Akibat erupsi, tinggi Gunung Anak Krakatau berkurang 228 meter

Gunung Anak Krakatau Hak atas foto Reuters

Skala keruntuhan Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) kini jelas. Peneliti menganalisis citra satelit Anak Krakatau untuk memperkirakan volume batu dan pasir yang longsor ke laut.

Dari hasil analisis, diketahui bahwa Anak Krakatau kehilangan lebih dari 2/3 ketinggian dan volumenya dalam beberapa minggu terakhir.

Berkurangnya tinggi Gunung Anak Krakatau diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung disertai laju erupsi yang tinggi pada 24-27 Desember 2018.

Sebagian besar massa yang kolaps itu diperkirakan longsor ke laut.

Itu bisa menjelaskan pergerakan air laut dan munculnya gelombang tinggi hingga lima meter yang menerjang pesisir Selat Sunda di Pulau Jawa dan Sumatera.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan tsunami Selat Sunda mengakibatkan 431 orang tewas, ribuan luka-luka dan 15 orang dikabarkan masih hilang. Sementara itu, tsunami dan ancaman erupsi Krakatau juga membuat lebih dari 40 ribu orang harus mengungsi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempelajari citra Gunung Anak Krakatau dari berbagai satelit, termasuk satelit Sentinel-1 milik Uni Eropa dan TerraSAR-X kepunyaan Jerman.

Satelit tersebut memperlihatkan citra Anak Krakatau secara jernih, baik malam ataupun siang hari, tanpa gangguan awan.

Lewat gambar-gambar itu, bisa dilakukan pengukuran ketinggian dan volume Anak Krakatau, terutama di bagian barat yang dikenal rentan runtuh.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Bagaimana gunung berapi bisa menyebabkan tsunami?

Awalnya, tinggi kerucut Anak Krakatau mencapai angka 338 meter, kini hanya tersisa 110 meter.

Selain tinggi yang tergerus, volume gunung berapi itu juga menyusut. PVMBG menyebut sekitar 150-170 juta meter kubik hilang akibat longsor dan menyisakan volume gunung sebanyak 40-70 juta meter kubik.

Hak atas foto JAXA
Image caption Citra satelit Gunung Anak Krakatau dari radar Alos-2 milik Jepang.

Kendati demikian, tidak diketahui volume massa gunung yang longsor ke laut pada 22 Desember ataupun hari-hari setelahnya, saat aktivitas vulkanik Anak Krakatau terus meningkat.

Para peneliti bisa memberikan perkiraan yang lebih akurat setelah langsung mengunjungi lapangan dan melakukan survei yang lebih detail. Namun dengan erupsi yang terus terjadi dan adanya peringatan zona keselamatan 500 meter hingga satu kilometer dari Anak Krakatau, tidak ada yang berani mendekat.

Massa gunung yang longsor ke laut dan memicu tsunami dianggap sebagai potensi bahaya, sebelum peristiwa itu terjadi pada 22 Desember 2018.

Peneliti telah memetakan potensi bahaya ini enam tahun lalu, bahkan memprediksi lereng barat gunung sebagai sisi yang rentan runtuh.

Studi ini, meskipun mensimulasikan peristiwa yang lebih besar, memprediksi ketinggian dan waktu terjangan gelombang yang sangat mirip dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Berita terkait