10 Years Challenge: Kontroversi lepas jilbab di Turki

turki Hak atas foto Getty Images
Image caption Memakai jilbab di tempat umum dilarang selama bertahun-tahun di Turki.

Perdebatan mengenai pemakaian jilbab berlangsung di Turki sejak para pengguna media sosial di negara itu turut bergabung dengan #10YearChallenge yang viral di seluruh dunia.

Debat dipicu oleh sejumlah perempuan yang memakai tantangan itu untuk menampilkan perbandingan foto saat masih memakai jilbab dan ketika sudah melepas jilbab disertai alasan mengapa mereka melakukannya.

Beberapa perempuan bahkan memakai tagar #1yearchallenge karena keputusan mereka melepas jilbab baru terjadi setahun lalu.

Nazan adalah salah seorang perempuan yang memakai tagar tersebut dan membagikan fotonya sedang paragliding.

"#1yearchallenge, tidak ada cara untuk menjelaskan betapa indahnya perasaan saya untuk hidup sebagaimana yang saya yakini dan ingini," tulisnya dalam cuitan di Twitter.

Sebagian cuitan itu dicuitkan kembali oleh sebuah situs online bernama You'll Never Walk Alone.

Laman itu mendorong para perempuan yang melepas jilbab mereka, atau sedang mempertimbangkan melepas jilbab, untuk berbagi kisah.

Tanpa mengungkap identitas sebenarnya, pendiri laman itu mengatakan kepada BBC Turki bahwa tujuannya adalah menunjukkan kepada para perempuan Turki "mereka tidak sendiri dan ada solidaritas kepada para perempuan dalam perjalanan sulit mereka".

"Seharusnya tidak ada remaja berusia 13-14 tahun yang dipaksa memakai sesuatu yang mereka mesti pakai seumur hidup mereka," ujarnya kepada BBC Turki.

Inilah beberapa kisah mereka

"Siapapun bisa mengatakan apapun yang mereka inginkan. KAMI BEBAS dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga kami atau kawan-kawan kami," tulis Busranur.

"Pikiran kami tentang diri kami dan pikiran kami tentang apa yang kami bisa lakukan telah dibebaskan.

"Kami dimurnikan dari segala jenis dogma agama yang bisa diterapkan terhadap perempuan. Kami tidak memainkan peranan yang ditetapkan orang lain kepada kami. Kami telah menjadi diri kami sendiri 10yearchallenge."

"Saya tersenyum setiap saat tapi hidup tidak selalu ceria. Sebagai lulusan madrasah Imam Hatip, saya memperjuangkan hak memakai jilbab (di universitas), tapi juga saa berjuang melepasnya selama delapan tahun," cuit warganet lainnya.

"Untuk jangka waktu yang lama, saya bergelut di dalam batin dan selama lima tahun berubah menjadi pergumulan melawan kawan-kawan dan seluruh masyarakat."

Pandangan berbeda

Sikap para perempuan yang melepas jilbab mereka dibalas oleh sejumlah perempuan lain yang mengatakan bahwa memakai jilbab adalah pilihan mereka.

"#10yearchallenge ini tahun keempat saya memakai jilbab. Saya pikir tidak benar mendiskusikan kebebasan dengan cara seperti itu," tulis seorang perempuan.

"Saya tidak bisa terima bahwa sejumlah orang memuji dengan antusias mereka yang melepas jilbab dan menyebutnya sebagai manusia tercerahkan seolah mereka punya moralitas."

Para pria bergabung dalam perdebatan

"Setiap orang bisa menutup diri mereka atau tidak menutup diri, terserah mereka. Ini bukan urusan orang lain," tulis seorang warganet.

"Saya melihat unggahan-unggahan dari mereka yang melepas jilbab selama beberapa hari terakhir. Menurut saya, itu adalah omong kosong! Anda harus menghormat mereka yang memakai jilbab, begitu pula mereka yang melepasnya. Hentikan komentar menghina!"

Pengguna medsos ini mengatakan "salah mengaitkan kebebasan dengan jilbab".

"Mengaitkan jilbab dengan kebebasan adalah sikap intoleransi. Kebebasan adalah kemampuan bertindak bebas tanpa penindasan siapapun. Kadangkala, menutup diri sendiri adalah kebebasan."

Topik jilbab adalah topik kontroversial di Turki. Memakai jilbab di institusi umum dilarang selama bertahun-tahun dan para mahasiswi tidak diperbolehkan masuk universitas dengan memakai jilbab.

Namun, dalam 10 tahun terakhir di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan, larangan itu perlahan dicabut.

Kalangan sekuler menilai jlbab adalah simbol politik dan konservatisme agama. Mereka menuding pemerintahan Erdogan mendorong agenda agama.

Tekanan kepada remaja dan perempuan muda untuk memakai jilbab juga datang dari orang tua yang agamis dan kalangan tertentu di dalam masyarakat Turki.

Berita terkait