Masyarakat terpencil di Afrika gunakan layar lebar yang diangkut keledai untuk sosialisasi kesehatan dan perbankan

Keledai Hak atas foto Commuity tablet
Image caption Seekor keledai menarik gerobak yang membawa layar lebar, cara sederhana namun efektif untuk berbagi konten untuk warga di wilayah terpencil.

Masyarakat di Mozambik belajar tentang kesehatan, perbankan, dan memilih presiden lewat layar interaktif berukuran raksasa.

Di tahun 2016, teknologi telepon seluler yang belum pernah terlihat sebelumnya, meluncur ke sebuah desa terpencil Funhalouro.

Seekor keledai mengangkut empat layar raksasa bertenaga surya.

Layaknya pertunjukan keliling, layar raksasa diangkut dengan suara musik untuk menarik perhatian masyarakat, lalu memutar film selama tiga menit dan menontonnya lewat layar lebar.

Meski topik tentang literasi digital kurang menarik minat para warga yang menonton, banyak dari mereka yang belum pernah melihat layar atau gambar bergerak.

Usai penayangan film, warga diundang untuk menggunakan tablet layar sentuh yang lebih kecil untuk menjawab serangkaian pertanyaan tentang apa yang telah mereka saksikan.

Panitia menyediakan hadiah berupa kaus dan topi bagi mereka yang mendapat skor tertinggi.

Bagi mereka yang tidak bisa membaca, pertanyaan diajukan dalam bentuk diagram.

Hak atas foto Community Tablet
Image caption Salah satu elemen penting dari proyek ini adalah untuk menguji, melihat seberapa banyak orang telah memahami teknologi.

"Ketika kami tiba di pemukiman warga, kami mencoba dan menjadikannya sebuah pesta," kata Dayn Amade, pendiri proyek Tablet Community.

"Kami ingin menarik perhatian orang-orang dan kami melakukannya dengan musik."

Negara di benua Afrika diproyeksikan memiliki 634 juta pengguna seluler pada 2025, naik dari 250 juta pada akhir 2017, menurut Asosiasi GSM, persatuan operator seluler.

Adopsi teknologi seluler telah mengubah kehidupan, dari memberi jalan kepada orang-orang untuk pergi ke bank untuk pertama kalinya, hingga membantu petani meningkatkan hasil panen.

Tetapi beberapa negara memiliki tarif yang lebih baik dibanding yang lainnya.

Sementara di Kenya, penetrasi seluler adalah sebanyak 91%, sedangkan di Mozambik warga yang memiliki koneksi ke telepon seluler kurang dari 50% dari 31 juta total populasinya.

Hak atas foto Community tablet
Image caption Bagi sebagian orang, tablet merupakan interaksi pertama mereka dengan layar sentuh.
Hak atas foto Community tablet
Image caption Proyek tersebut dimulai dengan suara musik untuk menarik perhatian warga.

Proyek Community Tablet memiliki tujuan untuk mengisi kesenjangan ini dan hiburan hanyalah awal dari titik nyata pertunjukan keliling untuk mendidik dan memberdayakan komunitas terpencil dan pedesaan tentang berbagai topik, dari kesehatan masyarakat hingga perbankan seluler, hingga pentingnya mengambil bagian dalam pemilihan umum.

Amade, yang lahir di Mozambik, mendapatkan gagasan itu ketika ia menyaksikan kedua putranya yang masih kecil begitu kecanduan tablet dan seberapa cepat mereka belajar membuat benda dengan menonton tutorial lewat YouTube.

"Saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa ini dapat digunakan di masyarakat pedesaan, di mana orang tidak dapat melakukan hal-hal dasar karena mereka tidak pernah memiliki panduan," katanya.

Hak atas foto Community tablet
Image caption Dayn Amade memperoleh gagasan itu dengan memperhatikan anak-anaknya menggunakan perangkat tablet.

Ada banyak inisiatif untuk meningkatkan penggunaan teknologi di negara-negara seperti Mozambik, seringkali dengan hasil yang tidak merata.

Proyek lain bernama The One Laptop Per Child, misalnya, memiliki tujuan untuk mengubah pendidikan tetapi gagal memenuhi janjinya.

Inovasi yang hemat

"Realitas Afrika berarti eksperimen seperti The One Laptop Per Child atau cara lain mendistribusikan ponsel, sayangnya karena berbagai alasan prakarsa itu tidak berhasil," kata Amade.

"Tidak mungkin untuk memberikan tablet kepada semua orang - itu terlalu mahal dan Anda tidak tahu apakah mereka akan menggunakannya atau akan menjualnya."

Biasanya materi pendidikan diteruskan melalui komunitas teater atau bioskop.

Seorang blogger di Liberia biasanya dengan susah payah menulis berita di papan tulis untuk komunitasnya yang tidak memiliki telepon atau akses ke surat kabar, radio, atau TV.

Terkadang, berbagai gagasan sederhana itu adalah yang terbaik, kata Ken Banks, seorang inovator di bidang telepon seluler untuk Afrika dan juga kepala dampak sosial di perusahaan digital ID Yoti.

"Proyek-proyek seperti Community Tablet adalah contoh yang bagus dari inovasi yang tepat dan hampir hemat - berfokus pada apa yang berhasil daripada apa yang terlihat bagus," katanya.

"Kami memiliki kemampuan untuk menyelesaikan banyak masalah pengembangan dengan alat yang tersedia saat ini - tetapi seringkali kami terlalu sibuk mengejar inovasi cemerlang berikutnya."

Amade setuju bahwa itu adalah solusi yang sangat sederhana, menggambarkannya sebagai "cara yang memadai untuk menyediakan pendidikan digital kepada orang-orang di komunitas pedesaan".

"Itu aman dan kuat. Tidak bisa dipatahkan dan tidak bisa dicuri," katanya.

Hak atas foto Community tablet
Image caption Sesudah menyajikan berbagai pertunjukan, panitia melakukan serangkaian tes dan mereka yang berhasil menjawabnya mendapat hadiah kaus dan topi.

Proyek ini menghasilkan uang dari organisasi nonpemerintah (LSM), banyak di antaranya telah berusaha menjangkau masyarakat terpencil melalui metode yang lebih tradisional, seperti para dosen dan membagikan pamflet.

"Jika orang-orang mendapat pamflet, mereka membuangnya. Dan kebanyakan orang tidak mendengarkan setelah dua atau tiga menit," kata Amade.

"LSM pergi ke komunitas-komunitas ini untuk menyelesaikan masalah spesifik, tetapi masalahnya tetap karena orang-orang itu belum mengerti. Dengan sistem kami, orang-orang mendengarkan, berinteraksi dan kemudian kami mengujinya."

Banyak proyek telah menemui hasil nyata, menurut Amade:

  • Setelah kampanye pendidikan kewarganegaraan, pemungutan suara meningkat 45%
  • Kampanye keluarga berencana mengalami peningkatan, jumlah pengguna kontrasepsi naik sebesar 27%
  • Kampanye inklusi keuangan membuat lebih banyak orang membuka rekening baru di bank sebesar 68%

Amade sudah melakukannya selama tiga tahun terakhir, mengunjungi 90 komunitas di daerah terpencil Mozambik.

Dan ia telah mempelajarinya, termasuk bagaimana menyesuaikan teknologi untuk menjelaskan jalan-jalan berlubang dan berdebu di negara itu dan bagaimana mengubah konten agar sesuai dengan komunitas tertentu.

Satu video animasi, menjelaskan pentingnya kebersihan untuk mencegah kolera, membuat satu komunitas yang sebagian besar Muslim merasa ngeri, karena menunjukkan seseorang mengusap pantat mereka dengan tangan kanan, tangan yang sama digunakan untuk makan.

"Saya telah membuat kesalahan selama ini dan terkadang konten bisa menyinggung," kata Amade.

Sekarang, semua konten ditampilkan kepada para antropolog dan psikolog yang berbasis di Universidade Eduardo Mondlane, sebuah universitas di Maputo.

"Pelibatan antropolog menjadi penyegaran dan merupakan bagian besar dari cerita," kata Banks.

"Idealnya antropologi ditempatkan untuk membantu kita memahami konteks lokal, budaya, ekonomi, dan geografi - namun banyak proyek gagal melibatkan mereka. "

Hak atas foto Community Tablet
Image caption Setelah menonton film, masing-masing orang didorong untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka saksikan dan pelajari.

Proyek Community Tablet telah diberikan hak paten Inggris dan Amade sekarang sedang mencari hak waralaba.

Ia berharap untuk bisa berkembang di luar Mozambik dan membuat terobosan ke komunitas perkotaan.

Ia sudah bereksperimen dengan menggunakan sistem di sekolah-sekolah untuk memberikan saran tentang karier untuk anak-anak.

Dan bagi mereka yang tidak memiliki akses mewah berupa pendidikan, tablet bisa menjadi perangkat yang sangat kuat, katanya.

"Realitas Mozambik adalah bahwa kualitas pendidikan sangat buruk dan itu sebabnya kami tetap miskin karena orang tidak diberdayakan dengan benar," kata Amade.

"Dengan menjelaskan kepada orang-orang dan menunjukkan kepada mereka, Anda dapat memecahkan banyak masalah, termasuk kemiskinan di tempat tinggal kita," katanya.

Topik terkait

Berita terkait