China murka atas pembebasan warga AS yang mencuri ibu jari Prajurit Terakota

terakota Hak atas foto TRIPADVISOR
Image caption Prajurit Terakota yang berusia 2.000 tahun- ditemukan pada 1970-an oleh sejumlah petani China - merupakan salah satu penemuan arkeologis terpenting di Tiongkok.

Pengguna media sosial di China menyuarakan amarahnya setelah tuntutan atas seorang warga AS yang diduga mencuri ibu jari patung Terakota Prajurit Tiongkok, dibatalkan oleh peradilan.

Michael Rohana, 24 tahun, mengaku mencuri ibu jari patung terakota Prajurit Tiongkok yang tengah dipamerkan di Musium Franklin Institute, Pennsylvania, AS, pada Desember 2017.

Pengacaranya berpendapat bahwa Rohana didakwa secara keliru berdasarkan hukum yang biasanya diberlakukan untuk kasus pencurian berskala besar di museum.

Dia kemudian bersikeras, bahwa kasus yang dialami kliennya termasuk kategori "vandalisme pemula".

Dalam persidangan yang berakhir pada Selasa lalu, mayoritas juri mendukung pembebasan Rohana.

Hak atas foto Zhang Peng/LightRocket via Getty Images
Image caption Salah-satu patung Prajurit Terakota yang dipamerkan di Museum Shaanxi, China.

Prajurit Terakota - ditemukan pada 1970-an oleh sejumlah petani China - merupakan salah satu penemuan arkeologis terpenting di Tiongkok.

Patung tanah liat berusia 2.000 tahun - yang kedua ibu jarinya dipatahkan dan dicuri itu - diperkirakan bernilai $4,5 juta dan merupakan salah satu dari 10 patung yang dipinjamkan selama pameran pada September 2017-Maret 2018.

Apa yang terjadi?

Pada Desember 2017, Rohana menghadiri acara Ugly Sweater Party di Institut Franklin ketika dia memasuki ruangan pameran Prajurit Terakota, yang kemudian ditutup.

Rekaman kamera pengintai memperlihatkan dirinya "berkeliling" di antara patung-patung tersebut dan melakukan swafoto, sebelum mematahkan sesuatu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.

Salah-seorang karyawan museum melihat dua ibu jari dari patung itu hilang pada Januari lalu dan menghubungi FBI.

Mereka kemudian menyelidiki serta menelusuri siapa yang mencuri ibu jari itu. Belakangan, Rohana mengakui bahwa dia yang mencuri dan menyimpan ibu jari tersebut di laci meja.

Dia kemudian didakwa dengan dua kejahatan, yaitu pencurian dan penyembunyian barang warisan budaya.

'Saya tidak tahu kenapa saya merusak ibu jarinya'

Selama persidangan di Pengadilan Federal di Philadelphia yang berakhir 9 April lalu, Rohana mengakui bahwa dia telah melakukan kesalahan.

"Setiap kali saya melihat video itu saat ini, saya mencoba mencari tahu: 'Apa yang ada dalam pikiran Anda? Apa yang Anda pikirkan?'" Katanya.

"Saya tidak tahu kenapa saya merusaknya. Itu tidak terjadi begitu saja, tetapi tidak pernah ada dalam pikiran saya: 'Saya harus mematahkannya.'"

Hak atas foto VCG/VCG via Getty Images
Image caption Prajurit Terakota - ditemukan pada 1970-an oleh sejumlah petani China - merupakan salah satu penemuan arkeologis terpenting di Tiongkok.

Pengacaranya, Catherine Henry, berpendapat bahwa tuduhan yang diajukan kepadanya terlalu berat: "Tuduhan ini dibuat untuk kawanan pencuri benda-benda seni - misalnya yang terjadi dalam Ocean's Eleven atau Mission: Impossible."

Dia mengatakan, Rohana "tidak mengenakan pakaian ala ninja untuk menyelinap di museum. Dia sedang mabuk dan mengenakan sweater ala Natal berwarna hijau tua yang norak".

Anggota dewan juri tidak dapat mencapai putusan atas tuduhan tersebut.

Jaksa penuntut akan memutuskan kasus persidangan ini pada 15 Mei nanti, apakah akan melakukan persidangan ulang atau tidak.

Bagaimana tanggapan China?

Pihak berwenang China menuntut agar Rohana diganjar "hukuman berat" atas tindakannya.

Perwakilan otoritas Pusat Peninggalan Budaya Provinsi Shaanxi mengatakan bahwa selama lebih dari 260 pameran budaya selama empat dekade, tidak pernah terjadi "insiden ganas".

Mereka mengatakan akan meminta pertanggungjawaban departemen terkait AS.

Hak atas foto Zhang Peng/LightRocket via Getty Images
Image caption Tim arkeolog China sedang mengkonservasi patung tanah liat atau biasa disebut Patung Prajurit yang berumur 2.000 tahun.

Chen Lusheng, mantan pimpinan Museum Nasional China, menambahkan bahwa dirinya "secara emosional sulit menerima vonis seperti itu", dan menurutnya, China akan menyelidiki tanggung jawab Institut Franklin berdasarkan perjanjian penyelenggaraan pameran.

Sejak mengetahui hasil persidangan kasus ini, ribuan orang di China telah menyuarakan kemarahannya melalui situs microblogging paling populer di China, yaitu Sina Weibo.

"Karena dia dinyatakan tak bersalah, dapatkah saya juga mencuri obor Patung Liberty?" kata seorang pengguna.

Yang lain mengatakan: "Apakah tujuh anggota juri itu idiot?" Seorang pengguna lainnya menyebutnya "lelucon internasional".

"Anjing Amerika ini sama sekali tidak peduli, atau mengerti peninggalan budaya China," tambah yang lain.

Yang lain mengatakan: "Jadi seperti apa demokrasi itu?"

Apakah ada kasus pengrusakan artefak bersejarah lainnya?

  • Pada 2009, tulisan "Arbeit macht frei" ("Bekerja akan membebaskan" dalam bahasa Jerman) di gerbang masuk Auschwitz , Polandia, diambil oleh pencuri dan dipotong menjadi dua - namun kemudian berhasil kembali.
  • Situs warisan dunia Pulau Paskah menjadi sasaran vandalisme pada 2008 ketika seorang turis Finlandia merusak patung terkenal dengan memotong telinganya. Insiden ini membuat Wali Kota Pulau Paskah mengatakan bahwa dia berharap turis itu akan memotong telinganya juga
  • Seorang remaja China merusak karya seni Mesir Kuno di kuil Luxor pada 2013 dengan menulis "Ding Jinhao ada di sini".

Topik terkait

Berita terkait