Kemiskinan membuat perempuan Asia lebih sulit membeli produk terkait menstruasi

Women's hands holding sanitary products Hak atas foto Getty Images

Beberapa perempuan Asia menghadapi kenyataan pahit terkait menstruasi: mereka tak sanggup membeli produk yang berkaitan dengan menstruasi.

Sebuah analisa BBC membandingkan biaya produk terkait menstruasi di 21 negara dan wilayah di Asia. Hasilnya, perempuan di Pakistan menghabiskan biaya paling besar untuk menstruasi mereka.

Perempuan di Pakistan menghabiskan sekitar 6% pendapatan bulanan mereka untuk produk menstruasi, seperti pembalut, krim dan obat penghilang rasa sakit. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat proporsi rata-rata yang dihabiskan satu rumah tangga di Pakistan untuk biaya kesehatan dan pendidikan.

Di Indonesia, perempuan mengeluarkan 1,7% penghasilan bulanan mereka untuk mengendalikan menstruasi, ini sekitar 20% lebih tinggi daripada rata-rata perempuan di negara-negara lain yang dianalisa. Dalam masa hidupnya, perempuan di Indonesia menghabiskan Rp16,9 juta untuk mengendalikan menstruasi.

Selagi percakapan ini menjadi perhatian publik, bermunculan inisiatif untuk menghapuskan "kemiskinan terkait menstruasi". Upaya-upaya ini mendapat perhatian.

Tampon dan pembalut tetap merupakan produk populer di Asia. Namun sejumlah perempuan beralih ke produk yang bisa dipakai ulang.

'Ambil jika butuh'

Sebuah kotak kecil tergantung di dinding toilet di stasiun kereta di Seoul. Sebuah catatan tertera di situ, "Kepada perempuan tuna wisma, ini untuk Anda. Ambillah jika perlu."

"Mohon menyumbang pembalut menstruasi untuk tuna wisma yang tak mampu membelinya."

Kotak sumbangan pembalut ini merupakan inisiatif dari tiga orang pelajar di Seoul Institute of the Arts.

Proyek ini diberi nama 1/5 project. Survei menemukan kebiasaan perempuan Seoul untuk membawa 5 pembalut saat sedang menstruasi. Proyek ini mengusulkan agar satu dari lima pembalut itu disumbangkan kepada tuna wisma.

Hak atas foto Jaeha Woo

Didirikan pada bulan November 2017, proyek ini diujicoba selama tiga minggu di Yeongdeungpo Station di Seoul, dimana banyak tuna wisma menghabiskan waktu di stasiun itu.

"Terlepas dari gender saya, menurut saya kampanye ini penting sekali. Laki-laki Korea harus terlibat secara aktif dalam memecahkan persoalan perempuan tuna wisma yang kurang beruntung," kata Jaeha Woo, 26 tahun.

Hak atas foto Jaeha Woo

Pada awalnya, butuh waktu untuk meyakinkan petugas di stasiun bahwa masalah seperti ini memang ada di Korea Selatan.

Juru bicara operator kereta di Korea Selatan Korail menyatakan kepada SBS: "Kami awalnya tak yakin jika kotak itu akan sukses. Bahkan, kami pikir tadinya jika tak ada yang mengisi kotak itu dengan pembalut, kami yang akan mengisinya. Tapi ternyata secara rutin ada yang mengisi dan mengambilnya".

Menurut survei yang diterbitkan tahun 2018 oleh Seoul Metropolitan Government, 21% dari tuna wisma di Seoul adalah perempuan. Ini jumlahnya sekitar 732 orang.

Tahun 2016, the Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan mengadakan survei di seluruh negeri dan menemukan bahwa 25,8% tuna wisma adalah perempuan. Survei ini juga menemukan bahwa tuna wisma perempuan lebih sering mengalami kekerasan dan pelecehan dibandingkan tuna wisma laki-laki.

Hak atas foto Jaeha Woo

Proyek ini masih berlangsung dan sekarang ada delapan kotak dipasang di stasiun kereta.

Proyek ini demikian sukses, kemudian diperluas mencakup pemberian sumbangan mingguan di fasilitas yang disebut Neonadri, berlokasi di Ansan, di luar ibukota Seoul. Sumbangan ini untuk membantu anak perempuan yang lari dari rumah atau diusir dari rumah mereka.

Pada bulan Oktober 2018, kota Seoul membuat proyek pilot untuk menyediakan pembalut gratis bagi perempuan di sepuluh gedung publik. Tahun ini diharapkan Seoul akan mengumumkan pembalut gratis bagi perempuan muda, dan biaya yang akan dikeluarkan diperkirakan mencapai 41.1 miliar won ( sekitar Rp496 trilyun).

Kwon Soo-jeong, anggota Seoul Metropolitan City, told mengatakan kepada Korea Times, "Kami berencana memulai sebuah program pemberian pembalut kepada seluruh perempuan".

Hak atas foto Jaeha Woo
Image caption Professor Lee Muyeol membantu kampanye yang dilakukan ketiga mahasiswanya: Choi Jinhong, Kim Soyoung dan Woo Jaeha.

Solusi dalam negeri untuk pembalut menstruasi

Sebagai satu dari tujuh perempuan bersaudara, Arya Yogini, 35 tahun, tahu tantangan mengatur kesehatan menstruasi. Yogini tinggal di Bhutan, sebuah negara kecil dan terpencil dengan populasi 750.000 orang, terletak di pegunungan Himalaya.

Hingga akhir-akhir ini, produk kesehatan menstruasi harus diimpor, kebanyakan dari Thailand dan India.

Yagini kemudian memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai juru masak di tahun 2015 untuk membuat sebuah start-up. Dengan bantuan dana dari Lauden Foundation, Yogini dan timnya yang terdiri dari 7 orang perempuan kini menawarkan pembalut gratis ke sekolah-sekolah lokal.

Hak atas foto Arya Yogini
Image caption Arya Yogini dan pembalut buatannya

Kajian tahun 2018 oleh Unicef mengungkapkan sekitar 44% siswi sekolah dan 50% biarawati di Bhutan tertinggal pelajaran dan kegiatan lain selagi mengalami menstruasi.

Satu dari lima sekolah tak memiliki toilet dan air bersih untuk mencuci tangan dengan sabun. Hampir satu dari tiga sekolah tak punya toilet terpisah untuk anak laki-laki dan perempuan.

"Saya dulu harus berjuang di sekolah. Kami harus membiasakan menggunakan sepotong kain tua. Menstruasi bukan merupakan pilihan. Maka menurut saya setiap perempuan harus punya akses ke pembalut gratis," kata Yogini.

Yogini memiliki organisasi untuk membiayai pembalut gratis melalui program tanggung jawab sosial mereka, maka ia bisa mendistribusikan pembalut itu secara gratis ke sekolah-sekolah.

Hak atas foto Arya Yogini

Satu pak berisi tujuh pembalut dihargai 35 ngultrum, atau sekitar Rp7.200.

Mereka masih mengimpor bahan baku alamiah dari luar negeri dan sekalipun Yogini berupaya menekan harga, hasilnya sama dengan pembalut yang diimpor dari India.

"Perempuan yang menggunakan produk kami mengatakan bahwa melihat pembalut buatan dalam negeri membuat mereka merasa lebih terbuka terhadap hal yang tabu terkait menstruasi."

Hak atas foto Arya Yogini

Perempuan Thailand yang membuat mangkok menstruasi

Woranuch Suksaeng, 30, salah satu dari perempuan Thailand yang beralih dari pembalut ke mangkok menstruasi.

Ia ingin mengurangi sampah, dan kini menyebut mangkok menstruasi "mengubah hidupnya".

Hak atas foto Tossapol Chaisamritpol
Image caption Woranuch Suksaeng dan mangkok menstruasi buatannya.

"Mangkok menstruasi juga membantu saya mengenali bagian genital dan menstruasi saya ketika saya mencoba memasangnya ke vagina saya. Saya bisa melihat darah menstruasi saya," kata Suksaeng.

Suksaeng melakukan riset sebelum membeli mangkok menstruasi secara daring. Harganya 1.000 baht (Rp451.000) dan ia masih menggunakan mangkok yang sama hingga kini.

Hak atas foto Tossapol Chaisamritpol

Ia kin menyarankan perempuan lain untuk mencoba mangkok menstruasi dan mengatasi rasa takut mereka.

"Saya menghemat sekitar 1.200 baht (£30) selama setahun dengan tidak membeli pembalut," katanya.

Reportase tambahan oleh Tossapol Chaisamritpol danHyung Eun Kim.

Ilustrasi oleh Katie Horwich.

Berita terkait