FaceApp: Bisakah Anda percaya pada aplikasi pengubah foto wajah buatan Rusia?

Teknologi Hak atas foto FACEAPP
Image caption FaceApp viral di media sosial, tapi seberapa banyak yang mengetahui syarat dan ketentuan penggunaannya?

Semua orang tengah membicarakan FaceApp, aplikasi yang dapat mengubah foto wajah seseorang ke versi yang lebih muda atau lebih tua.

Ribuan orang mengunggah wajah hasil eksperimen mereka di aplikasi tersebut ke media sosial.

Namun sejak pengubah wajah itu viral beberapa pekan terakhir, muncul perhatian tentang syarat dan ketentuan penggunaan aplikasi tersebut.

Sekelompok orang menduga perusahaan pembuat aplikasi ini menunggangi produk mereka untuk mengambil data pengguna.

Dalam keterangan resmi, FaceApp menyatakan menghapus sebagian besar foto pengguna dari pusat data mereka, setidaknya 48 jam setelah unggahan terakhir.

Perusahaan itu juga mengklaim hanya mengunggah foto yang dipilih dan diubah pengguna mereka, bukan foto-foto lainnya.

Apa dan bagaimana aplikasi FaceApp bekerja?

FaceApp bukanlah barang baru. Dua tahun lalu aplikasi ini menjadi pemberitaan karena fitur etnik mereka. Fitur itu bermaksud mengubah wajah seseorang dari satu ciri etnik tertentu ke entik lainnya.

Pengubah berbasis etnik itu memicu pro-kontra dan belakangan ditarik dari FaceApp.

Hak atas foto OLLY GIBBS
Image caption FaceApp juga dapat diterapkan pada wajah hasil lukisan cat minyak.

Proses pengubah wajah itu dapat membuat wajah menjadi lebih tua atau menjadikan tampang menggerutu menjadi wajah yang tersenyum. Aplikasi itu juga dapat mengubah gaya rias wajah.

Aplikasi tersebut beroperasi atas bantuan sistem kecerdasan buatan. Sebuah algoritma mengambil sampel wajah Anda, lalu menyesuaikannya pada contoh wajah lainnya.

Memasukkan wajah tersenyum yang memperlihatkan gigi pun menjadi memungkinkan, termasuk menyesuaikan garis di sekitar mulut, dagu, dan pipi untuk tampilan lebih natural.

Lantas apa persoalannya?

Keterkejutan dan ketidaksepahaman belakangan muncul saat pengembang aplikasi ini, Joshua Nozzi, mencuit bahwa FaceApp mengunggah mengambil foto dari ponsel pintar pelanggan mereka tanpa izin.

Peneliti keamanan siber asal Perancis, Elliot Alderson pun menginvestigasi kebenaran pernyataan tersebut.

Alderson menemukan, tidak ada unggahan dalam jumlah besar yang terjadi. Menurutnya, FaceApp hanya mengambil foto yang dimasukkan pengguna.

Dalam konfirmasi kepada BBC, FaceApp juga mengatakan hal serupa.

Bagaimana tentang pengenal wajah?

Sejumlah pihak menduga FaceApp menggunakan foto-foto pengguna mereka untuk menguji algoritma pengenal wajah.

Proses itu diduga dapat dilakukan setelah berbagai foto tersebut dihapus. Alasannya, pengukuran fitur wajah seseorang memang dapat diambil dan digunakan untuk tujuan itu.

"Tidak, kami tidak menggunakan foto semacam itu untuk menguji sistem pengenal wajah," ujar direktur operasional perusahaan pemilik FaceApp, Yaroslav Goncharov.

"Kami menggunakannya hanya untuk proses mengubah wajah," tuturnya kepada BBC News.

Benarkah demikian?

Tidak sepenuhnya begitu. Sejumlah pihak mempertanyakan alasan FaceApp harus mengunggah foto ke pusat penyimpanan data mereka, di saat aplikasi itu secara teori dapat memproses perubahan wajah di ponsel pontar pengguna.

Dalam kasus FaceApp, pusat data yang menyimpan foto pengguna berlokasi di Amerika Serikat. Adapun, FaceApp adalah perusahaan yang terdaftar di Rusia dan bermarkas di St Petersburg.

Pengamat keamanan siber, Jane Manchun Wong, menyebut metode kerja itu memberi keuntungan bagi FaceApp. Menurutnya, pengembang aplikasi serupa bakal sulit mempelajari bagaimana algoritma FaceApp bekerja.

Steven Murdoch, peneliti di University College London, sepakat dengan penilaian tersebut.

"Akan lebih baik bagi privasi publik saat perubahan foto terjadi di ponsel mereka, walau prosesnya akan lebih lambat, menggunakan lebih banyak baterai, dan memungkinkan teknologi FaceApp dicuri," kata Murdoch kepada BBC News.

Pengacara asal Amerika Serikat, Elizabeth Potts Weinstein berkata, syarat dan ketetentuan aplikasi itu memuat pernyataan bahwa foto pengguna dapat digunakan untuk keperluan komersil, salah satunya iklan FaceApp.

Lance Ulanoff, pimpinan redaksi di situs berita teknologi Lifewire, menanggapinya dengan menunjuk syarat dan ketentuan penggunaan Twitter yang memuat klausa serupa.

Apakah pengguna mengetahui perihal ini?

Bagi beberapa orang, ini adalah inti persoalan. Pegiat hak privasi, Pat Walshe, mempersoalkan kebijakan FaceApp yang menyebut data pengguna dapat dilacak untuk kepentingan iklan.

FaceApp juga menyertakan Google Admob yang menghubungkan iklan Google kepada pengguna.

Walshe berkata kepada BBC, kebijakan ini dilakukan dalam nuansa yang tidak jelas. "Ketentuan ini gagal memberi pilihan dan kontrol penuh kepada pengguna," ujarnya.

Sementara itu, Goncharov menyebut kebijakan privasi FaceApp sangat umum. Menurutnya, pengelola aplikasi itu tidak menyebarkan data pengguna untuk tujuan iklan.

Goncharov mengatakan, FaceApp meraup keuntungan dari fitur premium berbayar.

"Ketentuan FaceApp memungkinkan perusahaan secara efektif berbuat apapun terhadap foto pengguna. Ini cukup mencuatkan pernyataan, walau awam dilakukan," kata Steven Murdoch dari University College London.

"Banyak perusahaan aplikasi tahu hampir semua orang tidak membaca kebijakan privasi, sehingga mereka meminta beragam hak, siapa tahu itu dapat berguna, walau dalam rencana umum itu tidak mereka butuhkan," ujar Murdoch.

Hak atas foto FACEAPP
Image caption FaceApp menawarkan beragam fitur perubahan wajah.

Apa lagi yang perlu dikatakan FaceApp?

Goncharov mengutip pernyataan FaceApp bahwa mereka hanya mengunggah foto yang dipilih pengguna. "Kami tidak pernah memindahkan foto lainnya ke pusat data kami," ujarnya.

"Kami barangkali menyimpan foto yang diunggah ke pusat penyimpanan data. Tujuan utamanya adalah performa dan lalu lintas data."

"Kami ingin memastikan pengguna tidak mengunggah foto berulang kali untuk setiap proses pengubahan foto."

"Sebagian besar foto dihapus dari penyimpanan kami 48 jam setelah pengunggahan," kata Goncharov.

Penyataan yang sama menyebut, saat FaceApp menerima permintaan pengguna untuk menghapus data, tim di balik sistem operasi aplikasi itu sebenarnya telah kelebihan informasi pelanggan.

FaceApp menyarankan pengguna memasukkan permintaan itu ke bagian pengaturan dan bantuan. "Laporkan kesalahan dan tambahkan 'privasi' dalam permohonan tersebut."

FaceApp juga mengklaim tidak mengirim data pengguna mereka ke Rusia.

Komisi Informasi Inggris (ICO) berkata kepada BBC bahwa mereka ikut memperhatikan kecemasan terkait FaceApp dan akan mempertimbangkan operasional aplikasi itu.

"Kami menganjurkan publik masuk ke aplikasi tertentu untuk mengecek yang bakal dilakukan pada data privasi mereka dan tak memberi informasi rinci sampai penggunaannya benar-benar jelas," kata juru bicara ICO.

Topik terkait

Berita terkait