Sampai kapan puluhan ribu keluarga eks ISIS ditempatkan di kamp pengungsi Al-Hol?

Lebih dari 60.000 kaum perempuan dan anak-anakkeluarga eks ISIS membanjiri kamp pengungsi Al-Hol, Suriah, setelah semua wilayahnya direbut kembali oleh pasukan Kurdi. Seperti apa kehidupan di kamp tersebut?

kamp pengungsi al hol Hak atas foto BULENT KILIC/AFP

Kamp pengungsi Al-Hol, yang terletak di Provinsi Hasakeh, Suriah, dirancang untuk menampung 20.000 orang, namun sejak Desember 2018 lalu, telah disesaki lebih dari 60.000 orang.

Sejumlah laporan yang mengutip lembaga kemanusiaan International Rescue Committee menyebutkan, setidaknya 100 balita meninggal selama pengungsian atau saat tiba di kamp, diantaranya akibat diare dan malnutrisi.

Afshin Ismaeli, wartawan lepas yang mendatangi kamp Al-Hol, mengatakan kepada BBC News Indonesia, "Kondisi di kamp itu sangat, sangat buruk dan memprihatinkan."

"Tidak cukup untuk menampung ribuan orang, tidak ada bantuan. Ada yang membagi makanan tapi tak cukup untuk semua," ungkapnya.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto BULENT KILIC/AFP

Dari 60.000 pengungsi di kamp tersebut, ada lebih dari 9.000 warga negara asing, termasuk lebih dari 6,500 anak-anak

Salah-seorang warga negara asing, adalah perempuan warga negara Prancis (lihat foto atas), yang mengaku bergabung kelompok militan ISIS di Suriah, seperti dikatakannya kepada Kantor berita AFP,

kamp pengungsi al hol Hak atas foto BULENT KILIC/AFP

Dalam foto di atas, yang diabadikan 17 Februari 2019, seperti itulah kamp pengungsi Al-Hol, di Provinsi Hasakeh, Suriah, yang terletak di perbatasan dengan Irak,

Pasukan Demokratis Suriah, SDF, pimpinan suku Kurdi —dukungan Amerika Serikat— dilaporkan telah menahan lebih dari 5.000 milisi ISIS asal Suriah dan mancanegara sejak Januari lalu.

Mereka ditempatkan di berbagai penjara, sementara perempuan dan anak-anak ditempatkan di kamp pengungsi Al-Hol.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto FADEL SENNA/AFP

Dalam kondisi serba terbatas, sejumlah kaum perempuan Suriah — yang pernah bergabung dengan suaminya dengan kelompok ISIS di Suriah — berusaha menjalani kesehariannya, termasuk mendatangi pusat pengobatan di kamp pengungsi Al-Hol untuk berobat atau mengecek kesehatan putra-putrinya. Foto ini diabadikan pada 7 Februari 2019.

Keberadaan eks petempur ISIS dan keluarganya ini, bagaimanapun, dirasakan sebagai beban oleh pejabat Kurdi di wilayah tersebut, karena merasa seolah-olah dibiarkan untuk menangani para petempur ISIS.

Seperti diketahui, sejumlah negara, seperti Inggris dan Amerika Serikat, menolak kepulangan warga negaranya yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto FADEL SENNA/AFP

Pejabat Kurdi, Abdul Karim Omar, mengatakan kepada wartawan BBC, Aleem Maqbool, dirinya sangat kecewa dengan dunia internasional karena merasa seolah dibiarkan untuk menangani para petempur ISIS.

"Kurdi telah sangat menderita selama ini berada di bawah ISIS dan juga melawan kelompok militan itu," kata Abdul Karim.

Dalam foto di atas, seorang perempuan membawa balitanya untuk diperiksa kesehatannya di sebuah klinik di kampe Al-Hol, pada 7 Februari 2019 lalu. Kondisi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak di lokasi pengungsian dikhawatirkan berdampak pada kesehatannya.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto FADEL SENNA/AFP

Kehadiran keluarga eks ISIS yang melarikan diri Kota Baghuz — benteng terakhir ISIS di Suriah— yang direbut pasukan Kurdi, membuat kamp pengungsi Al-Hol disesaki pengungsi.

Pemimpin Kurdi, Abdul Karim memperingatkan, "Membiarkan anggota ISIS di kawasan yang tak stabil di bawah pemerintahan yang tak mampu mengangani, akan menimbulkan masalah.

Dalam foto di atas, yang diabadikan pada 6 Februari 2019, seorang ibu sedang mengawasi aktivitas anak-anaknya di kamp pengungsi Al-Hol, Suriah.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto DELIL SOULEIMAN/AFP

Menurut PBB, lebih dari 40.000 petempur asing dari 110 negara kemungkinan bertolak ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS ketika kelompok militan itu muncul sebagai kekuatan.

Namun demikian, setelah kelompok itu mengalami kekalahan demi kekalahan, kehadiran eks petempur ISIS menjadi momok bagi negara-negara asalnya.

AS dan Inggris menjadi sasaran kritik karena kebijakannya menolak kedatangan eks warga negaranya yang bergabung ISIS di Suriah dan Irak.

Banyak negara yang sejauh ini ragu-ragu untuk menerima mereka kembali. Indonesia sendiri telah menerima keluarga eks ISIS yang melarikan dari Kota Raqqa, setelah kota itu gagal dipertahankan ISIS.

Foto di atas adalah sebuah keluarga Suriah yang pernah bergabung ISIS dan saat ini mendekam di kamp pengungsi Al-Hol, Suriah.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto FADEL SENNA/AFP

Banyak pemerintahan Barat yang menolak merepatriasi warganya karena khawatir atas risiko keamanan, walaupun kehadiran mereka juga diperlukan untuk pengumpulan bukti terkait ISIS.

Sebelumnya, otoritas pimpinan Kurdi di Suriah Utara menyerukan dibentuknya mahkamah internasional untuk mengadili ribuan tersangka anggota kelompok Negara Islam atau ISIS.

Salah seorang pejabat, Abdul Karim Omar, mengatakan kepada BBC, mereka kewalahan dalam menghadapi ribuan orang yang keluar dari kantung wilayah ISIS di Baghuz.

Foto di atas memperlihatkan salah-satu sudut kamp pengungsi Al-Hol yang dipadati lebih dari 60.000 pengungsi, padahal kapasitasnya hanya mampu menampung 20.000 orang.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto FADEL SENNA/AFP

Setelah ISIS tak banyak lagi menguasai wilayah, para pejabat AS mengatakan terdapat sekitar 15.000 sampai 20.000 orang bersenjata yang masih aktif dan menyusup di tengah masyarakat. Mereka disebutkan akan bangkit lagi.

Otoritas Kurdi mengatakan "mahkamah internasional khusus di kawasan timur laut Suriah untuk mengadili teroris" perlu dibentuk untuk menjamin pengadilan "yang adil dan sesuai dengan hukum internasional dan pasal-pasal dalam konvensi hak asasi."

Foto di atas memperlihatkan dua orang perempuan eks ISIS asal Suriah menunggu pembagian bantuan dari badan PBB di kamp pengungsi Al-Hol, Suriah.

kamp pengungsi al hol Hak atas foto DELIL SOULEIMAN/AFP

Pejabat otoritas Kurdi untuk urusan luar negeri, Abdul Karim Omar, mengatakan fakta bahwa hanya sedikit negara yang merepatriasi warganya yang bergabung dengan ISIS membuat masalah semakin rumit.

Sejak 2002, Mahkamah Kejahatan Internasional berperan sebagai mahkamah permanen internasional, tetapi ketetapan ini belum diratifikasi oleh Suriah.

Pakar hukum internasional, Joel Hubrecht mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa "tidak realistis" untuk membentuk mahkamah di kawasan timur laut Suriah, karena Otoritas Kurdi di Suriah tidak diakui secara internasional.

Selain itu, menurut Hubrecht, pembentukan mahkamah memakan waktu dan melindungi saksi di kawasan konflik itu sulit.

Foto di atas memperlihatkan seorang bocah Suriah membawa bantuan yang dibagikan oleh badan PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya di kamp pewngungsi Al-Hol, Suriah, 7 Januari 2019.

BBC News Indonesia

Topik terkait

Berita terkait