Semasa hidup berhemat, saat meninggal beri warisan Rp160 miliar bagi anak yatim

Alan Naiman Hak atas foto Treehouse
Image caption Alan Naiman dikenal sebagai orang yang hemat semasa hidupnya.

Meskipun semasa hidupnya sangat hemat, pekerja sosial ini mengejutkan banyak orang dengan mewariskan uangnya untuk anak yatim.

Semasa hidupnya, Naiman dikenal sangat hemat. Dia selalu membeli pakaian di toserba, berbelanja menggunakan kupon dari koran dan majalah, serta bepergian menggunakan kendaraan umum.

Ternyata Naiman berhemat bukan karena dia tidak punya uang. Dia meninggalkan warisan sebesar US$11 juta atau setara Rp160 miliar bagi anak-anak yatim. Naiman meninggal pada Januari 2018 lalu akibat kanker yang dia derita.

"Saya pikir semua terkejut. Kita semua kaget ketika mengetahui dia punya uang sebanyak itu untuk disumbangkan," kata Mary Monahan, rekan Naiman di dinas sosial Washington.

Setelah mengetahui dia mengidap kanker, Naiman berkata pada Mohanan akan menyumbangkan seluruh kekayaannya pada badan amal saat dia meninggal nanti.

"Orang-orang akan terkejut dengan jumlahnya," kata Monahan, mengulang pernyataan Naiman.

"Dan ya, orang-orang memang terkejut," sebut Monahan pada BBC News.

Tiga puluh tahun lalu, Naiman memilih hengkang dari pekerjaan bergaji tinggi dan mendedikasikan diri merawat anak-anak terlantar serta penyandang disabilitas. Anak-anak itulah, ujar Monahan, yang menginspirasi Naiman untuk mendahulukan orang lain.

"Saya kira, dia merasa sudah cukup dengan apa yang dia miliki dan sementara banyak orang, anak-anak, yang masih kekurangan," kata Monahan. "Alan sangat menyayangi anak-anak yang dia tangani."

Naiman punya sedikit warisan dari orang tuanya, selain itu dia juga berinvestasi dan menabung.

Monahan menyebut Naiman bahkan bisa melakoni dua hingga tiga pekerjaan karena tidak ingin punya utang.

Warisan Naiman diberikan pada enam badan amal lokal, semuanya menangani anak-anak, yakni Childhaven, Little Bit Therapeutic Riding Center, Make-A-Wish Alaska and Washington, Odessa Brown Children's Clinic, Treehouse dan WestSide Baby.

Jessica Ross, Kepala bagian pengembangan Treehouse, mengatakan dia pertama kali mengenal nama Naiman justru beberapa bulan setelah kematiannya. Saat itu, melalui bank, Naiman mendonasikan US$5,000 kepada lembaga yang menangani pendidikan lanjutan bagi anak-anak yatim tersebut.

Padahal, rata-rata sumbangan yang masuk ke organisasinya berada di kisaran ratusan dolar.

"Itu sumbangan yang sangat besar dan kami tidak menyangka," kata Ross.

Kejutan tidak berhenti sampai di situ, Naiman meninggalkan warisan senilai US$900 ribu (Rp13 miliar) bagi Treehouse dan membuat pihak manajemen terpana.

Namun yang membuat mereka lebih tersentuh adalah kisah hidup Naiman yang selalu berhemat sehingga dia bisa memberi lebih bagi orang lain yang membutuhkan.

"Kami sangat terharu dengan kebaikan dan cinta kasih yang dia berikan pada orang lain. Saya tidak ingin besaran nilai sumbangan yang dia berikan yang justru menjadi fokus. Ini adalah tentang cara yang dia inginkan saat dia meninggalkan dunia ini, dengan berbagi."

Topik terkait

Berita terkait