Tiga cerita perempuan: Debat tentang peran istri di Myanmar, inovasi pengasuhan anak di Korea Selatan, dan turunnya angka pernikahan di Cina

Seorang ibu memeluk anaknya Hak atas foto Getty

Perdebatan tentang peran ibu rumah tangga di Myanmar, inovasi tempat pengasuhan anak di Korea Selatan, dan upaya media Cina menangani turunnya angka pernikahan.

Tiga cerita di atas banyak dibicarakan di tiga negara itu.

Debat di Myanmar tentang ibu rumah tangga yang baik dimulai oleh mantan direktur kontes kecantikan untuk Miss Asia Pasific, Hla Nu Tun.

Dalam unggahannya ia menulis tentang 10 langkah yang harus dilakukan perempuan untuk menyenangkan suami.

Apa yang perlu disiapkan istri termasuk menyiapkan pasta gigi, makan pagi, dan memastikan bau penghilang cat kuku tidak tercium di rumah.

Unggahan seperti itu tak mengejutkan memicu debat. Pada unggahan awal, terdapat sekitar 13.000 komentar.

Salah seorang pengguna Facebook menulis, "Unggahan Anda harusnya berjudul, 'Bagaimana menjadi budak.'"

"Saya yakin suaminya tak akan berterima kasih atas apa yang ia lakukan," komentar yang lain.

Hak atas foto NICOLAS ASFOURI
Image caption Sekolah ketrampilan perempuan di Yangon, Myanmar.

Tapi ada juga segelintir orang yang mendukung ide Tun.

"Banyak orang mengerti pesan yang ingin Anda sampaikan. Saya berjuang bersama Anda," kata salah seorang pengguna media sosial.

Bunyi komentar lainnya: "Hari gini banyak perempuan yang tidak melakukan apa-apa selain belanja dengan uang suaminya. Banyak perempuan yang memberikan komentar negatif di sini berpikir bahwa berhubungan seks dengan suami mereka sudah cukup untuk menjadi istri yang baik."

Meski mendapat reaksi keras di dunia maya, Tun bersikeras bahwa 10 kiatnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik adalah aturan yang ketat tapi ia juga mengatakan bahwa "menerapkan pengaturan peran yang fleksibel dalam pernikahan dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi jumlah perceraian".

Ia berkata kepada BBC bahwa kiat-kiatnya adalah "langkah sederhana dan murah untuk menghangatkan rumah tangga dan memperkuat ikatan emosional", tapi ia juga percaya bahwa "pekerjaan domestik bukan hanya pekerjaan perempuan."

Kontroversi ini adalah bagian dari debat yang lebih luas tentang peran yang perlu dimainkan perempuan di Myanmar seiring negara tersebut membuka diri setelah berada di bawah pemerintahan militer selama puluhan tahun.

Yee Yee Aung, wartawan BBC News Myanmar, berkata bahwa ini adalah masa perubahan.

"Semakin banyak perempuan di Myanmar menantang peran gender, dan perdebatan tentang unggahan ini menunjukkan bahwa perempuan lebih vokal tentang pandangan mereka," ujarnya.

Para ibu di Seoul mengubah wajah tempat kerja

Berusaha menyeimbangkan karier yang sukses dengan tanggung jawab sebagai ibu adalah tantangan bagi banyak perempuan di dunia.

Itulah kenapa pekan ini, cerita dari Seoul, Korea Selatan, menarik perhatian saya.

Tiga bos perempuan di perusahaan konsultan kecil 'Ginger Tea Project' membolehkan dan mendorong para staf untuk membawa anak-anak mereka ke kantor.

Terdapat area bermain bagi anak-anak di dekat meja kerja. Di tempat itu ada permainan papan, mainan blok bangunan, dan papan tulis kapur. Para ibu duduk di meja ruang rapat, sementara anak-anak sibuk membuat jadwal bermain mereka sendiri.

Dan setelah banyak pegawai yang melakukannya, itu menjadi hal biasa.

Hak atas foto Lara Owen - BBC World Service
Image caption Setelah dibolehkan membawa anak ke tempat kerja, para staf di Ginger Tea Project bisa menyeimbangkan peran mereka sebagai ibu dan karier mereka.

Hong Ju-eun bercerita bahwa dalam pekerjaannya yang sebelumnya, ia selalu merasa berat hati ketika meninggalkan anak-anaknya untuk pergi bekerja.

"Di pagi hari anak saya menarik-narik celana saya sambil menangis dan saya pun ikut menangis karena hati saya hancur — selama 6 bulan anak laki-laki saya dan saya menangis bersama," kata Hong Ju-eun kepada BBC Korea.

Salah satu pendiri 'Ginger Tea Project' Seo Hyun-sun mengatakan, hal itu mengubah cara dia melihat pekerjaan.

"Saya tidak sering berpikir untuk meninggalkan karir saya lagi karena sekarang putra saya telah melihat apa yang saya lakukan dan dengan siapa saya bekerja di tempat kerja, ia dapat mengontekstualisasikan apa yang saya lalui sebagai ibu yang bekerja. Ia lebih pengertian ketika saya stres karena pekerjaan.

"Selalu ada perasaan bersalah sebagai ibu yang bekerja dan lingkungan yang fleksibel ini telah sangat membantu saya untuk mengurangi perasaan itu," ujarnya.

Perusahaan konsultan tempat mereka bekerja sedang meneliti pengaturan kerja yang fleksibel dan berharap dapat memengaruhi perusahaan lain untuk mengikuti jejak mereka.

'Saya tidak ingin menikah'

BBC News China menggunakan YouTube untuk membahas mengapa perempuan Cina yang menikah semakin sedikit. Tren tidak menikah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di tahun 2011, ketika saya tinggal di Beijing, banyak teman wanita saya bertanya-tanya bagaimana mungkinkah memiliki anak dan karier yang baik.

Tapi tren ini semakin mengkhawatirkan pemerintah China karena angka kelahiran yang rendah. Angka perkawinan telah mencapai titik terendah baru sejak 2013, dengan hanya 7,2 dari 1000 orang yang menikah pada tahun 2018, menurut Biro Statistik Nasional China.

Media pemerintah China, People's Daily, bahkan membuat tagar "Mengapa Anda tidak menikah?" (#你为啥不结婚#).

Hak atas foto Jie Zhao
Image caption Perempuan di China lebih mandiri secara ekonomi karena mendapat akses yang lebih baik ke pendidikan tinggi.

Perempuan lebih mandiri secara ekonomi karena mendapat akses yang lebih baik ke pendidikan tinggi. Untuk pertama kalinya pada tahun 2009, jumlah mahasiswa perempuan melampaui mahasiswa laki-laki, dan pada tahun 2010 jumlah mahasiswa pascasarjana perempuan mencapai 50%.

Semakin banyak perempuan yang memilih karier mereka daripada mengeluarkan ongkos untuk memulai rumah tangga. Pada tahun 2018, survei terhadap warga lajang di negeri Tiongkok menemukan bahwa 70% responden berpikir bahwa mereka perlu membeli rumah untuk pernikahan.

Dan pada saat yang sama, ada wanita-wanita lajang yang ingin memiliki anak tanpa pasangan. Tapi itu tidak mudah.

A Lan, 27 tahun, akhirnya harus mengunggah video di media sosial untuk meminta donor sperma setelah tidak dapat menemukan bank sperma yang mau menerimanya sebagai seorang wanita lajang.

"Saya tidak menginginkan kehidupan pernikahan... Saya lebih suka hidup sendiri. Tapi saya ingin punya bayi," katanya.

Hak atas foto Tencent QQ - A Lan
Image caption A Lan mengunggah video di media sosial untuk mencari donor sperma,

Dalam cerita-cerita ini Anda bisa melihat bagaimana perempuan di Asia menolak untuk tunduk pada peran gender tertentu, atau menerima reaksi keras karena mendukung tradisi tersebut.

Apakah soal gagasan tentang menjadi ibu rumah tangga yang baik, kebutuhan untuk menikah, atau dikotomi semu antara menjadi wanita karier atau ibu yang berbakti, jelas bahwa beberapa perempuan di Asia Timur tidak berniat untuk patuh pada tradisi.

Topik terkait

Berita terkait