Mencari kebenaran di kamp 're-edukasi' Muslim Uighur di China

Seorang pria memainkan alat musik di dalam kamp.
Image caption China mengatakan mereka yang berada di dalam kamp sedang dalam proses menuju perubahan.

Wilayah Xinjiang di China adalah rumah bagi jutaan etnis Uighur Muslim yang telah tinggal di sana selama puluhan tahun. Kelompok-kelompok HAM mengatakan ratusan ribu orang telah ditahan di kamp-kamp tanpa melalui pengadilan, tapi China mengklaim bahwa mereka secara sukarela menghadiri pusat-pusat kegiatan yang melawan "ekstremisme". BBC masuk ke dalam salah satu kamp itu.

Saya pernah berkunjung ke salah satu kamp.

Tapi saya hanya bisa melihat sekilas kawat berduri dan menara pengawas dari dalam mobil yang sedang lewat, sementara petugas polisi berpakaian preman yang mengekor kami berusaha menghentikan kami melihat lebih dekat.

Kali ini, saya diundang ke dalam.

Risiko menerima undangan ini jelas. Kami dibawa ke tempat-tempat yang tampaknya telah dipermak dengan hati-hati. Gambar satelit mengungkap bahwa banyak infrastruktur keamanan baru saja disingkirkan.

Dan satu demi satu orang-orang yang kami ajak bicara di dalam, beberapa di antara mereka tampak gugup, menceritakan kisah-kisah yang serupa.

Image caption Bangunan kamp dengan pengamanan ketat di Xinjiang.

Semuanya adalah bagian dari kelompok etnis terbesar dan mayoritas Muslim di Xinjiang — Uighur. Mereka berkata telah "terinfeksi ekstremisme" dan mengajukan diri untuk "mengubah pikiran" mereka.

Inilah narasi China dari mulut orang-orang yang dipilih untuk kami, dan mereka mungkin berada dalam bahaya jika dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Apa konsekuensinya jika mereka kelepasan berbicara? Bagaimana kita bisa memisahkan dengan cermat antara kenyataan dan propaganda?

Para radikal yang terlahir kembali

Ada banyak preseden untuk dilema liputan seperti ini.

Misalnya tur pers yang sangat terorganisir di penjara Abu Ghraib yang dikelola AS di Irak pada tahun 2004, menyusul skandal penganiayaan. Reporter digiring menjauh dari para tahanan yang berteriak-teriak minta suara mereka didengar, beberapa orang berteriak sambil melambaikan kaki palsu mereka.

Atau akses media yang jarang dan terbatas pada pusat detensi imigrasi Australia.

Dan pada tahun 1930-an dan 1940-an, Jerman mengadakan kunjungan media ke Sonnenburg dan Theresienstadt, yang dirancang untuk menunjukkan betapa "manusiawinya" mereka.

Dalam semua situasi tersebut, reporter menyaksikan cerita yang sangat penting bagi dunia, tapi dipaksa memberitakannya dengan akses yang terbatas atau dikontrol dengan ketat kepada pihak-pihak yang paling terdampak olehnya.

Tapi di Xinjiang, ada satu perbedaan besar. Pihak berwenang memberikan akses tidak hanya untuk menunjukkan bahwa kondisi di dalam fasilitas baik, mereka juga ingin membuktikan bahwa fasilitas tersebut sama sekali bukan penjara.

Pihak berwenang memperlihatkan orang-orang dewasa yang duduk berbaris di meja sekolah di dalam ruangan kelas yang terang benderang, bernyanyi serempak sambil belajar bahasa China.

Image caption Orang-orang dewasa tampak duduk berbaris, belajar di dalam ruangan kelas yang terang-benderang.

Beberapa orang menampilkan pertunjukan musik dan tarian yang sangat rapi bagi kami; mereka mengenakan kostum etnis tradisional, berputar-putar di sekitar meja mereka, dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah mereka.

Dan apa yang tampak jelas ialah pejabat pemerintah China yang menemani kami percaya sepenuh hati pada narasi yang ditunjukkan, beberapa dari mereka hampir menitikkan air mata ketika melihatnya.

Orang-orang ini dipaksa mengakui telah terlahir kembali. Dahulu teradikalisasi dan penuh kebencian terhadap pemerintah China, sekarang mereka berada di jalan perubahan berkat intervensi yang tepat waktu dan murah hati dari pemerintah tersebut.

Pesannya ialah: Barat bisa belajar banyak dari sini.

Merujuk pada tanggal ketika kebijakan re-edukasi dimulai, seorang pejabat senior menatap mata saya dengan tajam.

"Tidak ada satu pun serangan teror di Xinjiang dalam 32 bulan," ujarnya. "Ini tugas patriotik kami."

'Oh hatiku jangan hancur'

Tapi dalam menerima akses ini, tugas kami ialah berusaha mengintip di balik pesan resmi dan meniliknya secermat mungkin yang kami bisa.

Kami mengambil gambar beberapa grafiti, ditulis dalam bahasa Uighur, yang belakangan kami terjemahkan.

Pada satu grafiti tertulis "Oh hatiku jangan hancur". Grafiti lainnya dalam bahasa China hanya berbunyi: "Selangkah demi selangkah."

Image caption Semua laki-laki di dalam camp mengenakan pakaian olahraga warna biru sebagai "seragam".

Ada jawaban-jawaban dalam wawancara lebih lanjut dengan para pejabat pemerintah, yang mengungkap banyak tentang sifat sistem ini.

Mereka di dalam kamp "nyaris menjadi kriminal," kata mereka. Muslim Uighur dipandang sebagai ancaman bukan karena mereka telah melakukan kejahatan, tapi karena mungkin memiliki potensi untuk berbuat jahat.

Dan ada pengakuan bahwa, ketika diidentifikasi memiliki kecenderungan ekstremis, mereka diberikan pilihan – tapi tidak banyak.

Pilihannya ialah "memilih antara persidangan atau pendidikan di fasilitas de-ekstremisasi".

"Kebanyakan orang memilih belajar," kami diberi tahu. Tidak mengherankan, mengingat peluang mereka mendapatkan persidangan yang adil.

Dan kami tahu, dari sumber lain, bahwa definisi ekstremisme kini ditarik sangat lebar — punya jenggot panjang, misalnya, atau sekadar menghubungi saudara di luar negeri.

Kami melihat asrama tempat para "ekstremis" ini tidur, sampai 10 orang per kamar, di ranjang tingkat dengan satu toilet di ujung, ditutupi hanya dengan selembar kain tipis.

Image caption Kamar mandi di dalam asrama perempuan.
Image caption Satu kamar di asrama dapat menampung sampai 10 orang.

Dan kemudian ada pertanyaan hati-hati yang mengungkap banyak, bukan dalam apa yang mereka katakan, tapi yang tidak mereka katakan.

Saya bertanya kepada seorang pria, yang telah berada di dalam kamp selama delapan bulan, berapa banyak orang yang ia lihat "lulus" selama waktu itu.

Ada jeda sebentar sebelum ia menjawab. "Tentang itu, saya tidak tahu sama sekali," ujarnya.

Image caption Stiker bendera China berbentuk hati dapat ditemukan tertempel di loker.

Hanya satu suara dari dalam sistem penawanan massal yang diduga menahan lebih dari satu juta orang berdasarkan etnisitas dan keyakinan mereka.

Betapapun samar dan sunyinya, kita harus mendengarkan dengan saksama apa yang mungkin dikatakan suara itu kepada kita.

Topik terkait

Berita terkait