Oscar 2019: Kisah tentang pembalut di India yang memenangi penghargaan

Sneh
Image caption Sneh, 22, menghadiri acara penghargaan Oscar dimana filmnya menang untuk kategori film dokumenter pendek terbaik
Presentational white space

Sebuah film tentang remaja perempuan di India yang membuat pembalut menstruasi baru saja memenangi piala Oscar untuk film dokumenter pendek terbaik. Wartawan BBC Geet Pandey bertemu langsung dengan para perempuan di desa itu sebelum ajang penghargaan itu berlangsung.

Sneh berusia 15 tahun ketika dia mulai menstruasi. Kali pertama dia datang bulan, dia sama sekali tak memahami apa yang terjadi dengannya.

"Saya sangat takut. Saya pikir saya mengidap sakit yang serius dan mulai menangis," ujarnya kepada saya ketika saya menyambangi rumahnya di desa Kathikhera, tak jauh dari ibu kota Delhi awal pekan ini.

"Saya tidak memiliki keberanian untuk memberitahu ibu saya, lalu saya mengungkapkan isi hati saya bibi saya. Dia berkata: 'Kamu perempuan dewasa sekarang, jangan menangis, hal ini normal.' Dia yang kemudian memberitahu ibu saya."

Sneh yang kini berusia 22 tahun, sudah beranjak jauh dari titik itu. Dia bekerja di sebuah pabrik kecil di desanya yang membuat pembalut dan menjadi tokoh protagonis dalam film Period. Sebuah film dokumenter yang menjadi pemenang film dokumenter terbaik tahun ini dalam ajang Oscar.

Dia pun menghadiri upacara penghargaan di Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (24/02) waktu setempat.

Film ini muncul setelah sebuah kelompok mahasiswa di Hollywood Utara memanfaatkan penggalangan dana atau crowdfunding untuk mengirim mesin pembuat pembalut - dan menerbangkan sutradara film campuran Iran-Amerika, Rayka Zehtabchi ke desa Kathikhera.

Berjarak 115km dari Delhi, desa yang terletak di distrik Hapur adalah dunia yang jauh dari mal mewah dan gedung-gedung tinggi di ibukota India. Biasanya, desa ini bisa ditempuh selama dua setengah jam perjalanan dari Delhi, namun pekerjaan konstruksi di jalan raya memperlambat perjalanan itu, membuat waktu tempuhnya menjadi empat jam.

Dan perjalanan 7,5km terakhir ke desa dari kota Hapur ditempuh dengan penuh perjuangan, melalui jalan-jalan berliku sempit yang dibatasi oleh aliran sungai di kedua sisi.

Film dokumenter ini mengambil tempat di peternakan dan ladang - dan ruang kelas - di Kathikhera. Seperti di bagian lain India, menstruasi adalah topik yang tabu; perempuan yang sedang menstruasi dianggap tidak murni dan dilarang memasuki tempat-tempat keagamaan dan sering kali dikecualikan dari kegiatan sosial juga.

Presentational white space
Women making sanitary pads
Image caption Sneh menuturkan bahwa sebelumnya, menstruasi bukan topik yang dibicarakan -bahkan di antara para perempuan
Presentational white space

Dengan banyaknya stigma sekitar isu ini, tak mengherankan Sneh tidak pernah mendengar tentang menstruasi sebelum akhirnya dia mengalaminya sendiri.

"Itu bukan suatu topik yang dibicarakan -bahkan di antara para gadis," ujarnya.

Namun, hal itu perlahan mulai berubah ketika sebuah badan amal di bidang kesehatan reproduksi, Action India, mendirikan unit pabrik pembalut di desanya.

Presentational white space
Para perempuan bekerja mulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore selama enam hari dalam seminggu
Image caption Para perempuan bekerja mulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore selama enam hari dalam seminggu
Presentational white space
The final product
Image caption Satu pak pembalut dibanderol dengan harga 30 rupee atau sekitar Rp6.000
Presentational white space

Pada Januari 2017, Sneh diajak oleh Suman, tentangganya yang bekerja di Action India, untuk bekerja di pabrik itu.

Seorang sarjana yang bermimpi untuk bekerja sebagai polisi di Delhi suatu saat nanti, Sneh menuturkan dia sangat tertarik dengan tawaran itu. Lagi pula, "tidak ada lapangan pekerjaan lain" di desanya.

"Ketika saya minta izin ibu, dia berkata, 'tanya ayahmu'. Di keluarga kami, semua keputusan penting harus diputuskan oleh seorang pria."

Dia sangat malu ketika harus memberitahu ayahnya bahwa dia akan bekerja membuat pembalut, jadi dia mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan membuat popok bayi.

"Baru dua bulan kemudian, ibu memberitahu ayah saya bahwa saya membuat pembalut," ujarnya sambil tertawa.

Dan ayahnya berujar,"Tak apa, pekerjaan adalah pekerjaan."

Kini, sebanyak tujuh perempuan, antara 18 hingga 31 tahun, bekerja di unit ini. Mereka bekerja dari pukul 9 pagi hingga 5 sore selama enam hari dalam seminggu dan mendapat gajii sebesar 2,500 rupee, atau hampir Rp500 ribu tiap bulannya. Pabrik ini menghasilkan 600 pembalut tiap harinya dan produk itu dijual dengan merk Fly.

Presentational white space
Perempuan membuat pembalut
Image caption Pabrik ini memproduksi 600 pak pembalut setiap harinya.
Presentational white space
Perempuan membuat pembalut
Image caption Kebanyakan perempun di desa biasanya menggunakan potongan kain lama ketika mereka sedang datang bulan, namun kini, 70 persen dari mereka menggunakan pembalut.
Presentational white space

"Masalah terbesar yang kita hadapi adalah pemadaman listrik. Terkadang kami harus kembali pada malam hari untuk bekerja ketika listrik menyala untuk memenuhi target produksi," kata Sneh.

Bisnis kecil ini yang dijalankan dari rumah dengan dua kamar di desa, telah membantu meningkatkan kebersihan perempuan. Sebelum didirikan, sebagian besar perempuan di desa itu menggunakan potongan kain yang dipotong dari sari tua atau seprai ketika mereka mengalami menstruasi, sekarang 70% menggunakan pembalut.

Produk ini juga menghilangkan stigma tentang menstruasi dan mengubah sikap masyarakat konservatif dengan cara yang tidak terbayangkan beberapa tahun yang lalu.

Sneh mengatakan menstruasi sekarang dibahas secara terbuka di kalangan perempuan. Tapi, katanya, ini bukan perjalanan yang mudah.

"Awalnya sulit. Saya harus membantu ibu saya mengerjakan pekerjaan rumah, saya harus belajar dan melakukan pekerjaan ini. Kadang-kadang selama ujian saya, ketika tekanannya terlalu banyak, ibu saya menggantikan saya bekerja," katanya .

Ayahnya, Rajendra Singh Tanwar, mengatakan dia "sangat bangga" terhadap putrinya. "Jika pekerjaannya bermanfaat bagi masyarakat, terutama perempuan, maka saya merasa senang karenanya."

Presentational white space
Sneh bersama ayahnya
Image caption Rajendra Singh Tanwar mengungkapkan dia bangga atas apa yang sudah dilakukan oleh Sneh (kiri)
Presentational white space
Sushma Devi
Image caption Suami Sushma Devi tidak mau istrinya bekerja di pabrik itu.
Presentational white space

Pada awalnya, para perempuan menghadapi keberatan dari beberapa penduduk desa yang curiga dengan apa yang terjadi di pabrik itu. Dan ketika kru film tiba di desa itu, mereka terus menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh para kru.

Dan beberapa di antara mereka, seperti Sushima Devi yang berusia 31 tahun, masih harus menghadapi perjuangan di rumahnya.

Ibu dari dua orang anak ini mengatakan suaminya menyetujui dirinya bekera di pabrik itu setelah ibu Sneh minta izinnya. Suaminya juga bersikeras bahw dia harus menuntaskan pekerjaan rumahnya terlebih dulu sebelum bekerja di pabrik.

"Jadi aku bangun pada pukul 5 pagi, membersihkan rumah, mencuci pakaian, memberi makan ternak, meramu bahan bakar memasak kami yang dibuat dari kotoran ternak, mandi, membuat sarapan dan makan siang sebelum saya pergi dari rumah. Sore harinya, saya langsung memasak makan malam ketika sampai di rumah."

Namun, suaminya masih tidak senang dengan jadwal ini. "Dia sering kali marah dengan saya. Dia berkata pekerjaan di rumah sudah cukup, mengapa kamu kerja di luar rumah? Tetangga saya juga mengatakan ini bukan pekerjaan yang bagus, mereka juga menyebut gaji yang saya peroleh sangat kecil."

Dua tetangga Sushima sempat bekerja di pabrik itu, tapi memutuskan berhenti beberapa bulan kemudian. Namun, Sushima tidak memiliki minat untuk mengikuti jejak mereka. "Bahkan jika suami saya menghajar saya, saya tidak akan meninggalkan pekerjaan saya. Saya menikmati bekerja di sini."

Presentational white space
Members of Action India and some of the factory workers
Image caption Action India, a charity that works on reproductive health issues, set up the manufacturing unit two years ago
Presentational white space

Dalam film dokumenter Period, Sushima menyebut dia menyisihkan uang yang dia hasilkan untuk membeli baju bagi adik lelakinya. "Jika saya tahun bahwa film ini akan ada di Oscar, saya pasti akan mengatakan sesuatu yang terdengar lebih pintar," ujarnya seraya tertawa.

Bagi Sushima, Sneh dan rekan kerja mereka, nominasi Oscar telah menjadi dorongan besar. Film yang tersedia di layanan streaming Netflix ini kemudian memenangi kategori Dokumenter Pendek Terbaik.

Ketika Sneh bersiap untuk pergi ke Los Angeles, tetangganya menghargai "gengsi dan ketenaran" yang ia bawa ke desanya.

"Tidak ada seorang pun dari desa Kathikhera yang pernah bepergian ke luar negeri, jadi saya akan menjadi orang pertama yang melakukannya," katanya. "Saya sekarang dikenal dan dihormati di desa, orang mengatakan mereka bangga pada saya."

Sneh mengatakan bahwa dia mendengar tentang Oscar dan tahu itu adalah penghargaan film terbesar di dunia. Tetapi dia tidak pernah menonton ajang penghargaanya, dan tentu saja tidak berpikir bahwa suatu hari dia akan berada di karpet merah.

"Saya tidak pernah berpikir saya akan pergi ke Amerika. Bahkan sekarang saya tidak dapat sepenuhnya memproses apa yang terjadi. Bagi saya, nominasi itu sendiri adalah sebuah penghargaan. Ini adalah mimpi yang saya impikan dengan mata terbuka."

Semua foto oleh wartawan BBC Abhishek Madhukar

Berita terkait