Film Avengers yang 'bersaing' dengan film-film Indonesia

Penonton Avengers: Endgame di Chinese Theatre, Los Angeles pada 25 April lalu. Hak atas foto AFP
Image caption Penonton Avengers: Endgame di Chinese Theatre, Los Angeles pada 25 April lalu.

Avengers: Endgame diperkirakan akan menjadi film terlaris di Indonesia mengalahkan film-film dari Marvel Cinematic Universe (MCU) atau Jagat Sinema Marvel serta film-film Hollywood lainnya.

Namun sejumlah film seperti Warkop Reborn dan Dilandapat bersaing dalam merebut jumlah penonton. Dan bahkan film AADC2, Ada Apa Dengan Cinta 2 dapat menyeimbangi film Avengers, Captain America: Civil War ketika keluar pada waktu yang bersamaan tiga tahun lalu.

Film terbaru Jagat Sinema Marvel, Avengers: Endgame yang dirilis pada 24 April lalu, telah memecahkan rekor dalam pendapatan harian dan pendapatan akhir pekan, hal yang sudah diperkirakan sebelumnya.

Pengelola akun Bicara Box Office Sigit Prabowo mengatakan beberapa rekor yang dipecahkan Avengers: Endgame di Indonesia adalah, "Rekor opening day(hari pemutaran perdana), opening week(pekan pemutaran perdana), most numbers of screen(jumlah layar terbanyak), dan tidak sulit ditebak akan memecahkan rekor gross (laba kotor) terbesar, juga admission (pembelian tiket) terbesar."

Hak atas foto KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG
Image caption Film Dilan 1990 mampu bersaing langsung dengan film-film besar Hollywood.

Tapi memang sudah tradisi, film-film Marvel Cinematic Universe dan film superhero pada umumnya laku keras di Indonesia.

"Beberapa franchise lain seperti Fast and Furious, Transformers, itu sudah jadi langganan untuk punya performance yang bagus di box office Indonesia," kata Sigit kepada Eric Sasono yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Film Hollywood, terutama yang beranggaran besar atau tentpole, secara global memang mendominasi.

"Saya percaya demikian karena bukan ini bicara Indonesia karena ini bicara fenomena global. Film-film seperti Avengers: Endgame, proporsi market share negara-negara seperti China pun mencapai 90%. Bukan hal yang aneh, hal itu juga sama, jadi fenomena global. Rata-rata film yang saya sebut tadi punya performa yang bagus di market internasional."

Captain America Civil War Vs Ada Apa Dengan Cinta 2

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah film Indonesia mampu bersaing dengan film Hollywood, bahkan mendominasi penjualan tiket di jaringan bioskop utama di Indonesia.

Film seperti Warkop Reborn dan Dilan, berhasil mengalahkan dominasi film Hollywood tersebut. Menurut catatan situs web filmindonesia.or.id, film-film ini memperoleh jumlah penjualan tiket di atas enam juta lembar.

Angka ini tak terbayangkan terjadi pada tahun 2011, di mana tak ada satu pun film Indonesia yang bisa mencapai jumlah penonton di atas satu juta, angka piskologis bagi film Indonesia yang dianggap sukses.

Produser film dan investment analyst di Ideosource, sebuah venture capital di bidang film, Amanda Marahimin menyatakan setuju jika dikatakan bahwa film Indonesia menunjukkan geliat kebangkitan.

"Saya setuju dengan hal itu. Karena selain lebih banyak yang mencapai satu juta penonton, market share kita juga naik sejak 2016. Dan paling tajam itu 2017 dan 2018 juga masih naik walaupun tidak setajam dari 2016 ke 2017. Tapi jumlah penonton dan market share ini yang menentukan, mengapa semua orang mengatakan ini adalah kebangkitan film Indonesia," kata Amanda yang akrab dipanggil Mandy ini.

Produser film Sheila Timothy juga menyatakan adanya kenaikan market share film Indonesia yang mencapai 30% dari total keseluruhan film yang beredar di Indonesia.

Jumlah penonton film Hollywood masih tinggi

Hak atas foto Disney Studios
Image caption Avengers: Endgame mendominasi pemutaran di bioskop-bioskop tanah air.

Sheila mengatakan pada, "2015 ke 2017 itu kenaikan yang tercatat itu 30%, jadi cukup tinggi sekali, gitu."

Tetapi secara umum, jumlah penonton film Indonesia masih kalah dibandingkan dengan film Hollywood.

"Jumlah penonton tertinggi ini masih di film Hollywood. Dan jumlah ini bisa mengalahkan jumlah penonton film Indonesia lainnya. Dan setiap kali film Hollywood yang besar itu keluar, pasti bioskop didominasi film-film Hollywood ini. Pasti mau tak mau film Indonesia tersingkir."

Sekalipun demikian, ada beberapa film yang mampu bersaing secara langsung dengan film-film Hollywood yang besar.

"Misalnya pada 2016 ketika AADC2 dan My Stupid Boss keluar, kita bisa compete (bersaing) dengan film-film Hollywood. Jadi dengan arti kita bisa mendapat layar yang setara atau lebih dari film-film Hollywood itu."

Pengelola akun Bicara Box Office Sigit Prabowo juga melihat film Indonesia bisa berhadapan langsung dengan film superhero Hollywood.

"Contoh yang paling klasik adalah kesuksesan di tahun 2016, di mana ketika Captain America: Civil War - itu juga salah satu film terlaris sampai saat ini masih masuk sepuluh besar film terlaris di Indonesia - tayang bersamaan dengan Ada Apa dengan Cinta 2. Itu menguasai bioskop ya. Penonton ketika itu cuma punya dua pilihan, mau Civil War atau AADC2. Yang terjadi adalah orang kemudian nonton dua duanya."

Hak atas foto Julia Alazka/BBC News Indonesia

Jumlah layar harus naik

Keberhasilan ini menurut produser film, Mandy Marahimin karena kualitas yang baik dari film-film tersebut.

"Kalau menurut saya, yang pertama adalah mereka punya package yang bagus. Jadi selain cerita yang bisa relate (terkait) sama orang-orang banyak, juga mereka berhasil menampilkan aktris dan aktor yang disukai oleh orang-orang. Walaupun aktor dan aktris ini tak selalu yang sudah terkenal."

Selanjutnya adalah bagaimana memanfaatkan momentum ini, kata Mandy.

"Pertama, jumlah layar harus naik. Dan ini di-support oleh bioskop-bioskop di Indonesia, sejak tahun 2018, begitu melihat jumlah penonton naik, mereka menambah jumlah layar. Begitu jumlah layar naik, jumlah penonton film juga meningkat. Kemudian kedua, kualitas film itu sendiri. Semua film yang mencapai sejuta ke atas, memiliki production value yang sangat baik," katanya.

"Jadi, film-film yang dibuat dengan production value yang tidak baik, itu semakin dijauhi penonton. Dan tentunya cerita ya. Cerita yang sangat engaging itu masih menjadi a big driver menurut saya," tambah Mandy.

Tantangan ke depan bagi film Indonesia, menurut pengelola akun Bicara Box Office Sigit Prabowo adalah dalam menghadapi penjadwalan film-film Hollywood.

"Karena film-film Hollywood yang dulunya hanya mendominasi periode tertentu, seperti summer dan holiday season ya, mulai dari thanksgiving, Christmas sampai new year, maka sekarang mereka kan sudah mempolakan year round blockbuster season. Mereka planting tanggal untuk Hollywood tentpole itu udah enggak teratur lagi bisa di Januari, Februari, Maret semuanya ada. Jadi makin tricky ke depan. Cuma saya percaya, dengan materi yang tepat, masih bisa bersaing ya."

Sigit mengatakan ia melihat nasib film Indonesia akan tetap baik dan mampu bersaing di bioskop dengan film Hollywood,

"Bioskop Indonesia menurut saya masih punya keunggulan. Materinya tepat, orang pasti datang. Ada negara-negara yang memiliki permasalahan sistemik tidak seperti itu. Udah film yang paling laris tetap admission tidak terlalu banyak seperti Australia misalnya. Kalau di kita, enggak ada masalah itu," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait