji coba. Pada acara tersebut, Jendi Panggabean, atlet renang difabel Indonesia, mencoba Stadion Akuatik di kompleks Gelora Bung Karno.

"Saya rasa akses difabel di stadion, penginapan atlet, transportasi sudah memadai. Tapi ada catatan di Stadion Akuatik. Dari lantai satu ke tribun belum ada lift. Kalau pakai tanjakan saya rasa cukup curam. Untuk penyandang difabel kalau sendirian tidak kuat, harus didorong," ujarnya.

Selain lift, catatan lainnya soal akses kaum difabel di lokasi pertandingan Asian Para Games dikemukakan Leindert Hermeinadi, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) DKI Jakarta.

"GBK sudah bagus. Hanya di stadion sepakbola, kemiringan ramp masih terlalu curam. Dan untuk penonton, kalau hujan, masih tempias. Menuju ke toilet juga kurang akses.

"Toilet untuk difabel itu harus ada pegangan di samping jamban. Kemudian sebaiknya pintunya ke luar atau pintu geser. Karena kalau pintu buka ke dalam itu masalah ketika ruangan itu tidak cukup. Kita bisa masuk tapi tidak bisa tutup pintu, itu masalah," paparnya.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Landaian sementara sedang dibuat di Lapangan Tembak Senayan menjelang Asian Para Games.

'Hampir siap digunakan'

Catatan-catatan ini menjadi masukan bagi INAPGOC dan pemerintah. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan Wisma Atlet sudah ditambahkan lift untuk para disable.

"Di kolam renang juga sudah kita tambah untuk disable, jadi Insya Allah sudah siap," kata Basuki.

Ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari, mengakui bahwa hampir semua unsur menyangkut akses kaum difabel dalam Asian Para Games siap digunakan.

"Hampir semua sudah ramah difabel. Tapi tentunya tidak untuk 1.100 kursi roda yang datang bersamaan. Jadi kami mencari solusi-solusi, seperti menyiapkan yang temporary atau menambah akses untuk mempermudah mobilisasi," kata pria yang disapa Okto.

Unsur sementara yang dimaksud, antara lain memasang toilet portable. Sebagai contoh, di Lapangan Tembak, toilet portable yang akan disediakan mencapai 16 unit.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dua penyandang tunanetra mendapat bantuan dari seorang petugas di Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam pemeringkatan indeks aksesibilitas fasilitas publik bagi kelompok difabel di ibu kota yang dilakukan LBH Jakarta pada 2015 lalu, banyak transportasi dan gedung pemerintahan daerah dikategorikan kurang aksesibel.

Bagaimana di DKI Jakarta?

Jika panitia penyelenggara Asian Para Games sedang berupaya menyempurnakan akses kaum difabel di dalam lokasi pertandingan, bagaimana dengan di luar lokasi pertandingan?

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menjelaskan kepada para wartawan bahwa pihaknya akan memastikan semua fasilitas ramah bagi penyandang disabilitas.

"Kita sedang melakukan audit untuk kawasan-kawasan yang akan digunakan untuk para atlet Para Games agar semuanya ramah disabilitas," kata Anies.

Pernyataan Anies Baswedan ini mendapat sorotan dari kaum difabel.

Deni, seorang penyandang tunanetra, saya temui di luar stasiun kereta Cawang. Dengan tongkatnya dia berjalan perlahan menaiki tangga menuju jalan raya.

Sesampainya di pinggir jalan raya, tidak ada trotoar sama sekali. Deni praktis langsung berjibaku dengan kendaraan yang melaju kencang. Hal ini, dia lakukan sehari-hari.

"Dari kereta ke busway kan agak jauh jalan kakinya. Dan itu kita juga bertemu tangga-tangga yang aksesnya kurang begitu mendukung untuk kita. Medannya juga susah, kita harus minggir karena di situ jalur cepat. Saya saja susah, bagaimana dengan yang pakai kursi roda?"

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengguna kursi roda, tunanetra, dan tunarungu belum mendapat akses transportasi yang baik, kata Leindert Hermeinadi, ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) DKI Jakarta.

Dalam pemeringkatan indeks aksesibilitas fasilitas publik bagi kelompok difabel di ibu kota yang dilakukan LBH Jakarta pada 2015 lalu, banyak transportasi dan gedung pemerintahan daerah dikategorikan kurang aksesibel.

Sebagai contoh, tidak ada landaian di sejumlah halte bus Transjakarta. Hal ini perlu diperbaiki, kata Leindert Hermeinadi, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) DKI Jakarta.

"Harus dipastikan setiap halte busway punya ramp yang cukup landai seperti di depan kantor Provinsi DKI Jakarta dan di Monas. Kalau bikin ramp yang tidak landai percuma saja. Lalu harus ada handrail (pegangan tangan) sehingga ketika nggak kuat masih bisa pegangan," jelas Leindert.

Dia menambahkan, tunanetra mesti diperhatikan dengan membuat blok panduan di jalan menuju halte. Adapun bagi tunarungu, ada pengumuman tulisan mengenai jurusan bus.

Menurutnya, sebagian besar sistem informasi dan papan pengumuman di halte-halte tidak dilengkapi dengan fitur suara atau braile.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Seorang atlet difabel menaiki bus yang akan membawanya ke tempat latihan. Akses transportasi bagi kaum difabel dipandang belum memadai di berbagai kota di Indonesia.

Optimistis

Kenyataan bahwa masih banyak tempat umum di Jakarta yang belum memberi keleluasaan akses kepada kaum difabel justru disikapi ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari, dengan nada optimistis.

"Insya Allah tahun depan lebih baik. Kan malu, kita sudah menjadi tuan rumah gelaran perhelatan olahraga difabel paling bergengsi kedua di dunia, setelah itu ternyata nggak berbuat apa-apa.

"Pesan yang terpenting dari Asian Para Games ini adalah acara ini bukan sekedar perlombaan olahraga, tapi juga menjadi gong yang sangat kuat terhadap perubahan signifikan untuk seluruh wilayah di Indonesia. Kami sangat percaya, setelah acara ini, Indonesia akan jauh lebih mampu memanusiakan kaum difabel," tutupnya.