Perempuan manula Jepang memilih jadi penjahat kambuhan: Dipenjara karena curi anggur

jepang Hak atas foto Yo Nagaya
Image caption Jumlah narapidana manula di Jepang meningkat. (Foto arsip)

Awal bulan ini BBC menerbitkan artikel mengenai peningkatan jumlah warga manula di Jepang yang dipenjara.

Salah satu poin yang patut dicermati adalah fakta bahwa jumlah penjahat manula perempuan meningkat drastis.

BBC bertemu dengan salah seorang di antara mereka, seorang perempuan berusia 68 tahun yang dibui untuk kali kelima. Kejahatannya terkini adalah mencuri anggur.

Dia memaparkan kisahnya sebagai berikut:


Saya dipenjara untuk pertama kalinya ketika saya berusia 53 tahun. Saat itu saya mencuri tas. Masa penahanan saya sekarang adalah dua tahun.

Saya tidak terus-terusan mengutil. Saya mencuri ketika saya merasa terpojok. Pertama kali saya melakukan tindak kejahatan adalah karena ada ketegangan di rumah. Salah satu anak saya tidak mau ke sekolah dan saya merasa terganggu.

Kejadian berikutnya adalah saya diperas oleh napi lain yang mengatakan bakal memberitahu semua orang bahwa saya punya catatan kejahatan jika saya tidak mau mengutil lagi. Sepertinya dia melihat alamat saya saat saya menerima surat. Saya tidak mau dia bilang-bilang ke siapa-siapa, jadi saya melakukannya.

Kali ini saya mencuri buah karena saya mengidap diabetes dan saya suka yang manis-manis, tidak bisa berhenti. Buah yang saya ambil (anggur) adalah karena saya tidak mampu membelinya.

Tapi saya juga stres karena putra saya tinggal di rumah bersama anaknya setelah pernikahannya kandas dan dia tidak punya pekerjaan.

Saya mencuri setelah kami bertengkar. Sulit keadaannya. Dia cepat bosan dan meninggalkan pekerjaan. Saya bilang kepada dia bahwa saya tidak butuh orang malas di rumah.

Hak atas foto Yo Nagaya
Image caption Sebuah se di Penjara Tochigi.

Suami saya sudah membesuk tapi putri saya marah dan menolak datang.

Ada banyak orang di sini yang melakukan kejahatan karena mereka tidak akur dengan anak-anak mereka. Mereka merasa kesepian. Anak-anak punya kehidupan sendiri-sendiri, tidak punya waktu merawat orang tua.

Saya tidak mau mengutil lagi. Saya ingin jadi kuat, tidak bereaksi jika diancam dan saya akan menahan keinginan makan yang manis-manis.

Jelas saya tidak mau kembali ke sini lagi. Saya sudah tua dan sulit hidup di sini. Saya sukar menyesuaikan keadaan.

Suami saya mengatakan masa lalu adalah masa lalu. Dia meminta maaf tidak memahami saya. Dia terluka saat sedang di sini jadi saya ingin merawatnya setibanya saya di rumah.

Anak muda merasakan hidup yang keras di Jepang dan saya harap mereka merawat orang tua. Jika tidak, kesepian akan timbul.

Junko Ageno, sipir di Penjara Tochigi

Hak atas foto Yo Nagaya

Saya menjadi sipir penjara sekitar 20 tahun lalu. Setelah cuti kerja, saya kembali ke sini sekitar lima tahun lalu. Kesan pertama saya adalah meningkatnya jumlah narapidana manula.

Ada beberapa napi yang saya bisa kenali dan saya berpikir: 'Orang ini telah menjadi perempuan manula'.

Napi-napi yang dipenjara karena mengutil, bukan karena mereka tidak punya makanan, tapi karena mereka ingin menyimpan uang mengingat makanannya mudah diambil.

Saya menyimak profil napi ketika mereka pertama bergabung ke bengkel kerja di penjara dan kerap mereka hanya mencuri nasi sekepal atau jenis makanan lainnya senilai 1.000 yen (Rp127,5 ribu).

Tentu beberapa napi keadaan ekonominya susah, tapi saya mendapat kesan dari napi lainnya bahwa mereka punya uang untuk membeli barang namun mereka berpikir barang itu akan gratis jika mereka mencurinya.

Saya bicara dengan mereka dan mereka tahu itu salah. Tapi mereka mengatakan, "Saya sudah tua dan saya tidak punya banyak uang sehingga harus khawatir soal hidup pada usia tua."

Saya menangani bengkel kerja berisi para residivis yang telah ditinggalkan keluarga mereka.

Mereka merasa kesepian dan terisolasi. Di penjara mereka punya makanan, baju, dan atap bernaung. Mereka mungkin punya kenalan atau teman di sini sehingga merasa lebih aman di dalam penjara ketimbang di luar bersama masyarakat.

Supaya bisa dipenjara, kejahatan paling mudah yang mereka bisa lakukan adalah mencuri dan mengutil. Itulah sebabnya kita menyaksikan adanya peningkatan dalam jenis kejahatan itu.

Hak atas foto Yo Nagaya
Image caption Sandal milik para napi ditata dengan rapi.
Hak atas foto Yo Nagaya
Image caption Lajur-lajur besi di penjara untuk mengeringkan baju.

Saya pernah menangani bengkel kerja untuk narapidana yang baru pertama kali dibui.

Beberapa perempuan yang saya temui perdana di bengkel kerja kini menempati bagian residivis. Saya bertanya mengapa mereka kembali begitu cepat dan mereka berkata, 'Saya sangat kesepian'.

Tatkala mereka bakal keluar dari penjara, mereka mengaku tidak ingin kembali lagi.

Namun begitu keluar dari penjara, karena mereka punya catatan kejahatan dan di atas 60 tahun, tidak punya banyak kerabat untuk bergantung, tidak ada teman, dan tidak tahu bagaimana bisa bertahan hidup, mereka mengutil lagi.

Hak atas foto Yo Nagaya
Image caption Patung bertajuk "Ibu dan anak" terpajang hampir di setiap penjara di Jepang.

Saya khawatir napi seperti itu akan bertambah.

Setelah seorang napi menuntaskan masa hukuman, mereka bekerja pada divisi kesejahteraan di balai kota setempat dan lembaga kesejahteraan.

Kami ingin mengubah pola pikir mereka bahwa kembali ke penjara adalah satu-satunya cara bertahan hidup.

Berita terkait