Untuk pertama kalinya, pria gay Singapura boleh mengadopsi anak surogasi

A 46-year-old man has won a landmark case in Singapore Hak atas foto Getty Images
Image caption Seorang pria gay berusia 46 tahun, untuk pertama kalinya boleh mengadopsi anak surogasi di Singapura.

Seorang pria gay Singapura memenangkan banding di pengadilan yang akan memungkinkannya untuk mengadopsi anaknya yang lahir lewat surogasi.

Pria itu, 46 tahun, dan pasangannya, melakukan proses surogasi di AS dengan biaya $200.000 (Rp3 miliar), karena surogasi ilegal di Singapura.

Dia mencoba untuk secara sah mengadopsi anak itu tetapi ditolak tahun lalu, sehingga anak itu tidak memiliki hak orang tua yang sah.

Pernikahan sesama jenis tidak diakui di Singapura dan gay adalah ilegal.

Anak empat tahun itu dianggap tidak sah di mata hukum karena ibu surogasi dan ayah biologisnya tidak menikah.

Sang ibu - yang melepaskan semua haknya di bawah perjanjian surrogasi - bukan warga negara Singapura, membuat anak itu tidak secara otomatis memenuhi syarat untuk kewarganegaraan Singapura. Donor telurnya belum pernah diidentifikasi.

Sang ayah tidak memiliki hak sebagai orang tua menurut hukum, meskipun diizinkan untuk membuat keputusan atas nama sang anak.

Pria berusia 46 tahun, yang telah menjalin hubungan dengan pria Singapura lain selama sekitar 13 tahun, akan memiliki hak asuh tunggal anak saat adopsi dilakukan.

Di bawah hukum Singapura, anak-anak dapat diadopsi oleh lajang atau oleh pasangan yang sudah menikah. Namun, karena pria itu tidak dapat menikahi pasangannya secara legal - ia harus mengajukan adopsi sebagai seorang lajang.

'Kepentingan terbaik sang anak'

Keinginan awal pria itu untuk mengadopsi anaknya ditolak pada bulan Desember lalu, meskipun hakim pada saat itu mengatakan keputusan itu bukan keputusan tentang "unit keluarga seharusnya".

Namun Hakim Shobha Nair mengatakan bahwa keputusan itu adalah tentang etika surogasi komersial.

Pada hari Senin, Pengadilan Tinggi Singapura memutuskan bahwa pria itu - yang tidak dapat diidentifikasi - akan dapat mengadopsi anaknya.

"Keputusan kami tidak untuk dianggap sebagai pengesahan atas apa yang diminta oleh pemohon dan rekannya," kata Hakim Agung Sunderesh Menon.

Dia mengatakan bahwa ada "bobot yang signifikan" yang dilteakkan atas kekhawatiran bahwa keputusan itu "tidak akan melanggar kebijakan publik terhadap pembentukan unit keluarga sesama jenis".

Namun, ia menambahkan bahwa dalam kasus ini, ada "keharusan hukum untuk meningkatkan kesejahteraan anak... untuk menganggap kesejahteraannya sebagai yang pertama dan terpenting".

Berbicara kepada BBC, pengacara Ivan Cheong mengatakan kliennya "sangat gembira bahwa pada akhir proses adopsi yang panjang, kesejahteraan anak diutamakan".

"Pada akhirnya, ini adalah tentang kepentingan terbaik sang anak," kata Cheong dari firma hukum Eversheds Harry Elias LLP.

"Diakui sebagai anak yang sah dan memiliki status tempat tinggal jangka panjang selalu menjadi masalah utama klien kami."

Gerakan hak-hak gay telah mendapatkan momentum yang signifikan di beberapa bagian di Asia, meskipun pernikahan gay masih tetap ilegal - dan masalah yang sangat kontroversial - di Singapura yang konservatif secara sosial.

Berita terkait