Bus Suroboyo: Membayar tiket transportasi memakai sampah plastik

surabaya Hak atas foto Antara/ZABUR KARURU
Image caption Penumpang Bus Suroboyo bisa membayar sampah plastik kepada petugas di dalam bus.

Sejak April lalu, pemerintah kota Surabaya menyediakan layanan bus yang unik. Alih-alih membayar dengan uang, penumpang diwajibkan membayar memakai sampah plastik. Apakah cara itu efektif menekan jumlah sampah plastik?

"Next destination Masjid Kemayoran. Mari ngene mandhek dek Halte Masjid Kemayoran".

Suara berlogat khas Jawa Timur tersebut dapat Anda jumpai manakala Anda menumpang Bus Suroboyo—sebuah layanan transportasi yang diluncurkan di Surabaya sejak April lalu.

Layaknya Bus TransJakarta yang dilengkapi pendingin udara, pintu Bus Suroboyo ini juga otomatis terbuka mengantarkan penumpang ketika tiba di halte tujuan.

Namun, yang membedakannya dengan bus-bus di kota lain, dua orang petugas Bus Suroboyo, sigap menyambut penumpang yang baru naik sembari menerima sampah plastik semisal botol air dari mereka.

Hak atas foto Ronny Fauzan
Image caption Bus Suroboyo adalah layanan transportasi di Kota Surabaya yang mewajibkan penumpangnya membayar memakai sampah plastik.

Alih-alih membayar dengan uang, penumpang Bus Suroboyo diwajibkan membayar memakai sampah plastik. Untuk sekali jalan, setiap penumpang harus menukarkan 10 gelas air kemasan plastik, atau 5 botol air kemasan plastik ukuran sedang, atau 3 botol air kemasan plastik ukuran besar.

Ada cara lain untuk melakukan pembayaran, yaitu dengan menyetor sampah di Terminal Purabaya. Oleh petugas, penumpang kemudian akan diberikan stiker yang setara dengan jumlah setoran.

"Saya tadi bawa hampir sekarung. Ditukar di tempat penukaran di Terminal Purabaya tadi saya dapat lima stiker tiket," kata Khomsah, salah seorang penumpang Bus Suroboyo.

Khomsah, mengaku senang dan nyaman dengan adanya moda transportasi gres di Surabaya ini.

"Layanan ini sangat, sangat baik. Nyaman banget busnya," ujar perempuan warga kota tersebut kepada wartawan di Surabaya, Ronny Fauzan, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Kepuasan Khomsah tampaknya dirasakan banyak warga lainnya. Dikatakan oleh Anggun, salah satu petugas Bus Suroboyo, 40 kursi yang tersedia selalu penuh. Sehingga ada sampai 16 penumpang lainnya harus berdiri.

"Pada hari-hari libur lebih banyak lagi peminatnya. Untuk tarif bus kita kan nggak pakai uang, makanya penumpang suka. Yang unik, beberapa keluarga berangkat dari Terminal Purabaya dan turun lagi di Terminal Purabaya. Jadi naik bus untuk sekadar rekreasi," tukas Anggun sembari tersenyum.

Hak atas foto Antara/ZABUR KARURU
Image caption Penumpang bisa menukarkan sampahnya ke bank sampah yang kemudian memberikan stiker tiket Bus Suroboyo, tergantung dari jumlah sampah plastik yang disetorkan.

Tambah armada

Karena animo masyarakat cukup besar, Dinas Perhubungan setempat mengembangkan trayek bus dari sisi barat ke timur Surabaya. Sebelumnya, Bus Suroboyo hanya melayani trayek dari sisi selatan menuju kawasan utara kota.

Armada bus yang saat ini berjumlah 10 unit pun hendak ditambah 10 unit lagi pada akhir tahun ini.

Kepala Dishub Kota Surabaya, Irvan Wahyu Drajad, mengatakan layanan Bus Suroboyo yang dirintis Wali Kota Tri Rismaharini ini mensinergikan pemenuhan kebutuhan transportasi massal dengan program lingkungan hidup.

"Ya ini bertahap, karena tidak mungkin orang langsung mau berpindah kebiasaan. Kita gratiskan dengan kita sisipkan program lingkungan, membayar dengan sampah plastik. Agar masyarakat juga tahu bahwa sampah plastik ini merupakan kontribusi pencemar lingkungan yang cukup besar. Dan kita juga ditarget untuk menurunkan penggunaan plastik," papar Irvan Wahyu Drajad.

Terkait dengan keberlanjutan angkutan publik baru ini, diakui Irvan adalah masih dalam tahap awal rintisan.

Kendalanya masih pada ketersediaan lahan parkir para penumpang yang membawa kendaraan, koneksitas antar-daerah di dalam kota dan ke kota-kota sekitar Surabaya, serta membangun kesadaran masyarakat agar meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan massal.

Hak atas foto Ronny Fauzan
Image caption Animo warga Surabaya dalam menumpang Bus Suroboyo cukup besar.

Masalah pengelolaan sampah

Namun, di balik terobosan Bus Suroboyo, ada masalah yang timbul terkait pengelolaan sampah.

Dalam skema awal Bus Suroboyo, sampah-sampah plastik yang didapat dari penumpang, akan disalurkan ke bank-bank sampah di seantero kota yang berjumlah hampir 350 unit. Akan tetapi, penyaluran itu kini terhambat karena belum ada Peraturan Walikota yang mengatur kejelasan nilai keekonomisan sampah plastik.

Bank Sampah Induk Surabaya, yang dikelola Yayasan Bina Bhakti Lingkungan Surabaya, dan dibina oleh CSR PT.PLN Persero, adalah salah satu pihak yang berhenti menerima sampah plastik untuk ditukarkan tiket stiker Bus Suroboyo.

"Awal kali kerja sama dengan kita itu, kita dimintai sebagai partner untuk penukaran stiker (tiket Bus Suroboyo), tapi kita belum diberikan stiker. Sehingga kita nampung sampah sementara. Seiring waktu stiker belum dikasih-kasih. Hingga kita dan DKRTH (Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota) akhirnya memutuskan menunggu Perwali-nya dulu untuk pengelolaannya," jelas Humas Bank Sampah Induk Kota Surabaya, Nurul Hasanah.

Hak atas foto Antara/ZABUR KARURU
Image caption Penyaluran sampah plastik Bus Suroboyo kini terhambat karena belum ada Peraturan Walikota yang mengatur kejelasan nilai keekonomisan sampah plastik.

Belum jelasnya pengelolaan sampah yang dikumpulkan pengelola Bus Suroboyo ini, sejak semula dikhawatirkan dosen Teknik Lingkungan ITS Surabaya, Eddy Sudjono.

Eddy mengatakan perlu ada regulasi yang jelas untuk menepis kesan kebingungan pengelolaan sampah bus ini.

"Setelah sampahnya itu ada. Mau berapa ton, berapa kuintal, ini cara menjualnya seperti apa? Diberikan pada orang-orang tertentu, nanti dikiranya kolusi. Prosedur penjualannya itu harus ada aturannya yang jelas," tandasnya.

Selain aturan yang jelas soal pengelolaan dan nilai ekonomis sampah plastik yang dikumpulkan, keberlangsungan penukaran tiket bus dengan sampah perlu tindak lanjut.

"Ini suatu terobosan, semua orang akan heran-heran naik bis kok dengan bayar sampah. Tetapi kalau itu terus dibiarkan seperti ini saja, ini akan tidak lagi menjadi edukatif. Bisa jadi karena persyaratan membayar dengan sampah plastik, maka malah nantinya akan menyebabkan menciptakan sampah baru, bukan reduksi", kata Eddy.

Berdasarkan data dari Komunitas Nol Sampah Surabaya, produksi sampah plastik 3 juta lebih warga Surabaya, mencapai 400 ton per hari.

Eddy Sudjono mengkomparasi data ini dengan jumlah kursi dan intensitas jam operasional 10 bus yang hanya mengumpulkan rata-rata 10 kuintal setiap harinya. Hasilnya, tentu masih jauh panggang dari api.

"Surabaya sudah menjadi barometer nasional, bagaimana keterlibatan warga mengurangi sampah. Tapi ini masih kurang. Kan ini soal pendidikan, jadi harus ada kebijakan yang jelas dan terus-menerus, ada reward dan punishment. Mereduksi sampah jangan hanya di momen-momen tertentu saja," pungkas Eddy Sudjono.

Topik terkait

Berita terkait